Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
Omzet KKMP Banjarsari tidak langsung besar sejak awal. Pertumbuhannya terjadi secara bertahap dari Januari hingga bulan-bulan berikutnya.
Peningkatan signifikan terjadi menjelang Idul Fitri. Banyak warga yang memesan kebutuhan untuk dibuat menjadi parsel sehingga omzet koperasi mencapai titik tertinggi pada Maret.
“Omset tertinggi kita di Maret, kemudian April dan selanjutnya ada penurunan, kemudian naik lagi. Dan memang rata-rata sampai bulan Juni kemarin, pada saat dari Airkop, itu omset kami membuka 300 juta lebih. Kalau sampai hari ini saya pastikan mungkin sudah menyentuh 350. Iya, jadi begitu,” jelasnya.
Menariknya, omzet tersebut diraih ketika gerai secara fisik hanya dibuka sekitar dua jam. Namun, transaksi tidak berhenti ketika gerai tutup karena anggota tetap dapat melakukan pemesanan melalui aplikasi.
“Intinya begini, kami punya aplikasi, bahwa kami buka real dua jam, iya. Tapi mereka bisa pesan lewat aplikasi dan setelah jam kerja itu kami juga bisa melayani untuk pengirimannya. Kan begitu,” ujarnya.
Seiring meningkatnya jumlah pembeli yang datang langsung, jam operasional gerai kemudian diperluas menjadi dua sesi. Salah satunya berlangsung pada pukul 16.00-18.00 WIB.
Perubahan tersebut turut mendongkrak omzet rata-rata. Jika sebelumnya omzet sekitar Rp2 juta dalam dua jam, kini rata-ratanya meningkat menjadi sekitar Rp3 juta setelah diberlakukan dua sesi.
“Yang dulunya dua jam rata-rata di 2 juta, ini untuk dua sesi ini sudah ada peningkatan dari 2 juta menjadi kurang lebih di rata-rata 3 juta. Begitu, Mbak,” katanya.
Bagi KKMP Banjarsari, capaian omzet tersebut bukan akhir dari perjalanan. Digitalisasi justru diposisikan sebagai fondasi untuk membuat pengelolaan koperasi lebih efisien, transparan, dan mudah diakses anggota melalui genggaman.
Sementara itu, salah seorang warga Banjarsari Rini mengaku berbelanja di KKMP Banjarsari sudah menjadi langganannya. Menurutnya harga di koperasi lebih murah bila dibandingkan dengan toko kelontong lainnya.
“Bagus sangat membantu karena mungkin harganya ya kacek (selisih harga), kalau ibu-ibu itu kalau kacek Rp 500 itu diparani (didatangi) gitu, saya rasa sangat membantu sekali,” jelasnya.
“Saya biasanya rutin ya belanjak minyak, kadang-kadang kita nambah terigu gitu, teh, kadang gula juga,” pungkasnya.
Dengan lokasinya di area padat penduduk, menjadikan KKMP Banjarsari pilihan, terlebih hadirnya sistem digitalisasi memudahkan masyarakat untuk berbelanja.