ilustrasi gambar formalin atau formaldehida sumber gambar dari (iStock)
Kabid Yankes Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Elhamangto Zuhdan, menegaskan bahwa dampak formalin terhadap kesehatan manusia sangat fatal.
"Formalin adalah racun yang tidak bisa dicerna tubuh. Dalam jangka pendek dapat menyebabkan mual dan iritasi lambung. Namun, dalam jangka panjang, zat ini bersifat karsinogenik yang merusak hati, ginjal, hingga memicu kanker," tegas Elhamangto.
Mengkonsumsi formalin, baik dalam dosis kecil secara terus-menerus (kronis) maupun dosis besar sekaligus (akut), sangat berbahaya karena zat ini sebenarnya adalah pengawet mayat dan spesimen biologi, bukan untuk tubuh manusia.
Jika seseorang mengonsumsi makanan dengan kadar formalin tinggi, gejala akan muncul dalam waktu cepat yakni iritasi saluran pencernaan yakni rasa terbakar pada mulut, tenggorokan, dan lambung.
Formalin tinggi juga mengakibatkan gangguan pencernaan parah yakni mual, muntah hebat, hingga muntah darah akibat luka bakar kimia di lambung. nyeri perut dan diare, perut terasa melilit dan keras. Juga memicu kerusakan sistem saraf pusat yakni sakit kepala hebat, pusing, hingga penurunan kesadaran atau koma dalam kasus keracunan berat.
Sementara itu untuk dampak jangka panjang (Kronis) formalin yang bersifat akumulatif, artinya zat ini akan menumpuk di dalam tubuh jika dikonsumsi sedikit demi sedikit dalam waktu lama dapat menyebabkan Kanker. Konsumsi jangka panjang meningkatkan risiko kanker saluran pencernaan (mulut, tenggorokan, lambung) dan leukimia.
Tak hanya itu formalin juga mengakibatkan kerusakan organ vital hati (Liver): hati bekerja keras menyaring racun, namun formalin dapat menyebabkan peradangan hingga sirosis (kerusakan hati permanen). Formalin merusak jaringan ginjal yang berfungsi menyaring darah, yang dalam jangka panjang bisa menyebabkan gagal ginjal.
Meski dikonsumsi melalui mulut, uap formalin yang terhirup saat makan dapat memicu asma kronis atau bronkitis. Zat ini dapat mengganggu produksi sel darah merah di sumsum tulang belakang.