Jadi Lokasi Diskusi Wadas, Kafe di Semarang Didatangi Polisi

Semarang, IDN Times - Sebuah kafe yang berada di Jalan Banjarsari, Semarang terpaksa membatalkan acara diskusi bertajuk Wadas Bareng Jejaring Warga Jawa Tengah. Diskusi yang awalnya diadakan pada Jumat (8/2/2022), pada akhirnya harus digeser tempatnya karena pemilik kafe mendapat ancaman dari aparat kepolisian.
Informasi ihwal pergeseran lokasi diskusi Wadas disampaikan oleh Cornel Gea, seorang anggota LBH Semarang. Cornel mengirimkan pemberitahuan kepada IDN Times sekitar jam 16.30 bahwa lokasi diskusi Wadas Bareng Jejaring Warga Jawa Tengah digeser ke lokasi yang masih dirahasiakan.
"Kami tetap melanjutkan diskusi, kami bergeser. Untuk detail tempat diskusi, kalian bisa bertanya kepada teman-teman dimana diskusi bergeser tempat," begitu pesan yang disampaikan Cornel kepada IDN Times via pesan WhatsApp.
1. Pemilik kafe mengaku diteror lewat WhatsApp

Cornel menuturkan semula dirinya dan teman-temannya berniat mengadakan diskusi bertajuk Wadas Kepada Tanah di Matera Caffe, Jalan Banjarsari Selatan, Semarang hari ini jam 15.00-17.30 WIB.
"Kamis malam, 17 Februari pemilik tempat acara sempat mendapat pesan WhatsApp dari kamtibmas. Dia mendapat informasi diskusi dari kanit Intel Polda Jawa Tengah, dan menanyakan perihal izin diskusi," kata Cornel.
2. Pemilik kafe ngaku didatangi polisi dan meminta diskusi dibatalkan

Kemudian, menurut Cornel pada hari Jumat pagi, pemilik tempat acara kembali didatangi oleh kepolisian. Polisi yang datang mengaku dari Polrestabes Semarang.
Polisi disebutnya datang meminta pemilik kafe agar segera membatalkan acara diskusi tentang Wadas.
"Pemilik tempat diminta untuk membatalkan diskusi Wadas bersama Warga dengan alasan yang tidak jelas dan tidak berdasar. Apabila tidak membatalkan diskusi, tempat diancam akan disegel," katanya.
3. Panitia tegaskan tak perlu surat pemberitahuan

Soal adanya intervensi dari pihak kepolisian, katanya acara diskusi merupakan kegiatan akademik yang termasuk kegiatan yang tidak memerlukan surat pemberitahuan.
"Sama seperti kegiatan perkuliahan dan ibadah, tidak perlu surat pemberitahuan," tegasnya.
4. Panitia pastikan terapkan protokol kesehatan

Ia menilai bahwa intervensi dari polisi jadi bukti kalau tindakan ini semakin membuat jelas negara takut terhadap demokrasi.
Negara takut masyarakat menceritakan fakta-fakta kejahatan pembangunan yang dilakukan oleh Negara melalui berbagai proyek infrastruktur.
Soal aturan protokol kesehatan yang ditujukan kepadanya, Cornel menegaskan panitia dan pemilik tempat telah memastikan protokol kesehatan berjalan dan melakukan pembatasan peserta.
"Sekali lagi, pembubaran diskusi ini cara lembaga kepolisian mencoret sendiri mukanya dan menambah catatan buruk kepolisian," tegasnya.
5. Kapolrestabes Semarang bantah ada intervensi

Sedangkan, Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Irwan Anwar membantah tudingan berusaha membatalkan acara diskusi yang membahas soal Wadas di Matera Caffe.
Ia mengaku juga tidak pernah menyuruh personelnya dan intel untuk menakut-nakuti pemilik kafe. "Tidak ada upaya seperti itu. Boleh-boleh aja kok kalau make diskusi. Saya pastikan tidak ada intelkam yang ke sana," kata Irwan kepada IDN Times via telepon.
6. Polisi izinkan diskusi Wadas tetap digelar

Irwan berkata memang ada unsur kepolisian yang datang ke Matera Caffe yang jadi lokasi diskusi Wadas, namun hanya sekadar menanyakan kesiapan protokol kesehatan kepada panitia. "Saya sudah telepon panitianya. Dan mereka boleh mengadakan acara apapun, sejelek apapun boleh. Kalau perlu saya back up sendiri, tapi kalau tidak butuh pengamanan ya gak apa-apa. Yang jelas kita musti memastikan aturan prokesnya," pungkasnya.


















