Alumni Fakultas Kedokteran Undip, Dr. dokter. Budi Laksono, M.HSc., atau dikenal sebagai Dokter Jamban sedang datang kembali ke kampus almamaternya di Gedung Widya Puraya Undip Tembalang untuk membawa satu misi yang belum selesai, yakni memastikan seluruh keluarga Indonesia memiliki akses sanitasi layak. (dok. Undip)
Jika satu rumah dihuni empat orang, maka gerakan itu telah menyentuh sedikitnya empat juta jiwa. Selanjutnya di balik isu sanitasi, tersimpan ancaman kesehatan yang jauh lebih besar. Buruknya akses jamban masih menjadi salah satu penyebab tingginya kasus diare, kecacingan, hepatitis A, tifus, hingga stunting pada anak.
Persoalan ini menjadi relevan di tengah perhatian nasional terhadap bonus demografi dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurut Budi, kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) menyebabkan rantai penularan penyakit terus terjadi melalui pencemaran lingkungan.
“Kuman usus manusia bisa menyebar lewat lingkungan yang tercemar. Itu yang sering tidak disadari,” ujarnya.
Maka itu, gerakan jambanisasi yang ia lakukan bukan sekadar membangun toilet, melainkan mengubah perilaku masyarakat. Salah satu metode unik yang dikembangkannya bahkan dikenal dengan istilah “Hypnolatrine”, yakni pendekatan edukasi dan motivasi kepada warga sebelum pembangunan jamban dilakukan.
Warga didata dari rumah ke rumah. Mereka yang belum memiliki WC atau jambannya rusak dikumpulkan, diberi pemahaman tentang sanitasi, lalu diberikan stimulan material untuk segera membangun jamban secara gotong royong.
Pendekatan tersebut kemudian diadopsi secara nasional oleh TNI Angkatan Darat melalui program GEMA SANG JUARA (Gerakan Membangun Satu Juta Jamban Keluarga). Melalui keterlibatan 52 ribu Babinsa di seluruh Indonesia, gerakan itu berhasil membangun lebih dari 1.037.876 jamban keluarga.