Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Aktor Erick Estrada Garap Film Pertaubatan Napiter di Lapas Kedungpane Semarang
Kepala Lapas Kedungpane, Ahmad Tohari, menerima kunjungan Erick Estrada dalam rangka meninjau persiapan produksi short film yang akan mengangkat kisah pembinaan dan perubahan seorang warga binaan kasus terorisme. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Aktor sekaligus komedian Erick Estrada akan terlibat dalam pembuatan film pendek bertema Pemasyarakatan yang didukung Lapas Kelas I Semarang.
  • Film mengisahkan warga binaan eks peracik bom yang menjalani pembinaan, mengembangkan keterampilan memasak dan wirausaha, lalu dikenal sebagai peracik “Bakso Or Mie Ayam”.
  • Kolaborasi ini bertujuan memperkenalkan proses pembinaan, perubahan perilaku, kemandirian, dan persiapan reintegrasi sosial warga binaan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Rencana pembuatan film pendek bertema Pemasyarakatan tentang pertobatan mantan peracik bom yang dibina hingga mengembangkan keterampilan memasak dan berwirausaha.
  • Who?
    Aktor dan komedian Erick Estrada, Lapas Kelas I Semarang, serta Ahmad Tohari terlibat dalam rencana produksi film tersebut. Tokoh cerita adalah seorang warga binaan mantan peracik bom.
  • Where?
    Kegiatan pembuatan film direncanakan melibatkan Lapas Kelas I Semarang di Kedungpane, Semarang.
  • When?
    Waktu pelaksanaan produksi film per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Film dibuat untuk memperkenalkan proses Pemasyarakatan, termasuk pembinaan, pendampingan, pengembangan keterampilan, perubahan perilaku, dan persiapan reintegrasi sosial warga binaan.
  • How?
    Cerita dikemas secara ringan dan humanis melalui kisah mantan peracik bom yang menjadi “peracik BOM” atau Bakso Or Mie Ayam, dengan dukungan Lapas Kelas I Semarang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Erick Estrada mau membuat film pendek di Lapas Kedungpane Semarang. Film ini bercerita tentang orang di penjara yang dulu membuat bom. Lalu ia belajar berubah. Sekarang ia belajar masak bakso atau mie ayam dan jualan. Lapas Semarang mendukung film ini supaya orang tahu bahwa warga binaan bisa menjadi lebih baik dan kembali ke masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times - Upaya memperkenalkan tugas dan peran Pemasyarakatan kepada masyarakat terus dilakukan melalui berbagai pendekatan kreatif dan komunikatif.

Salah satunya diwujudkan rencana pembuatan short film bertema Pemasyarakatan yang melibatkan aktor sekaligus komedian Erick Estrada.

Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang.

Film tersebut membawa pesan tentang kesempatan untuk berubah dan kembali menjadi bagian dari masyarakat serta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Cerita menggambarkan perjalanan seorang warga binaan yang sebelumnya terlibat dalam peracikan bom, kemudian menjalani proses pembinaan hingga mampu menemukan kembali potensi dirinya melalui keterampilan memasak dan berwirausaha.

Jika sebelumnya ia dikenal sebagai peracik bom, dalam perjalanan pembinaannya ia justru menjadi “peracik BOM” — Bakso Or Mie Ayam. Narasi tersebut dikemas dengan pendekatan yang ringan dan humanis, tanpa menghilangkan pesan utama mengenai pentingnya pembinaan, perubahan perilaku, serta reintegrasi sosial.

“Kami sangat mendukung rencana pembuatan film ini karena menjadi salah satu cara kreatif untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Pemasyarakatan adalah proses panjang untuk membentuk seseorang menjadi lebih baik. Di dalamnya ada pembinaan, pendampingan, pengembangan keterampilan, hingga persiapan untuk kembali ke tengah masyarakat,” ujar Ahmad Tohari.

Melalui kolaborasi tersebut, Lapas Kelas I Semarang berupaya menghadirkan gambaran Pemasyarakatan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Kehadiran Erick Estrada diharapkan mampu menyampaikan pesan tentang Pemasyarakatan terasa lebih ringan, menarik, dan mudah diterima generasi muda.

Kisah perubahan tersebut juga menegaskan bahwa setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Bakat memasak dan kemampuan berwirausaha yang dikembangkan menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian sekaligus bekal ketika nantinya kembali ke lingkungan masyarakat.

“Harapan kami, film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pemahaman bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Kami ingin masyarakat melihat bahwa proses pembinaan yang dilakukan di Pemasyarakatan bertujuan mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali ke masyarakat dengan keterampilan, sikap, dan kehidupan yang lebih baik,” pungkas Ahmad Tohari.

Curated For You

Editorial Team

Related Article