Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jurus BI Tegal Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Padi Biosalin dan Sekolah Prakarsa
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal, Bimala. (IDN Times/Dhana Kencana)
  • BI Tegal mengendalikan inflasi eks-Karesidenan Pekalongan melalui kerangka 4K; inflasi Juli 2026 tercatat 2,62 persen secara tahunan, didukung pangan murah, kios pangan, dan Pang Muter.
  • Pendampingan 20 kelompok tani diperkuat lewat padi biosalin di lahan rob Pekalongan: luas tanam mencapai 56 hektar dengan produktivitas 6,6 ton per hektar.
  • BI Tegal menjaga distribusi melalui kerja sama antardaerah serta memperluas edukasi pangan, inflasi, dan keuangan melalui Tegal Econolympics, Sekolah Prakarsa, serta buku anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
BI Tegal membantu petani supaya makanan tetap ada dan harganya tidak naik banyak. Mereka menanam padi biosalin di Pekalongan, walau tanahnya kena air laut. Sekarang sawahnya makin luas. BI Tegal juga membuat Sekolah Prakarsa agar anak-anak belajar berkebun di sekolah. Mereka juga mengajar tentang uang dan harga makanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pekalongan, IDN Times - Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Tegal terus mendorong inovasi ketahanan pangan untuk menjaga stabilitas inflasi di wilayah eks-Karesidenan Pekalongan. Mewilayahi tujuh kabupaten/kota, BI Tegal berkontribusi besar bagi perekonomian Jawa Tengah, khususnya dari sisi investasi dan stabilitas harga.

Kepala Perwakilan BI Tegal, Bimala menjelaskan, pihaknya berfokus pada pengendalian inflasi melalui kerangka kerja 4K, yang selaras dengan program Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah. Langkah ini berhasil menjaga inflasi di eks-Karesidenan Pekalongan pada Juli 2026 di angka 2,62 persen secara year on year.

“Berbagai upaya telah kami jalankan, mulai dari Gerakan Pangan Murah (K1) hingga Kios Pangan. Di Kota Tegal, kami membuat inovasi 'Pang Muter' atau Pangan Murah Terjangkau, yang menggunakan kendaraan modifikasi untuk mendekatkan bahan pokok kepada masyarakat,” ungkap Bimala, Kamis (13/8/2026).

Untuk memastikan ketersediaan pasokan (K2), BI Tegal gencar melakukan pendampingan kepada kelompok tani (poktan). Bimala mencatat, hingga Agustus 2026, jumlah kelompok tani binaan mencapai 20 kelompok, mencakup komoditas seperti beras, jagung, hortikultura, hingga cabai dan bawang merah.

Salah satu inovasi unggulan BI Tegal adalah budi daya padi varietas biosalin di lahan rob Kota Pekalongan, bekerja sama dengan Kodim dan Balai Rekayasa Genetik (BRMP). Pada tahun 2026, lahan demplot biosalin diperluas dari 1,5 hektar menjadi 3,5 hektar, dan luas tanam keseluruhan petani kini mencapai 56 hektar.

“Produktivitas biosalin ini mencapai 6,6 ton per hektar, melampaui rata-rata nasional yang sebesar 6,3 ton per hektar. Ke depan, kami berharap Pekalongan bisa menjadi pusat bibit biosalin bersertifikat,” tutur Bimala.

Menariknya, pembiayaan program ini mendapat dukungan dana wakaf masyarakat senilai Rp74 juta yang terhimpun saat Festival Bubur Suro di Krapyak.

Selain memfokuskan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi (K3) dijaga lewat Kerja Sama Antar-Daerah (KAD). Sebagai contoh, Brebes yang menjadi sentra produksi nasional menyuplai bawang merah ke Provinsi Riau.

Dalam hal komunikasi kebijakan (K4), BI Tegal menekankan pentingnya edukasi ekonomi sejak usia dini. Melalui event Tegal Econolympics, BI mengemas materi edukasi ke dalam format cerdas cermat. Bimala menyebut, inisiatif ini akan diperluas pada 2026 untuk mencakup seluruh sekolah di eks-Karesidenan Pekalongan.

Program terobosan terbaru BI Tegal bersama Dinas Pendidikan adalah Sekolah Prakarsa (Praktik Agrikultur Ramah Lingkungan untuk Akselerasi Kemandirian Pangan).

“Kami mendorong urban farming di lingkungan sekolah untuk membangun kepedulian pelajar terhadap kemandirian pangan dan inflasi,” jelasnya.

Langkah ini diperkuat dengan penerbitan seri buku kebanksentralan khusus anak-anak, dengan judul seperti Uang Mainan Jihan dan Kok Jadi Mahal? untuk edukasi inflasi, serta Untung Ada QRIS untuk edukasi pembayaran nontunai.

Pendekatan jangka panjang ini diharapkan mencetak generasi yang cerdas secara finansial dan peduli terhadap ketahanan pangan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article