Harga Plastik Jateng Naik, UMKM Menjerit, Pemprov Pantau Penimbunan

- Harga plastik di Jawa Tengah melonjak akibat gangguan pasokan global dan kenaikan harga naphta dari 600 menjadi 900 dolar AS per ton.
- UMKM sektor pangan paling terdampak karena ketergantungan tinggi pada kemasan plastik, sementara pemerintah memastikan belum ada penimbunan namun tetap memperketat pengawasan.
- Pemprov Jateng mendorong adaptasi dengan penggunaan kantong ramah lingkungan dan bioplastik berbasis pati singkong sebagai langkah menuju bahan berkelanjutan.
Semarang, IDN Times – Masyarakat dan pelaku usaha mikro di Jawa Tengah kini harus memutar otak lebih keras. Pasalnya, harga plastik di pasaran melonjak tajam menyusul gangguan pasokan bahan baku global. Kenaikan ini pun mulai memberikan tekanan berat pada biaya produksi, terutama bagi sektor makanan dan minuman.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng, July Emmylia, mengungkapkan bahwa lonjakan harga dipicu oleh ketegangan geopolitik di Selat Hormuz. Hal ini menyebabkan harga naphta (bahan baku plastik) terbang dari 600 dolar AS menjadi 900 dolar AS per ton.
Kenaikan ini bukan sekadar angka di atas kertas bagi warga. Sektor Industri Kecil Menengah (IKM) dan UMKM pangan menjadi pihak yang paling terdampak karena plastik merupakan kemasan primer yang sulit digantikan.
"Tekanan terberat ada di pelaku usaha sektor pangan karena penggunaan plastik sangat intens. Sementara sektor furnitur atau tekstil mungkin hanya terdampak di kemasan sekunder," jelas Emmy di Semarang, Jumat (10/4/2026).
Merespons keresahan warga akan kelangkaan barang, Pemprov Jateng memastikan hingga saat ini belum ditemukan adanya praktik penimbunan. Namun, untuk menjaga situasi tetap kondusif, pemerintah akan menggandeng kepolisian guna melakukan pengawasan ketat di lapangan.
"Kami akan turun langsung bersama kepolisian untuk memonitor stok dan mencegah adanya oknum yang mencoba menimbun plastik di tengah situasi sulit ini," tegasnya.
Saatnya Beralih ke Kantong Ramah Lingkungan?
Di balik kesulitan ini, pemerintah mengimbau masyarakat dan UMKM untuk mulai beradaptasi. Penggunaan tas belanja reusable dan tumbler kembali digencarkan sebagai solusi jangka pendek. Untuk jangka panjang, substitusi bahan baku ke bioplastik berbasis pati singkong mulai didorong meski harganya saat ini masih lebih mahal.
"Kesulitan ini sebenarnya bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk bertransformasi ke bahan yang lebih ramah lingkungan," pungkas Emmy.

















