Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
tanah gerak, jangli
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng meninjau langsung lokasi terjadinya pergerakan tanah di wilayah RT 7 RW 1, Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Rabu (11/2/2026) malam. (dok. Pemkot Semarang)

Intinya sih...

  • 15 rumah di Jangli, Semarang terdampak tanah gerak.

  • Pemerintah Kota Semarang siapkan opsi relokasi hunian terdampak.

  • Wilayah RT 7 RW 1, Kecamatan Tembalang menjadi fokus penanganan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Sebanyak 15 rumah di wilayah RT 7 RW 1, Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang terdampak tanah gerak. Atas kejadian tersebut, Pemerintah Kota Semarang menyiapkan opsi untuk merelokasi hunian yang terdampak itu.

1. Warga yang rumahnya layak huni masih bertahan

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng meninjau langsung lokasi terjadinya pergerakan tanah di wilayah RT 7 RW 1, Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Rabu (11/2/2026) malam. (dok. Pemkot Semarang)

Ketua RT 7 RW 1 Jangli, Joko Sudaryono, mengatakan warga saat ini melakukan gotong royong dan kerja bakti membongkar rumah yang dinilai membahayakan guna mengamankan material bangunan.

“Total ada 15 rumah terdampak. Hari ini yang dibongkar dua rumah yang kondisinya paling parah, milik Bapak Slamet Riyadi dan Bapak Budi Darminto. Sebelumnya ada satu rumah yang roboh sendiri, milik Bapak Supriadi,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).

Ia menambahkan, satu rumah lainnya milik warga bernama Supardi mengalami pergeseran cukup parah sehingga harus dikosongkan.

Untuk sementara, warga yang rumahnya masih layak huni tetap bertahan dengan meningkatkan kewaspadaan. Setiap malam, warga memberlakukan ronda dan pemantauan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

2. Dirikan tenda pengungsian

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng meninjau langsung lokasi terjadinya pergerakan tanah di wilayah RT 7 RW 1, Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Rabu (11/2/2026) malam. (dok. Pemkot Semarang)

“Kalau yang rumahnya berisiko tinggi, kami imbau untuk waspada. Saat ini BPBD juga telah mendirikan tenda pengungsian yang diperuntukkan bagi warga terdampak,” katanya.

Pergerakan tanah di Jalan Jangli, dilaporkan terus bertambah. Sejak tadi malam hingga pagi hari, tanah bergerak sekitar dua meter, sehingga lebar retakan kini mencapai kurang lebih lima meter dan tidak bisa lagi dilalui kendaraan, termasuk sepeda motor.

“Radius terdampak kurang lebih 70 meter. Tapi masih di wilayah RT 7 RW 1,” tambah Joko.

Warga berharap adanya relokasi ke lokasi yang lebih aman, namun masih berada di sekitar tanah yang sama. Menurut Joko, masih terdapat lahan yang memungkinkan untuk relokasi sekitar 15 rumah terdampak, meski luasnya terbatas.

3. Pemkot siapkan beberapa alternatif lokasi relokasi

Lokasi terjadinya pergerakan tanah di wilayah RT 7 RW 1, Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. (dok. Pemkot Semarang)

Sementara, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng meninjau langsung lokasi terjadinya pergerakan tanah, Rabu (11/2/2026) malam. Usai tinjauan Agustina mengatakan, peristiwa tanah gerak ini bukan kali pertama terjadi di Kota Semarang. Sebelumnya, kejadian serupa juga pernah terjadi di wilayah Jomblang.

“Terkait relokasi, tentu harus ditemukan tempat yang cukup. Ada yang setuju relokasi, ada yang menolak. Nanti akan didata dulu, mana yang mau dan mana yang tidak,” ujarnya.

Menurutnya, Pemkot Semarang telah menyiapkan beberapa alternatif lokasi relokasi. Namun, untuk jangka pendek, langkah darurat yang dilakukan adalah memastikan keselamatan warga terdampak.

4. Tingkatkan kewaspadaan dan sistem peringatan dini

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng meninjau langsung lokasi terjadinya pergerakan tanah di wilayah RT 7 RW 1, Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Rabu (11/2/2026) malam. (dok. Pemkot Semarang)

“Yang paling penting anak-anak yang sekolah harus tetap bisa sekolah. Untuk sementara saya sarankan sebagian warga mengungsi dulu ke sanak saudara,” katanya.

Ia juga telah meminta camat dan lurah setempat untuk meningkatkan kewaspadaan, termasuk memasang pengeras suara sebagai sistem peringatan dini karena lokasi tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Terkait anggaran relokasi maupun penanganan di lokasi terdampak, Pemkot Semarang masih melakukan pembahasan lebih lanjut.

Editorial Team