38,71 Juta Pemudik Bakal Masuk Jateng, Posko Mudik Dioperasikan Lama

- Sekitar 38,71 juta pemudik diperkirakan masuk Jawa Tengah pada Lebaran 2026, dengan puncak arus mudik terjadi pada 14 dan 17 Maret.
- Posko Lebaran beroperasi lebih lama, dari 13 hingga 30 Maret 2026, memantau titik rawan lewat CCTV yang juga bisa diakses pemudik secara daring.
- Pemeriksaan kelayakan kendaraan dilakukan ketat H-1 sebelum keberangkatan untuk memastikan keselamatan, mencakup bus umum hingga armada mudik gratis Pemprov Jateng.
Semarang, IDN Times - Sebanyak 38,71 juta pemudik diperkirakan memasuki wilayah Jawa Tengah saat arus mudik Lebaran 2026 karena hampir separuh wilayah kabupaten/kota menjadi simpul kedatangan para perantau.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Tengah, Arief Djatmiko mengatakan, angka 38,71 juta pemudik merupakan hasil survei nasional, yang dilakukan Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan.
“Yang masuk Jawa Tengah jumlahnya cukup besar. Secara nasional, lebih dari 40 persen pemudik menjadikan Jawa Tengah sebagai tujuan utama,” ujarnya, saat Jateng Bicara di Studio Jateng Radio, Banyumanik, Kamis (26/2/2026).
1. Puncak mudik terjadi 14 dan 17 Maret 2026

Kendati begitu, untuk hitung-hitungan internal, pihaknya memprediksi sekitar 17,7 juta orang akan melintas dan masuk wilayah Jateng.
Arief menyebut, prediksi tersebut menjadi dasar langkah antisipasi, guna mengoptimalkan layanan.
Untuk memaksimalkan layanan, posko Lebaran akan beroperasi lebih lama, yakni mulai H-8 (13 Maret) hingga H+7 atau 30 Maret 2026.
Langkah itu diambil untuk mengantisipasi puncak arus mudik. Dari diprediksi awal, puncak mudik terjadi 14 dan 17 Maret 2026. Posko akan memantau titik-titik rawan melalui CCTV di pusat keramaian, seperti Pasar Gombong, serta jalur utama Simpang Ketanggungan, Simpang Lingkar Bumiayu, Simpang Wangon, Simpang Buntu, Simpang Bawen, Exit Tol Prambanan, kawasan wisata Bandungan, Simpang Dieng, hingga Bayeman–Purbalingga.
2. CCTV daring bisa dimanfaatkan pemudik

Selain memantau kepadatan lalu lintas, perangkat pengindera jarak jauh juga difungsikan untuk memantau kondisi cuaca, mengingat curah hujan di sejumlah wilayah Jawa Tengah masih tinggi. Akses CCTV daring nantinya dapat dimanfaatkan pemudik, untuk memantau kondisi lalu lintas dan kesiapan infrastruktur jalan.
Terkait kondisi jalan, Dishub telah berkoordinasi dengan DPUPR guna memastikan kemantapan jalan provinsi. Perbaikan terus dilakukan, menyusul penurunan kualitas aspal akibat hujan.
3. Ramcek dikerjakan H-1 lebaran

Untuk inspeksi kendaraan atau ramp check, Arief menegaskan pemeriksaan akan dilakukan ketat. Kendaraan yang tidak memenuhi syarat laik jalan, tidak diizinkan beroperasi.
Pemeriksaan berlaku menyeluruh, baik untuk bus umum, armada mudik gratis Pemprov Jateng, Terminal Tipe B yang dikelola provinsi, maupun Terminal Tipe A yang dikelola pemerintah pusat. Pengawasan juga diperluas ke titik rawan dan kawasan wisata.
“Ramcek dilakukan H-1 sebelum keberangkatan. Misalnya berangkat 28 Maret, dicek 27 Maret. Jika tidak laik, pasti tidak jalan,” tegasnya.
Berdasarkan survei BKT Kemenhub, moda transportasi yang paling dominan digunakan adalah mobil pribadi (76,24 juta orang), sepeda motor (24,08 juta orang), dan bus (23,34 juta orang). Pengguna mobil mayoritas memilih jalan tol (50,63 juta orang), sedangkan pengguna sepeda motor cenderung melalui jalur alternatif nonutama (8,65 juta orang).
Oleh karenanya, Arief mengimbau pemudik untuk selalu mengutamakan keselamatan.
“Jika menggunakan kendaraan umum, pastikan laik jalan. Jika membawa kendaraan pribadi, siapkan kesehatan, fisik, dan kondisi kendaraan. Taatilah aturan lalu lintas,” pungkasnya.

















