Dialog Voice Now-YKKS: Gen Z Semarang Harus Jadi Pelopor Perubahan
- Voice Now Semarang dan YKKS menggelar dialog lintas generasi untuk memperkuat partisipasi anak dan orang muda dalam pembangunan serta perlindungan anak di Kota Semarang.
- Film pendek 'Jerat Daring' ditayangkan sebagai edukasi tentang keamanan digital, menggambarkan ancaman manipulasi online dan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan anak di era teknologi.
- Para narasumber menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar anak dan orang muda dapat menjadi pelopor perubahan sekaligus berperan aktif dalam pencegahan kekerasan serta pembangunan daerah.
Semarang, IDN Times - Anak dan orang muda memiliki hak untuk didengar, berpartisipasi, dan dilibatkan secara bermakna dalam setiap proses pembangunan yang memengaruhi kehidupan mereka.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Voice Now Semarang bersama Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata (YKKS) sebagai mitra lokal ChildFund International di Indonesia menyelenggarakan dialog lintas generasi: kolaborasi mewujudkan partisipasi anak dan orang muda yang bermakna.
Hadir dalam kegiatan ini Anang Budi Utomo, Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang dan Dr. dr. Eko Krisnarto, Sp.KK. selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Semarang.
Selain itu juga dihadiri Forum Anak, siswa SMP dan SMA, Indonesia Youth Advisory, Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA), perwakilan kelurahan, organisasi masyarakat sipil.
Kegiatan dilanjutkan dengan penayangan film pendek berjudul “Jerat Daring”, sebuah karya anak dan orang muda yang mengangkat isu keamanan digital, grooming online, serta risiko kekerasan berbasis daring yang semakin dekat dengan kehidupan anak dan remaja saat ini.
Setelah penayangan film, peserta mendapatkan penjelasan mengenai latar belakang dan pesan yang ingin disampaikan melalui karya tersebut.
Film “Jerat Daring” menggambarkan bagaimana ancaman di ruang digital dapat terjadi secara perlahan melalui relasi yang tampak aman, namun berujung pada manipulasi dan kekerasan. Melalui film ini, Voice Now ingin mengajak anak, orang tua, sekolah, dan masyarakat untuk lebih memahami pentingnya keamanan digital serta perlindungan anak di era teknologi.
Sesi kemudian dilanjutkan dengan talkshow.
Dalam sesi ini, Reza Putra Pratama selaku perwakilan Voice Now Semarang berbagi pengalaman mengenai berbagai aksi yang telah dilakukan oleh anak dan orang muda dalam memperjuangkan partisipasi bermakna.
Ia menjelaskan bahwa Voice Now tidak hanya aktif di Kota Semarang, tetapi juga berkolaborasi dengan jaringan anak dan orang muda di berbagai daerah seperti Jakarta, Lampung, Kupang, dan Sikka.
"Berbagai kegiatan kampanye publik, pelatihan, advokasi, edukasi keamanan digital, hingga pembuatan karya kreatif seperti film," ujarnya dalam keterangan yang diterima IDN Times, Sabtu (13/7/2026).
Reza juga menekankan bahwa suara anak dan orang muda perlu diberikan ruang yang lebih luas dalam proses pembangunan.
Anak dan orang muda tidak hanya mampu menjadi peserta kegiatan, tetapi juga mampu menjadi pelopor perubahan, menghasilkan karya, serta berkontribusi dalam pembahasan isu-isu strategis di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional.
Sementara itu, Sri Indarwati, perwakilan Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) sekaligus Paralegal YKKS menyampaikan bahwa perlindungan anak dan perempuan memerlukan kolaborasi yang kuat antar berbagai pihak.
Menurutnya, tidak ada satu lembaga pun yang mampu bekerja sendiri dalam menangani maupun mencegah kekerasan terhadap anak dan perempuan.
Ia menjelaskan bahwa JPPA selama ini berperan dalam membantu penerimaan laporan, pendampingan, serta rujukan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Namun, efektivitas perlindungan akan semakin meningkat apabila anak, orang muda, keluarga, sekolah, komunitas, organisasi masyarakat sipil, dan pemerintah dapat bekerja bersama dalam membangun lingkungan yang aman dan responsif terhadap kebutuhan anak.
Menurut Sri, anak dan orang muda memiliki posisi strategis dalam membantu menyebarluaskan informasi layanan perlindungan, mendorong keberanian korban untuk melapor, serta membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan kekerasan.
Menanggapi diskusi tersebut, Eko Krisnarto Kepala DP3AK Kota Semarang menyampaikan apresiasinya terhadap keterlibatan aktif anak dan orang muda dalam kegiatan ini.
"Kolaborasi lintas generasi dan lintas sektor merupakan hal yang sangat penting dalam mewujudkan perlindungan anak. Kolaborasi dimulai dari kemauan untuk saling memahami. Ketika anak, orang muda, masyarakat, organisasi, dan pemerintah mampu membangun pemahaman bersama, maka berbagai tantangan yang dihadapi akan lebih mudah diselesaikan,” ujarnya.
Anang Budi Utomo, Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang mengatakan partisipasi anak dan orang muda terus didukung karena mereka merupakan bagian penting dari pembangunan daerah dan masa depan Kota Semarang.


















