Harga Sayur Bergejolak, Pemkot Semarang Redam dengan Gencarkan Operasi Pasar

- Harga bawang merah di Semarang melonjak hingga Rp55 ribu per kilogram, naik sekitar 30 persen dari harga acuan pemerintah, disertai kenaikan beberapa komoditas sayur lainnya.
- Pemerintah Kota Semarang menggelar operasi pasar melalui program Kempling Semar dengan armada keliling yang menjual bahan pangan lebih murah untuk menekan inflasi dan menjaga stabilitas harga.
- Dinas Ketahanan Pangan bersama mitra seperti PAK RAHMAN dan BUMD JTAB menambah pasokan sayur ke Pasar Peterongan serta memperkuat pengawasan harga lewat Satgas Saber Harga.
Semarang, IDN Times - Kenaikan harga sayur dan bawang merah mulai dirasakan masyarakat Kota Semarang dalam beberapa hari terakhir. Meredam gejolak pasar tersebut, Pemerintah Kota Semarang pun bergerak cepat melakukan penanganan melalui operasi pasar.
1. Bawang merah tembus Rp55 ribu per kilogram

Salah satunya dengan menurunkan program Gerakan Pangan Murah (GPM) Kempling Semar untuk menahan laju kenaikan harga sekaligus menjaga inflasi pangan tetap terkendali.
Untuk diketahui, kenaikan harga paling mencolok terjadi pada bawang merah yang tembus Rp55 ribu per kilogram atau sekitar 30 persen di atas Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp41.500 per kilogram. Selain itu, sejumlah harga sayur juga mulai bergerak naik di tingkat pasar tradisional.
Seperti tomat Rp12.000 per kilogram, wortel Rp15.000 per kilogram, cabai keriting Rp35.000 per kilogram, dan cabai rawit Rp55.000 per kilogram. Lalu, harga sejumlah komoditas terpantau di antaranya beras SPHP Rp60.000 per 5 kilogram, minyak goreng Rp23.000 per liter, telur ayam Rp27.000 per kilogram, gula pasir Rp18.500 per kilogram, bawang putih Rp40.000 per kilogram, ayam potong Rp27.000 per kilogram
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, memastikan kondisi harga pangan pokok di Kota Semarang secara umum masih relatif aman meski terdapat lonjakan pada sejumlah komoditas hortikultura.
“Harga semua komoditas penting yang dipantau pemerintah relatif aman. Memang ada kenaikan, tetapi masih dalam kondisi yang aman. Hanya bawang putih yang masih berada di atas HAP atau HET yang ditetapkan pemerintah,” ungkapnya di sela pemantauan bersama Tim Satgas Saber Harga dan Kualitas Pangan di Pasar Peterongan, Rabu (10/6/2026).
1. Lakukan intervensi pasar lewat program Kempling Semar

Merespons kondisi tersebut, Agustina langsung menginstruksikan Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang untuk melakukan intervensi pasar melalui program Kempling Semar atau Ketahanan Pangan Keliling Semarang.
Program itu menggunakan armada keliling yang menjual bahan pangan dan sayuran dengan harga lebih murah dibanding pasar.
Langkah intervensi dinilai penting di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap lonjakan harga pangan segar yang belakangan menjadi isu nasional, terutama akibat distribusi dan pasokan yang tidak stabil di sejumlah daerah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih mengatakan, pihaknya juga menggandeng sejumlah mitra untuk menggelontorkan pasokan sayur ke Pasar Peterongan agar harga kembali stabil.
“Mitra tersebut di antaranya program PAK RAHMAN, Sayur Yuni, dan BUMD JTAB yang menyalurkan stok sayuran ke Pasar Peterongan,” ujarnya.
3. Gelontorkan pasokan sayur ke pasar

Menurut Endang, intervensi pasokan menjadi strategi cepat untuk menahan gejolak harga di tingkat konsumen. Pada Selasa pagi, distribusi tambahan sayuran sudah mulai dilakukan ke pasar tradisional.
“Pagi ini kami melakukan intervensi bersama mitra dengan menggelontorkan pasokan sayuran ke Pasar Peterongan sehingga harga sayuran bisa lebih terkendali,” katanya.
Pemkot Semarang juga terus melakukan pengawasan harga bersama Satgas Saber Harga dan Kualitas Pangan yang melibatkan Polrestabes Semarang, Dinas Perdagangan Kota Semarang, dan Bulog Kanwil Semarang.
“Kami berharap operasi pasar murah dan penguatan distribusi pasokan mampu mencegah lonjakan harga pangan meluas menjelang periode konsumsi tinggi masyarakat,” tandas Endang.


















