Alumni SMA Negeri 1 Semarang (ALJIRO SMANSA) dan SDGs Center Universitas Diponegoro (UNDIP) yang menginisiasi forum youth summit mengangkat tema besar Preparing Indonesia's Future Generation: Mental Well-being, Quality Education, and Digital Readiness. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Dari sudut pandang regulator, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan Kemendikdasmen, Moch Abduh telah menyiapkan sejumlah intervensi strategis guna merespons rendahnya tingkat kompetensi literasi dan numerasi siswa di Indonesia.
"Ketika kita tanya mata pelajaran apa yang paling tidak disukai, jawabannya matematika. Karenanya kita mencoba untukp membuat bagaimana mata pelajaran matematika ini menjadi mata pelajaran yang menggembirakan," ujarnya.
Tak hanya penyesuaian materi, ia juga memperbarui sistem asesmen menggunakan pendekatan multistage adaptive. Metode ini memungkinkan pemetaan tingkat kompetensi literasi dan numerasi siswa dilakukan secara lebih terukur dan sesuai dengan level kemampuan individu.
Dalam kesempatan tersebut, Abduh turut menyoroti pergeseran karakter pada Gen Z dibanding generasi sebelumnya. Penggunaan gawai dan pesatnya teknologi jika tidak disikapi secara etis dan bijak dinilai berpotensi menurunkan daya tangguh (resilience) serta minat belajar siswa.
Fenomena lain yang menjadi perhatian serius adalah schooling without learning (sekolah tanpa belajar), di mana banyak siswa menghadiri kelas tanpa mendapatkan pemahaman materi yang bermakna. Hal ini dipicu oleh fokus tenaga pendidik yang cenderung terpaku pada pemenuhan target administratif kurikulum dan pencapaian asesmen semata.
"Anak-anak tidak banyak mendapatkan kebermaknaan dari pelajaran-pelajaran yang disampaikan. Nah, ini kita ubah pendekatannya dengan deep learning yang insya Allah akan membuat anak-anak itu belajar dengan penuh makna dan dengan sikap yang menggembirakan," tegas Abduh.
Rendahnya pemahaman bermakna dan tergerusnya daya tangguh ini diduga menjadi salah satu penyebab maraknya fenomena jawaban nyeleneh siswa saat menghadapi ujian. Rasa cepat putus asa membuat siswa kerap menyerah saat menemui soal-soal yang dianggap sulit.