Pernah nggak sih kamu mendengar atau bahkan mencoba mitos mengoleskan odol di bawah mata saat terkena paparan gas air mata? Rasanya memang ingin segera mencari pertolongan instan untuk meredakan perih yang menyengat. Sayangnya, tindakan ini justru sangat berbahaya dan bisa memperparah kondisi.
Bukan Pakai Odol! Ini 4 Langkah Medis Pertolongan Pertama Terkena dan Atasi Gas Air Mata

Mengoleskan odol saat terkena gas air mata justru berbahaya karena bahan kimianya dapat memerangkap partikel gas dan memperparah iritasi.
Gas air mata sejatinya adalah serbuk padat yang menempel pada kelembapan tubuh, sehingga butuh penanganan khusus untuk membersihkannya.
Langkah pertolongan pertama yang benar meliputi evakuasi ke tempat tinggi, membilas mata dengan air mengalir, dan mandi air dingin.
Secara medis, juru bicara Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa kandungan mentol, fluorida, dan bahan abrasif pada odol akan menyumbat pori-pori kulit. Alih-alih menyembuhkan, hal ini malah memerangkap partikel gas dan memicu luka bakar kimia yang lebih serius. Yuk, simak panduan pertolongan pertama yang benar dan teruji secara klinis berdasarkan rekomendasi CDC dan Kemenkes RI berikut ini!
1. Segera Cari Tempat Lebih Tinggi dan Melawan Arah Angin

Ilustrasi unjuk rasa dengan gas air mata (pexels.com/Joel Santos) Prioritas utama saat terpapar adalah evakuasi dari pusat asap secepat mungkin. Ingat, senyawa gas air mata sejatinya bukan gas, melainkan partikel serbuk padat (senyawa kimia CS/CN) yang memiliki massa lebih berat daripada udara. Karena itu, partikelnya akan cenderung melayang turun ke bawah.
Carilah area yang lebih tinggi, seperti tangga, jembatan, atau dataran tinggi. Selain itu, berjalanlah menghadap ke arah datangnya angin (melawan arah tiupan asap) untuk mempercepat proses pembersihan sisa partikel di wajah dan tubuh kamu.
2. Tahan Diri untuk Tidak Mengucek Mata dan Wajah

Asap gas air mata mengepul di Jalan Dokter Kusuma Atmaja, sekitar Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar. (IDN Times/Yuko Utami) Refleks mengucek mata saat terpapar gas air mata adalah hal yang paling harus dihindari. Mengucek mata akan membuat kristal mikro senyawa kimia tersebut tergesek kuat pada kornea, yang berisiko memicu luka robek mikroskopis hingga infeksi parah.
Sebagai gantinya, usahakan untuk tetap berkedip dengan cepat secara sengaja. Gerakan ini akan merangsang produksi air mata alami yang berperan mendorong partikel asing keluar dari rongga mata dengan lebih aman.
3. Irigasi Mata dan Bilas dengan Air Mengalir

Ilustrasi penggunaan gas air mata saat demonstrasi (pexels.com/LT Chan) Pakai air bersih mengalir atau cairan steril Saline (NaCl 0,9%) untuk membilas mata selama 15 hingga 30 menit secara terus-menerus. Pastikan kamu memiringkan kepala ke arah luar. Misalnya, jika mata kanan yang dibilas, miringkan kepala ke kanan.
Langkah ini sangat krusial agar sisa zat kimia mengalir ke arah pelipis dan tidak mencemari mata sehat di sebelahnya. Jika kamu memakai softlens, segera lepas dengan tangan yang bersih lalu buang, karena lensa kontak dapat memerangkap zat kimia langsung di atas kornea.
4. Dekontaminasi Pakaian dan Mandi dengan Air Dingin

Gas air mata yang baru dilemparkan ke arah massa supaya terpukul mundur. (commons.wikimedia.org/Ben Tavener) Segera lepaskan pakaian yang telah terkontaminasi. Jika kamu memakai kaus oblong, jangan melepasnya dengan cara ditarik melewati kepala. Sisa serbuk kimia di baju bisa menyengat kembali mata dan hidung. Lebih aman untuk menggunting pakaian tersebut jika diperlukan.
Masukkan baju kotor ke dalam kantong plastik tertutup rapat agar tidak mencemari orang lain. Setelahnya, basuh seluruh area kulit memakai air bersih dan sabun antiseptik. Wajib pakai air dingin, karena air hangat dapat membuka pori-pori kulit dan membuat sisa zat kimia meresap lebih dalam.
Mengetahui langkah pertolongan pertama yang tepat saat terkena gas air mata bisa menyelamatkan kamu dari iritasi berkepanjangan atau cedera yang lebih serius. Hindari mitos yang beredar dan selalu utamakan penanganan medis yang teruji.
Dari empat langkah di atas, mana yang selama ini sering kamu salah kaprah lakukan? Yuk, bagikan artikel ini ke grup keluarga atau teman agar mereka juga tahu penanganan yang benar!




















