Keseruan Belajar Kejujuran dan Kesopanan di Sanggar Candi Sapta Darma

- Kegiatan Semai #5 mengajarkan anak-anak nilai-nilai kerukunan umat beragama
- Anak-anak diajak belajar empati lebih mendalam dan menghargai cara-cara manusia Indonesia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa
- Semai #5 menjadi lanjutan dari rangkaian kegiatan Semai yang telah berlangsung sejak 2018
Letaknya berkelok-kelok melewati tanjakan jalan Bandungan Kabupaten Semarang. Namun jalur yang menantang itu tak menyurutkan semangat puluhan anak-anak untuk menyambangi Sanggar Candi Busana Blater.
Sanggar Busana Blater yang biasanya dipakai untuk tempat sembayang bagi penganut penghayat kepercayaan Sapta Darma, Minggu siang (11/1/2026) cukup ramai.
Sekelompok anak berusia 10-13 tahun yang sedang mengikuti kegiatan Anak Semarang Damai (Semai) #5 antusias mengunjungi Sanggar Busana Blater.
Kegiatan Semai #5 yang diinisiasi lembaga EIN Institute bersama Ikatan Karya Hidup Rohani Antar Religius (IKHRAR), dan Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) berusaha mengenalkan lebih mendalam nilai-nilai kerukunan umat beragama dengan melihat aktivitas penganut penghayat Sapta Darma.
Mula-mula anak-anak diajak mengenal sejarah Sapta Darma dan menyusunnya kembali dalam bentuk lini masa secara berkelompok.
Setelahnya, mereka mengikuti jelajah delapan pos pembelajaran yang membahas Wewarah Pitu dan Sesanti. Dilanjutkan nilai-nilai moral yang menjadi pedoman hidup dalam ajaran Sapta Darma.
Di setiap pos, anak-anak diajak berdiskusi tentang contoh penerapan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Menjelang siang, para peserta bersama-sama menaiki odong-odong menuju Sanggar Candi Busana Blater, tempat ibadah penghayat Sapta Darma guna mendapat penjelasan simbol-simbol, tata cara ibadah, serta praktik sujud
Debora Abigail, seorang anak Kristen yang ikut kunjungan ke Sanggar Busana Blater gembira bisa saling menyapa teman-teman yang beda agama.
Selama di dalam sanggar, ia melihat banyak hal baik yang diajarkan panitia acara. “Tadi aku baru tahu kalau Sapta Darma itu mengajarkan banyak hal baik, seperti jujur dan berbuat baik ke sesama. Aku juga senang punya teman baru yang agamanya beda-beda,” kata anak berusia 10 tahun ini.
Nareshwara Kenzie Kaharsayan yang berumur 11 tahun tak kalah bungahnya saat tiba di Sanggar Busana Blater. Kini ia bisa mendengar cerita utuh tentang penganut penghayat kepercayaan.
Ia juga lebih paham mengenai ajaran-ajaran penghayat. Lebih-lebih ia bisa kenal Sapta Darma sebagai komunitas penghayat yang mengajarkan sikap jujur, welas asih dan kesabaran.
"Setelah mendengar ceritanya tadi, ternyata isinya mengajarkan jadi jujur, sabar, dan menghormati orang lain. Jadi, meski cara ibadahnya beda, ajarannya bagus-bagus, sih," kata remaja Muslim tersebut.
Seorang pengelola Sanggar Candi Busana Blater menyambut kegiatan ini sebagai ruang dialog yang bermakna. “Kami bersyukur anak-anak datang dengan hati terbuka dan rasa ingin tahu,” ujar salah satu tuntunan sanggar.
Dwi Setiyani Utami, Ketua Perempuan Penghayat Indonesia (Puan Hayati) Jawa Tengah berkata sebetulnya walau banyak agama di Indonesia, tapi nilai luhurnya senantiasa mengajarkan budi pekerti dan kebajikan.
“Semoga perjumpaan ini menumbuhkan saling pengertian, bahwa meski jalan spiritual kita berbeda, nilai luhurnya sama-sama mengajarkan budi pekerti dan kebajikan,” tutur Dwi.
Kegiatan Semai ajarkan anak-anak belajar empati lebih mendalam
Ketua IKHRAR Rayon Semarang, Heri Irianto, FIC, menekankan pentingnya pendidikan keberagaman yang menyentuh pengalaman langsung anak.
"Anak-anak ini kelak akan hidup di masyarakat yang majemuk. Kalau sejak sekarang mereka dibiasakan berjumpa dan bersahabat dalam perbedaan, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang utuh, beriman, dan mampu hidup damai bersama siapa pun,” aku Heri.
“Belajar tentang Sapta Darma bukan hanya soal mengenal satu ajaran, tetapi juga tentang belajar menghargai cara-cara manusia Indonesia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa,” sambung Setyawan Budy, Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita).
Ellen Nugroho, Direktur Eksekutif EIN Institute menjelaskan adanya kegiatan Semai memang secara khusus menyasar anak-anak usia transisi. Karena cara pandang tentang benar–salah, kami dan mereka, mulai terbentuk dengan kuat.
Lewat Semai, anak-anak diajak berjumpa langsung, belajar dari sumbernya, dan membangun empati terhadap kelompok yang selama ini jarang dikenalkan, bahkan kerap distigma.
"Kami percaya, tidak ada anak yang terlahir membawa prasangka. Prasangka itu dipelajari. Dan karena ia dipelajari, ia juga bisa dilepaskan,” ujar Ellen.
Semai #5 menjadi lanjutan dari rangkaian kegiatan Semai yang telah berlangsung sejak 2018, dimulai dari Klenteng Tay Kak Sie, Pura Agung Giri Natha, Vihara Tanah Putih, hingga Susteran Gedangan.


















