Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cegah Laka Maut, Puluhan Pita Kejut Dipasang di Tol Semarang-Batang
  • Jasa Marga memasang 30 pita kejut di ruas tol Semarang-Batang untuk mengurangi resiko fatalitas kecelakaan.
  • 40 kecelakaan terjadi di ruas jalan tol Semarang-Batang akibat sopir mengantuk atau microsleep, menjadi pemicu kecelakaan terbanyak.
  • Pihak Jasa Marga melakukan sosialisasi safety campaign dan edukasi kepada pengemudi untuk lebih peduli terhadap resiko fatalitas kecelakaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - PT Jasa Marga memasang puluhan ramble strip atau pita kejut untuk mengurangi resiko fatalitas kecelakaan di ruas jalan tol Semarang-Batang. Pemasangan pita kejut bahkan diperbanyak oleh petugas Jasa Marga di sejumlah titik yang memiliki kerawanan kecelakaan. 

 

1. Jasa Marga pasang 30 pita kejut di Tol Semarang-Batang

Direktur Teknik Jasa Marga Semarang-Batang, Daru Satrio mengatakan terdapat 30 pita kejut yang dipasang di tiga ruas tol. Masing-masing di KM 350 hingga KM 360 serta di KM 400. 

"Selain itu kita juga ada menambah pemasangan ramble strip atau pita kejut sebanyak 30 di ruas titik Tol tepatnya KM 350 sampai KM 360. Lalu juga di KM 400. Jadinya setiap pengemudi mobil dan sopir truk tidak gampang ngantuk bila melewati ruas tol karena menginjak pita kejut," kata Daru kepada IDN Times, Kamis (26/12/2024). 

2. Mayoritas kecelakaan disebabkan microsleep

ilustrasi mengemudi saat mengantuk (freepik.com/Drazen Digic)

Lebih lanjut, ia berkata kejadian sopir mengantuk memang menjadi pemicu kecelakaan di jalan tol terbanyak selama tahun ini. 

Tercatat ada 40 kecelakaan di ruas jalan tol Semarang-Batang. Ia menyampaikan banyaknya resiko sopir mengantuk atau microsleep mendominasi kecelakaan di ruas Tol Semarang-Batang. 

"Ini tantangan kita karena mayoritas kecelakaan karena human error atau mengantuk," ujarnya. 

3. Jasa Marga sering edukasi sopir truk

Rest Area 626B arah Solo menuju Surabaya, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. IDN Times/ Riyanto.

Kendati begitu, pihaknya mulai mengedukasi para pengemudi untuk lebih peduli terhadap resiko fatalitas kecelakaan. Sosialisasi juga dilakukan berulang kali dengan melakukan safety campaign di beberapa titik rest area. 

"Kita edukasi, rutin cek kesehatan supaya mereka memang lebih aware terhadap resiko kecelakaan. Jadi memang kami sudah melakukan sosialisasi safety campaign ke sopir truk dan pengemudi. Itu sudah dua kali kami lakukan pada rest area 360 dan rest area 369," ujarnya. 

4. Microsleep dialami sopir yang kelelahan dan kurang tidur

Ilustrasi mengemudi (Pexels/Elina Sazonova)

Sedangkan Dirlantas Polda Jateng, Kombes Pol Sonny Irawan bilang microsleep adalah kondisi tidur singkat yang terjadi tanpa disadari, biasanya berlangsung kurang dari 30 detik, namun dampaknya bisa fatal. 

Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa microsleep dapat menyebabkan pengemudi kehilangan konsentrasi bahkan kendali penuh atas kendaraannya, sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan.

"Microsleep sering dialami oleh mereka yang kurang tidur, sedang stres atau kelelahan, atau memiliki gangguan tidur,” akunya. 

5. Berhenti sebentar terasa lelah

Foto Lalu lintas kendaraan (Dok Jasa Marga)

Ia menambahkan, perjalanan jauh menjelang libur Nataru kerap membuat pengemudi memaksakan diri untuk tetap berkendara meski tubuh lelah. Padahal, kondisi tersebut dapat membahayakan keselamatan di jalan raya.

“Jika anda merasa mengantuk atau lelah saat berkendara, berhentilah sejenak di rest area atau tempat istirahat terdekat. Jangan pernah memaksakan diri karena keselamatan Anda adalah prioritas utama,” tegasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk mempersiapkan fisik dan kendaraan sebelum perjalanan panjang. Pastikan istirahat cukup, patuhi peraturan lalu lintas, dan hindari kebiasaan yang berpotensi membahayakan keselamatan berkendara. "Mari bersama-sama menjaga keselamatan di jalan, agar momen Natal dan Tahun Baru dapat dirayakan dengan bahagia tanpa ada insiden yang merugikan,” pungkasnya. 

Editorial Team

Related Article