Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Duh! Ditemukan Piagam Marching Band Palsu saat PPDB SMA Favorit di Semarang
Pendaftaran berkas PPDB di SMAN 1 Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Puluhan siswa marching band gagal lolos seleksi PPDB di tiga SMA favorit Semarang karena pemalsuan piagam.
  • Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Jateng ragu keabsahan piagam marching band yang digunakan siswa.
  • 60 siswa terlibat, pelatih sudah mencabut penggunaan piagam palsu untuk PPDB. Disporapar akan evaluasi untuk mencegah pemalsuan piagam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Puluhan siswa yang menjadi anggota marching band dipastikan gagal lolos seleksi PPDB di tiga SMA favorit di Kota Semarang lantaran terlibat pemalsuan piagam marching band. Piagam yang dipalsukan ditemukan di SMAN 1 Semarang, SMAN 3 Semarang dan SMAN 5 Semarang. 

Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng menyebutkan piagam marching band yang digunakan para siswa itu diragukan keabsahannya karena terindikasi muncul kecurangan. 

1. Disporapar ungkap aksi pemalsuan piagam marching band

Ilustrasi posko pengaduan PPDB. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Surya Deta Syafrie, Pelaksana Harian Kepala Disporspar Jateng mengatakan dari hasil klarifikasi sejumlah pihak termasuk ke pelatih marching band, dinyatakan piagam marching band yang dibawa untuk seleksi PPDB tidak sesuai dengan hasil yang diumumkan panitia penyelenggara lomba. 

"Pihak pelatih sudah membuat surat pernyataan bahwa piagam itu tidak sesuai dengan hasil yang diraih di Malaysia. Yakni seharusnya peraih bronze, dia nulisnya mendapat emas atau peringkat pertama. Maka dia juga sudah mencabut penggunaan piagam itu untuk PPDB," kata Surya, Senin (1/7/2024). 

2. Anggota marching band ada 60 siswa

Hari terakhir pendaftaran PPDB di SMAN 3 Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Surya juga menuturkan piagam marching band tersebut diragukan keabsahannya walaupun dikeluarkan oleh penyelenggara lomba tingkat internasional. 

Lebih jauh, ia memperkirakan piagam marching band tersebut dimiliki 60 siswa yang menjadi anggota marching band. 

"Dari informasi teman-teman yang melakukan seleksi ada 60 orang ini," ungkapnya. 

3. Plh Kepala Disporapar: Piagamnya ora cetho

Posko pengaduan PPDB di Kantor DInas Pendidikan Tulungagung. IDN Times/ Bramanta Pamungkas

Diakuinya pula bahwa sebenarnya pihaknya sudah berusaha membantu semua calon siswa agar bisa diterima di sekolah favoritnya. 

Maka dalam kasus pemalsuan piagam marching band kali ini pihaknya juga sempat meminta kelengkapan syarat-syarat. Mulai dari dokumen piagam yang dilegalisir sekolah, legalisir surat pernyataan dari Pengurus Persatuan Drum Band Indonesia Pengcab Jawa Tengah serta meminta calon siswa membawa duplikat piagam ke sekolah yang dituju.

"Kami sebenarnya sudah ada juknisnya. Sesuai persyaratan sudah dipenuhi semua. Mulai dokumen sudah dilegalisir sekolah, juga dari pengurus provinsi dari persatuan drum band Indonesia. Membawa piagam yang seolah-olah asli. Kami kan positive thinking, niatnya bantu aja. Di tengah jalan ada pengaduan diklarifikasi muncul piagam yang diragukan keabsahannya. Pelatih sudah buat surat pernyataan ke disdik untuk ditarik saja. Piagamnya ora cetho lah (red: tidak jelas)," ujar Surya. 

4. Disporapar klaim jadi korban

Suasana daftar ulang PPDB di SMAN 1 Kedungwaru. IDN Times/ Bramanta Pamungkas

Karena itulah, ke depan pihaknya akan melakukan evaluasi kembali untuk menghindari aksi pemalsuan piagam saat pelaksanaan PPDB. Untuk kasus pemalsuan piagam, katanya pihaknya juga menjadi korban. 

"Ini jadi pembelajaran buat kita, bagaimana kita lebih berhati hati lagi. Wong kalau saya lihat, Disporapar ini juga bisa dalam tanda kutip adalah korban. Karena apa? Karena yang kami lakukan adalah berpikiran positif, memberi bantuan tidak angel  (sulit) terhadap orang orang yang mengajukan perizinan," cetusnya. 

Ia juga mengimbau orang tua siswa agar jangan berbuat curang. Sebaiknya orang tua siswa bersikap normatif ketika mendaftarkan anaknya ke sekolah favorit. 

"Saya tuh mengimbau, orang tua murid maupun muridnya sendiri untuk pede aja, yakin denga  prestasi yang benar-benar didapatkan. Kalau memang tidak didapatkan ya jangan dibuat-buat, itu pembelajaran untuk anak anak menjadi punya budi pekerti dan karakter baik," kata Surya. 

Editorial Team

Related Article