Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Borobudur Satukan Perbedaan: Doa Warga Bersama Konser Andrea Bocceli

Kab. Magelang
3 min read
Borobudur Satukan Perbedaan: Doa Warga Bersama Konser Andrea Bocceli
Potret perayaan Waisak 2569 BE/2025 di Candi Borobudur. (dok. InJourney)
  • Di Borobudur, persiapan konser Andrea Bocelli berlangsung berdampingan dengan istighosah warga pada 31 Oktober 2026, menciptakan suasana damai tanpa gesekan.

  • FMBB menyampaikan aspirasi secara santun agar pengelolaan Borobudur lebih melibatkan warga lokal, menghidupkan ekonomi pedagang kecil, dan menjaga nilai cagar budaya.

  • Polda Jateng mengapresiasi pengamanan humanis bersama TNI, pemerintah daerah, dan pengelola kawasan yang menjaga konser serta doa bersama berjalan tertib.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Magelang, IDN Times - Candi Borobudur kembali menunjukkan wajahnya sebagai monumen peradaban yang agung. Pada Sabtu (31/10/2026), kawasan wisata di Kabupaten Magelang ini menjadi saksi bisu sebuah pemandangan yang menyejukkan hati. Di tengah persiapan konser internasional Andrea Bocelli, ratusan warga dan tokoh masyarakat tampak khusyuk melantunkan doa bersama untuk kebangsaan.

Dua peristiwa dengan latar belakang berbeda itu berlangsung secara berdampingan.

Suara alunan musik kelas dunia berpadu dengan syahdu doa istighosah dari Masjid Al Ikhlas, Dusun Ngaran I. Tidak ada gesekan, tidak ada provokasi. Yang ada hanyalah keindahan toleransi yang dibalut dalam kedewasaan bermasyarakat.

  1. Perbedaan harus saling menghormati

    ilustrasi konser musik (pexels.com/Wendy Wei)
    ilustrasi konser musik (pexels.com/Wendy Wei)

    Polda Jawa Tengah memberikan apresiasi mendalam atas terciptanya situasi yang damai tersebut. Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Yuliyanto, menilai bahwa apa yang terjadi di Borobudur adalah bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia mampu merangkul perbedaan.

    "Kami memahami bahwa setiap orang memiliki pandangan dan kepentingan yang berbeda. Namun masyarakat telah menunjukkan bahwa perbedaan tersebut dapat disikapi dengan saling menghormati tanpa harus mengganggu hak maupun aktivitas orang lain," tuturnya, Sabtu (7/11/2026).

  2. Pengelola Borobudur disebut bisa rangkul masyarakat setempat

    Potret Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Yuliyanto, dalam dokumentasi resmi Humas Polda Jateng.
    Kabid Humas Polda Jateng Kombes Yuliyanto. (IDN Times/Dok Humas Polda Jateng)

    Kegiatan istighosah dan doa bersama yang digelar Forum Masyarakat Borobudur Bangkit (FMBB) ini berlangsung khusyuk. Acara yang dimulai sejak pukul 13.30 WIB tersebut dihadiri oleh puluhan warga, tokoh agama, perwakilan ormas, dan lembaga bantuan hukum.

    Ketua FMBB, Puguh Triwarsono, menyampaikan bahwa doa bersama ini adalah wujud cinta kasih mereka terhadap tanah air, khususnya kawasan Borobudur. Warga menitipkan harapan besar agar Borobudur tidak sekadar menjadi panggung hiburan, tetapi tetap menjadi denyut nadi perekonomian dan kebudayaan masyarakat setempat.

    Melalui doa tersebut, warga juga menyampaikan aspirasi mereka secara santun. Mereka berharap pengelolaan kawasan Candi Borobudur ke depan bisa lebih merangkul masyarakat lokal, menghidupkan kembali denyut ekonomi pedagang kecil, serta menjaga nilai-nilai luhur cagar budaya. Penyampaian aspirasi ini dikemas dalam nuansa kekeluargaan yang santun, tanpa provokasi.

  3. Polda Jateng apresiasi pengamanan dengan TNI

    Ilustrasi konser musik. (freepik.com/wirestock)
    Ilustrasi konser musik. (freepik.com/wirestock)

    Kehadiran Ketua Forum Ukhuwah Islamiah Magelang Raya (FIUIMARA), Priyo Waspodo, dan perwakilan LBH AVADHANA, Ivan Dafis, semakin menguatkan pesan perdamaian tersebut. Mereka sepakat bahwa perjuangan untuk kesejahteraan warga harus tetap berada di jalur yang elegan dan beradab.

    Keberhasilan menjaga harmoni ini tidak lepas dari peran serta aparat keamanan. Polda Jateng bersama TNI, pemerintah daerah, dan pengelola kawasan menerapkan pendekatan yang humanis dan persuasif selama proses pengamanan.

    "Terima kasih kepada saudara-saudara yang telah menjaga ketertiban, kepada para pengunjung dan wisatawan yang mengikuti arahan petugas, serta masyarakat sekitar yang turut menjaga lingkungan tetap kondusif," katanya.

    Polri, lanjutnya, hadir bukan untuk membatasi hak masyarakat, melainkan untuk memastikan setiap orang mendapatkan perlindungan yang sama. Penyelenggaraan konser yang berjalan lancar dan doa bersama yang penuh khidmat menjadi bukti nyata bahwa demokrasi dan kebebasan berekspresi bisa berjalan selaras.

    Tak cuma itu saja, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat semangat kebersamaan. Perbedaan pandangan, kata dia, tidak seharusnya memecah belah persaudaraan, melainkan menjadi kekayaan budaya yang memperkokoh persatuan bangsa.

Related Articles

See More
Borobudur Satukan Perbedaan dalam Doa dan Konser di Magelang