Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Angka Stunting di Semarang Naik, Ortu Lupa Bawa Balita ke Posyandu

Angka Stunting di Semarang Naik, Ortu Lupa Bawa Balita ke Posyandu
Para balita stunting bersama orang tua mengikuti outing class yang diselenggarakan Rumah Pelita naik bus wisata keliling Kota Semarang, Rabu (6/11/2024). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
Intinya Sih
  • Jumlah kasus stunting di Kota Semarang mencapai 1.199 balita per Oktober 2024, meningkat dari bulan sebelumnya.
  • Penyebab peningkatan angka stunting antara lain kurangnya aktifitas orang tua membawa anak ke posyandu dan intervensi pemberian makanan tambahan.
  • Dinkes melakukan penanganan dengan memberikan makanan tambahan, imunisasi, dan perhatian pada faktor ekonomi, penyakit, dan lingkungan yang mempengaruhi stunting.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Semarang, IDN Times - Angka stunting di Kota Semarang mengalami peningkatan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, ada 1.199 balita stunting per Oktober 2024. 

1. Dinkes lakukan pendataan ulang

Edukasi dan penyuluhan keliling stunting-wasting di Palembang (Dok. FKM Unsri)
Edukasi dan penyuluhan keliling stunting-wasting di Palembang (Dok. FKM Unsri)

Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, peningkatan angka stunting ini diketahui setelah ada pendataan ulang.

‘’Ternyata penyebab angka stunting naik ini karena orang tua tidak aktif membawa anak ke posyandu, sehingga mereka tidak mendapatkan intervensi melalui pemberian makanan tambahan,’’ ungkapnya, Jumat (15/11/2024).

Untuk diketahui, kenaikan angka stunting ini terjadi sejak bulan Mei 2024. Pada Mei 2024, angka stunting mencapai 801 kasus, Juni sebanyak 991 kasus, Juli ada 977 kasus, Agustus capai 1.096 kasus, September sebanyak 1.190, dan Oktober ada 1.199 kasus.

2. Tangani stunting dari hulu

Ilustrasi stunting (pexel)
Ilustrasi stunting (pexel)

"Pada bulan Agustus ada intake intervensi serentak dan semua posyandu aktif. Lalu, balita juga datang sehingga akhirnya baru teridentifikasi jumlah kasus stuntingnya," tuturnya.

Selanjutnya, Dinkes melakukan penanganan dari hulu pada kasus balita stunting tersebut. Seperti pemberian makanan tambahan atau diasuh di daycare stunting Rumah Pelita.

"Secara teori tidak semua anak stunting kita rawat selama tiga bulan langsung lulus dari stunting. Ada yang di tengah jalan kemudian seminggu sakit. Apalagi musim seperti ini, kekebalan nggak bagus sekali sakit turun lagi berat badan, tinggi badannya nggak mau naik," jelas Hakam.

3. Faktor ekonomi dan lingkungan dorong angka stunting naik

Para balita stunting bersama orang tua mengikuti outing class yang diselenggarakan Rumah Pelita naik bus wisata keliling Kota Semarang, Rabu (6/11/2024). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
Para balita stunting bersama orang tua mengikuti outing class yang diselenggarakan Rumah Pelita naik bus wisata keliling Kota Semarang, Rabu (6/11/2024). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Selain, pemberian makanan tambahan, anak-anak yang mengalami stunting juga diberi imunisasi untuk mencegah penyakit dan pemberian makanan utama dari orang tua.

Sementara, selain absen ke posyandu, faktor yang mendorong peningkatan angka stunting ini antara lain ekonomi, penyakit penyerta, dan lingkungan seperti rumah tidak layak, sanitasi dan kebutuhan air bersih.

Share Article
Topics
Editorial Team
ANGGUN PUSPITONINGRUM
EditorANGGUN PUSPITONINGRUM

Latest News Jawa Tengah

See More