Semarang, IDN Times - Ancaman stunting di Indonesia ternyata tidak hanya dipicu persoalan gizi buruk dan kemiskinan. Paparan logam berat merkuri dari konsumsi makanan laut di wilayah tercemar disebut ikut menjadi faktor serius yang mengancam kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak.
Riset Undip Semarang Ungkap Bahaya Merkuri Bisa Ancam Janin Sejak Kandungan

1. Ancaman kontaminasi lingkungan dari merkuri
Isu itu mengemuka saat calon Guru Besar Universitas Diponegoro (Undip), dokter Muflihatul Muniroh, M.Si.Med., Ph.D., memaparkan makalah ilmiah di hadapan Dewan Profesor Undip di Gedung SA-MWA Kampus Undip Tembalang, Rabu (10/6/2026).
Pada makalah yang berjudul “Pengaturan Sistem Reproduksi Pada Paparan Merkuri Prenatal Terhadap Kesehatan Ibu dan Tumbuh Kembang Anak”, dosen Fakultas Kedokteran Undip itu mengungkapkan hasil riset mendalam mengenai dampak toksik merkuri terhadap ibu hamil, janin, hingga anak usia dini.
“Masalah stunting tidak hanya berkaitan dengan kurangnya asupan nutrisi, tetapi juga ancaman kontaminasi lingkungan, khususnya merkuri,” ujar Muflihatul dalam keterangan resmi, Jumat (12/6/2026).
Ia menjelaskan, merkuri jenis metilmerkuri (MeHg) yang berasal dari konsumsi ikan di perairan tercemar dapat dengan mudah masuk ke tubuh manusia. Senyawa tersebut berikatan dengan sistein dan menyerupai asam amino esensial metionin, sehingga mampu menembus sawar darah otak dan plasenta.
‘’Akibatnya, merkuri dapat terakumulasi pada janin sejak dalam kandungan. Sebab, hubungan kuat antara konsumsi makanan laut tercemar dengan meningkatnya risiko kesehatan ibu hamil,’’ terangnya yang melakukan studi populasi manusia di kawasan pesisir Semarang, Jepara, dan Mamuju itu.
2. Paparan merkuri picu kelahiran prematur
Berdasarkan penelitian in vitro dan in vivo yang dipaparkannya, paparan merkuri dosis sub-letal terbukti memicu inflamasi dan stres oksidatif pada tubuh. Kondisi itu menyebabkan neuroinflamasi, penurunan sel Purkinje pada otak, hingga munculnya gangguan neurologis seperti ataksia.
Selanjutnya, tingginya asupan merkuri harian ditemukan berkorelasi negatif dengan kadar hemoglobin (Hb), sehingga meningkatkan risiko anemia pada ibu hamil. Sementara, kadar merkuri tinggi pada rambut maternal disertai riwayat penyakit kardiovaskular terbukti meningkatkan risiko hipertensi gestasional dan preeklamsia.
Dampaknya terhadap janin juga tak kalah serius. Paparan merkuri prenatal disebut dapat memicu kelahiran prematur, bayi berat lahir rendah, pengecilan lingkar kepala pada anak usia 18 bulan, hingga meningkatkan risiko stunting.
“Respons tubuh terhadap toksisitas merkuri juga dipengaruhi variasi genetik masing-masing individu,” jelasnya.
Menurutnya, variasi gen seperti GSTT1, GSTM1, GSTP1, dan GPX1 menentukan kemampuan tubuh dalam memetabolisme dan membuang merkuri.
3. Calon gubes FISIP kritik pemerintahan pasca reformasi
Selain isu kesehatan lingkungan, sidang calon Guru Besar Undip juga menghadirkan paparan dari Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol. Admin., dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip.
Dalam makalah berjudul “Membangun Relational Governance Melalui Integrasi Politik dan Administrasi Menuju Kesejahteraan Sosial di Indonesia”, Teguh menyoroti lemahnya tata kelola pemerintahan pasca reformasi yang masih dibayangi politisasi birokrasi, ego sektoral, hingga rendahnya kepercayaan publik.
Ia menawarkan konsep relational governance, yakni model tata kelola berbasis kualitas hubungan dan kepercayaan antar aktor sebagai fondasi pemerintahan yang inklusif dan adaptif.
Menurut Dekan FISIP Undip itu, integrasi politik dan administrasi harus diarahkan pada tujuan konkret berupa peningkatan kualitas hidup masyarakat, pengentasan kemiskinan, penurunan stunting, hingga perlindungan kelompok rentan.
Presentasi dua calon guru besar tersebut menjadi bagian dari kontribusi akademik Undip dalam menghadirkan riset yang dinilai aplikatif dan berdampak langsung bagi pembangunan nasional.