Semarang, IDN Times - Asrori mulai beranjak dewasa saat tragedi berdarah 30 September 1965 meletus. Hari sudah larut malam saat ia tergopoh-gopoh menuju pinggir Hutan Plumbon.
Rombongan tentara berpakaian loreng-loreng yang naik sebuah truk sekelebat masuk ke dalam hutan. Asrori yang saat itu berusia 15 tahun melihat dengan jelas tatkala 12 orang dibawa paksa menuju sebuah lubang.
"Tangannya diikat begini. Yang bawa itu RPKAD, pakaiannya loreng-loreng jadi orang kampung sudah hafal," kata Asrori kepada IDN Times di rumahnya, sembari memperagakan kedua jempol diikat dengan gerakan tubuh membungkuk.
