Abu Krakatau Tak Sampai Semarang, Dinkes Ingatkan Ada Ancaman Lain

- Dinkes Kota Semarang memastikan hingga 8 September 2026 tidak ada indikasi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai Semarang; arah angin mengarah ke barat-barat daya menuju Samudra Hindia.
- Pemantauan PM2,5 di Kauman, Sumurrejo, dan Kawasan Industri Wijayakusuma menunjukkan tidak ada perubahan berarti sebelum maupun sesudah erupsi, diperkuat pengukuran sanitary kit puskesmas.
- Meski abu vulkanik negatif, musim kemarau meningkatkan debu dan PM2,5, termasuk di Tembalang. Warga diimbau memakai masker saat berdebu dan memperbanyak minum air putih.
Semarang, IDN Times – Kekhawatiran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar ke Kota Semarang terjawab. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang memastikan hingga Selasa (8/9/2026), belum ada indikasi abu vulkanik mencapai wilayah ibu kota Jawa Tengah.
1. Kondisi partikel di Semarang masih normal

ilustrasi abu vulkanik (pexels.com/Pixabay) Kepala Dinkes Kota Semarang M. Abdul Hakam mengatakan, hasil pemantauan kualitas udara dan pemeriksaan sampel menunjukkan kondisi partikel di Semarang masih normal untuk karakteristik musim kemarau.
“Alhamdulillah, kita melihat surat edaran dari BMKG bahwa abu vulkanik di Semarang ini statusnya masih negatif. Secara arah angin, abu meluncur ke arah barat-barat daya menuju Samudra Hindia, jadi mudah-mudahan tidak sampai ke Semarang,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Selasa (8/9/2026).
Kendati demikian, Dinkes tidak hanya mengandalkan arah angin untuk memastikan keberadaan abu vulkanik. Pemantauan juga dilakukan terhadap partikel udara, termasuk PM2,5, di sejumlah titik Kota Semarang.
Saat ini terdapat tiga stasiun pemantauan kualitas udara yang berada di Kauman, Semarang Tengah; Sumurrejo, Gunungpati; dan Kawasan Industri Wijayakusuma. Pemantauan tersebut diperkuat dengan sanitary kit yang dimiliki sejumlah puskesmas untuk mengukur kondisi partikel halus di wilayah masing-masing.
2. Meningkatnya debu dan partikel halus saat kemarau

ilustrasi badai debu (pexels.com/José Carlos Alexandre) Hakam menyampaikan, hasil pengukuran PM2,5 di tiga titik tersebut tidak menunjukkan perubahan berarti jika dibandingkan kondisi sebelum dan sesudah aktivitas erupsi.
“Hasil deteksi PM2,5 tidak ada yang berbeda antara sebelum dan sesudah timbulnya abu vulkanik. Artinya, material abu memang belum dan tidak sampai di Kota Semarang,” tegasnya.
Meski ancaman abu vulkanik dinyatakan negatif, Hakam mengingatkan kondisi tersebut bukan berarti warga Semarang bisa mengabaikan kualitas udara.
Justru pada musim kemarau, persoalan lain muncul dari meningkatnya debu dan partikel halus akibat kondisi yang kering.
“Masyarakat tidak perlu panik karena abu vulkanik negatif. Namun karena ini musim kemarau, debu jalanan atau PM2,5 tetap lumayan tinggi,” katanya.
3. Konsentrasi PM2,5 meningkat di sejumlah wilayah

ilustrasi orang bermasker (pexels.com/Max Fischer) PM2,5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
‘’Konsentrasi PM2,5 di sejumlah wilayah di Semarang dapat meningkat ketika kondisi kemarau dan debu lebih banyak. Misalnya di wilayah Tembalang, paparan partikel halus di kawasan tersebut cukup tinggi. Sehingga, ini juga berkaitan dengan tingginya kasus pneumonia pada balita yang terdeteksi di sana,’’ jelas Hakam.
Dinkes mengimbau warga tetap disarankan menjaga perlindungan diri, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah dalam kondisi berdebu. Gunakan masker ketika terpaksa beraktivitas di luar ruangan serta memperbanyak konsumsi air putih.


















