Salatiga, IDN Times – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji mengatakan, teknologi mampu mengambil alih fungsi transfer ilmu pengetahuan, tetapi tidak akan pernah menggantikan tugas guru dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa.
Bangun Generasi Emas, Guru Tak Bisa Digantikan Oleh Kecerdasan Buatan

Wihaji menegaskan teknologi dan AI tak bisa menggantikan peran guru dalam menanamkan nilai kehidupan, moral, dan karakter bagi generasi muda di tengah era digital.
Ia menyebut guru sebagai arsitek peradaban yang berperan penting membentuk Generasi Emas Indonesia melalui sinergi antara keluarga dan sekolah di tengah tantangan screen time tinggi.
Wihaji mengajak guru memperluas perannya sebagai mitra keluarga serta mendukung kolaborasi BKKBN dan UIN Salatiga untuk memperkuat pendidikan karakter lewat program Bangga Kencana.
1. Nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan guru tak tergantikan

Hal tersebut disampaikan Wihaji saat memberikan orasi ilmiah pada pengukuhan 3.167 guru profesional Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, Sabtu (20/6/2026). Menurutnya, dunia kini memasuki era new civilization yang ditandai dengan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan sebagaimana digambarkan dalam teori The Third Wave karya Alvin Toffler. Perubahan tersebut menghadirkan peluang besar sekaligus ancaman terhadap kualitas karakter generasi muda.
“AI dapat membantu proses belajar dan meningkatkan produktivitas. Namun, ada satu hal yang tidak bisa digantikan teknologi, yakni nilai-nilai kehidupan yang hanya bisa ditanamkan oleh seorang guru,” ujarnya.
Maka itu, lanjut Wihaji, tantangan pendidikan saat ini tidak lagi sebatas meningkatkan kemampuan akademik peserta didik. Guru juga dituntut mampu membentengi anak-anak dari berbagai persoalan sosial yang semakin marak di ruang digital, mulai dari pornografi, judi online, perundungan, hingga menurunnya kualitas komunikasi dalam keluarga.
‘’Paradigma pendidikan perlu bergeser. Jika transfer pengetahuan kini dapat dibantu AI, maka tugas utama guru adalah melakukan transfer of values atau menanamkan karakter, moral, integritas, dan spiritualitas kepada peserta didik,’’ katanya.
2. Guru adalah arsitek peradaban

Pembangunan sumber daya manusia tidak bisa dipisahkan dari pembangunan keluarga. Dari sekitar 74 juta keluarga di Indonesia, sebanyak 46 juta di antaranya memiliki anak usia 10–24 tahun yang setiap hari berada di lingkungan sekolah.
“Keluarga adalah unit terkecil sebuah negara. Masa depan bangsa dimulai dari keluarga, kemudian diperkuat oleh sekolah. Karena itu, guru adalah arsitek peradaban yang menentukan kualitas Generasi Emas Indonesia,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wihaji menyoroti fenomena semakin lebarnya kesenjangan antara screen time dan family time. Ia menyebut remaja Indonesia rata-rata menghabiskan waktu delapan hingga sepuluh jam per hari menggunakan telepon genggam, sementara komunikasi dengan orang tua hanya berlangsung sekitar 10 hingga 30 menit setiap hari.
Akibatnya, telepon genggam perlahan menjadi “keluarga baru” bagi anak-anak. Mereka lebih banyak mencari jawaban atas persoalan hidup melalui internet dibandingkan berdiskusi dengan orang tua.
3. Ajak guru perluas perannya

Melihat kondisi tersebut, Wihaji mengajak para guru memperluas perannya, tidak hanya sebagai pendidik di kelas, tetapi juga sebagai mitra keluarga dalam membangun komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak.
“Saya mengajak para guru untuk terus melakukan introspeksi terhadap hubungan dengan anak-anak di rumah, sekaligus menjalankan peran baru sebagai orang tua peserta didik di sekolah yang mampu menjembatani komunikasi dengan keluarganya,” ujarnya.
Sebagai bentuk penguatan kolaborasi antara dunia pendidikan dan pembangunan keluarga, Kemendukbangga/BKKBN dan UIN Salatiga menandatangani nota kesepahaman (MoU). Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat pelaksanaan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat peran guru sebagai agen perubahan dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat sebagai fondasi menuju Generasi Emas Indonesia 2045.



















