Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan Mitos, Alasan Orang Tua Dulu Melarang Menyapu dan Bakar Sampah Malam Jumat
ilustrasi menyapu lantai rumah (pexels.com/Ron Lach)
  • Larangan menyapu malam hari muncul karena penerangan minim di masa lalu, berisiko membuang barang berharga dan menimbulkan debu yang mengganggu kesehatan keluarga.
  • Membakar sampah malam hari berbahaya akibat inversi suhu yang menahan asap di permukiman serta risiko kebakaran tinggi karena jarak pandang terbatas.
  • Larangan aktivitas bising atau berasap di malam Jumat mencerminkan nilai tenggang rasa terhadap tetangga yang sedang beribadah dan menjaga keharmonisan lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Malam Jumat sering kali diidentikkan dengan atmosfer yang sakral bagi sebagian besar masyarakat di Jawa Tengah. Tak heran, banyak orang tua zaman dulu mewariskan berbagai larangan atau gugon tuhon (mitos/tabu) khusus untuk malam ini. Dua di antaranya yang paling sering kita dengar adalah larangan menyapu lantai rumah dan membakar sampah di pekarangan saat hari sudah gelap.

Dulu, kalau kita nekat melanggar, orang tua akan langsung menegur dengan alasan mistis, seperti "bisa membuang rezeki" atau "mengundang makhluk halus". Tapi tunggu dulu, Lur! Di balik kesan mistis yang bikin bulu kuduk berdiri tersebut, ternyata larangan orang tua zaman dulu memiliki alasan logis, ilmiah, dan etika sosial yang sangat masuk akal di kehidupan nyata.

Bukan sekadar takhayul, yuk bedah alasan nyata kenapa dilarang menyapu dan membakar sampah di malam Jumat berikut ini!

1. Menyapu Malam Hari Berisiko Membuang Barang Berharga

ilustrasi menyapu lantai (pexels.com/RDNE Stock project)

Mitos bahwa menyapu di malam hari bisa menjauhkan rezeki sebenarnya lahir dari kondisi lingkungan masyarakat pada masa lampau yang serbaterbatas.

Perlu diingat, zaman dulu belum ada lampu LED atau pasokan listrik secanggih tahun 2026 ini, Lur. Penerangan rumah hanya mengandalkan lampu minyak, petromak, atau lilin yang temaram.

Menyapu dalam kondisi gelap atau remang-remang berisiko tinggi membuat benda-benda kecil yang berharga—seperti perhiasan, uang koin, atau dokumen penting—ikut tersapu dan terbuang ke tempat sampah tanpa sengaja. Itulah mengapa hal ini disebut "membuang rezeki".

Kibasan sapu ijuk di malam hari akan menerbangkan debu ke udara. Karena ventilasi rumah zaman dulu cenderung ditutup rapat saat malam untuk menghalau angin dingin, debu tersebut justru mengendap di dalam ruangan, mengotori makanan, dan mengganggu pernapasan keluarga yang sedang beristirahat.

2. Bahaya Inversi Suhu dan Risiko Kebakaran saat Membakar Sampah

Ilustrasi kebakaran. (FOTO: IDN Times/ Agung Sedana)

Larangan membakar sampah di malam hari sering dikaitkan dengan mitos bisa mengundang petaka atau kesialan bagi pemilik rumah. Secara sains, tindakan ini memang berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan lingkungan.

Pada malam hari, suhu udara di dekat permukaan bumi cenderung lebih dingin dibandingkan udara di atasnya. Kondisi atmosfer yang stabil ini membuat asap pembakaran tidak bisa membubung tinggi ke langit, melainkan mengendap dan menyebar mendatar di sekitar pemukiman. Akibatnya, polusi asap tebal akan mengepung rumah tetangga dan memicu sesak napas massal.

Membakar sampah di malam hari sangat berisiko karena keterbatasan jarak pandang. Bara api kecil yang tertiup angin malam bisa luput dari pengawasan, lalu terbang dan merembet ke dinding bambu atau tumpukan kayu kering milik tetangga, memicu kebakaran besar saat warga sedang terlelap.

3. Menghormati Waktu Ibadah dan Ketenangan Lingkungan sekitar

ilustrasi salat malam (freepik.com/freepik)

Khusus untuk momentum malam Jumat, larangan melakukan aktivitas pembersihan yang bising atau menimbulkan polusi erat kaitannya dengan tenggang rasa (tepa salira) dan kearifan lokal.

Malam Jumat adalah waktu di mana masyarakat Muslim di kampung-kampung biasanya memperbanyak ibadah, mulai dari menghadiri majelis tahlilan, yasinan, hingga membaca Surah Al-Kahfi bersama keluarga di rumah.

Bayangkan jika saat tetangga sedang khusyuk mengaji atau berzikir, tiba-tiba udara malam yang sejuk berubah menjadi pengap, perih di mata, dan bau sangit akibat asap pembakaran sampah plastik dari pekaranganmu. Tindakan ini tentu dianggap tidak sopan dan merusak keharmonisan bertetangga.

Nah, sekarang sudah paham kan kalau larangan-larangan tersebut punya sisi logis yang kuat? Yuk, tetap jaga kebersihan rumah tanpa harus mengganggu kenyamanan dan keselamatan warga sekitar, Sedulur!

Curated For You

Editorial Team

Related Article