Semarang, IDN Times - Kasus kekerasan seksual terhadap anak, baik yang dilakukan oleh orang terdekat (inses) maupun pihak luar, kian marak terjadi. Pada situasi darurat ini, relevansi keterlibatan aktif sosok ayah dalam keluarga menjadi sangat krusial.
4 Konsep Pengasuhan Laki-Laki Baru Cegah Kekerasan Anak dan Fatherless

Konsep 'Laki-Laki Baru' mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak sebagai tanggung jawab bersama, menantang norma tradisional yang membatasi peran ayah hanya sebagai pencari nafkah.
Keterlibatan ayah mencakup edukasi anak tentang risiko kekerasan seksual sejak dini, termasuk pemahaman dunia maya dan kesehatan reproduksi dengan pendekatan suportif dan terbuka.
Solusi bagi keluarga tanpa sosok ayah ditawarkan melalui konsep caregiver dan community parenting, di mana laki-laki dewasa sekitar berperan aktif mendukung tumbuh kembang anak.
Sayangnya, Indonesia masih dibayangi oleh fenomena fatherless — kondisi di mana peran dan kehadiran ayah sangat minim dalam pengasuhan anak.
Menyikapi hal tersebut, konsep "Laki-Laki Baru" yang diusung oleh Aliansi Laki-Laki Baru menawarkan solusi konkret. Konsep ini mendorong perubahan paradigma tradisional demi mengoptimalkan tumbuh kembang anak sekaligus mencegah risiko kekerasan sejak usia dini.
1. Konsep ‘’Laki-Laki Baru’’ dobrak norma tradisional

Pendiri Aliansi Laki-Laki Baru, Nur Hasyim mengatakan, selama ini norma sosial yang hidup di masyarakat masih meyakini bahwa urusan pengasuhan anak sepenuhnya merupakan tanggung jawab ibu. Sementara itu, peran ayah kerap direduksi sebatas pencari nafkah atau pemenuh kebutuhan material semata.
‘’Konsep "Laki-Laki Baru" ini hadir untuk mendobrak nilai-nilai tradisional tersebut. Gagasan ini menawarkan cara pandang baru di mana pengasuhan anak adalah tanggung jawab bersama antara perempuan dan laki-laki,’’ katanya di sela kegiatan Forum Group Discussion (FGD) Penguatan Pengasuhan Anak Usia Dini yang digelar Tanoto Foundation bersama Pemerintah Kota Semarang, komunitas, praktisi pendidikan, dan media, Jumat (26/6/2026).
Laki-laki baru adalah mereka yang memilih untuk terlibat aktif dalam kerja-kerja domestik dan pengasuhan anak tanpa harus merasa terstigma negatif. Sebaliknya, pilihan hidup untuk terlibat aktif dalam ranah yang selama ini dianggap sebagai "wilayah perempuan" ini harus mendapatkan penghargaan dan rasa hormat dari masyarakat.
2. Edukasi Risiko Kekerasan Seksual Sejak Dini

Pakar dan aktivis gender ini menerangkan, keterlibatan ayah dalam pengasuhan bukan hanya soal pengawasan atau perlindungan fisik, melainkan juga edukasi aktif. Ayah dituntut untuk mampu mengedukasi anak-anak mereka—terutama anak perempuan—mengenai risiko-risiko kekerasan seksual yang mungkin mereka hadapi.
‘’Edukasi ini mencakup pemahaman tentang risiko kekerasan seksual di dunia maya online, maupun ancaman nyata dari lingkungan sekitar seperti teman, pacar, hingga guru di institusi pendidikan,’’ terangnya.
Lebih lanjut, Dosen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN Walisongo Semarang ini menjelaskan, pintu masuk terbaik untuk memulai dialog kesehatan reproduksi ini adalah saat anak perempuan mengalami menstruasi pertama kali. Alih-alih merespons dengan kemarahan atau membatasi pergaulan secara sepihak, ayah harus hadir memberikan edukasi yang suportif mengenai risiko kesehatan reproduksi serta langkah-langkah pencegahan yang bisa dilakukan anak.
3. Community Parenting dan Caregiver sebagai solusi Fatherless

Lalu, bagaimana jika sebuah keluarga memang tidak memiliki sosok ayah, baik karena kondisi ibu tunggal maupun karena ayah telah meninggal dunia?
Untuk mengatasi kekosongan ini, Hasyim menawarkan, konsep caregiver atau pengasuh bisa menjadi sangat penting. Peran pengasuh tidak terbatas pada orang tua kandung, melainkan melibatkan orang-orang dewasa di sekitar anak.
‘’Dalam konteks ini, laki-laki dewasa di lingkungan sekitar seperti paman atau pakde dapat mengambil alih fungsi-fungsi seorang ayah. Selain itu, masyarakat juga bisa menerapkan konsep community parenting atau pengasuhan berbasis komunitas. Melalui kesepakatan bersama, para laki-laki di suatu komunitas dapat bergotong-royong menjalankan peran ayah bagi anak-anak di lingkungan mereka,’’ jelasnya.
4. Menuju maskulinitas baru yang positif

Sementara, meskipun survei kuantitatif secara menyeluruh belum dilakukan, perkembangan diskursus mengenai keterlibatan laki-laki di ranah domestik menunjukkan tren yang positif. Saat ini, mulai tumbuh konsep maskulinitas baru yang lebih manusiawi dan tidak beracun atau non-toxic.
‘’Maskulinitas baru ini ditunjukkan melalui tindakan nyata, yakni laki-laki yang aktif mengasuh anak, bekerja sama mengurus rumah tangga dengan pasangan, serta menyelesaikan konflik atau perbedaan pendapat dengan cara-cara non kekerasan. Bahkan, munculnya narasi tandingan bahwa "laki-laki boleh bercerita dan mengekspresikan emosinya" menjadi bagian penting dari perkembangan isu ini demi menciptakan lingkungan keluarga yang lebih sehat dan aman bagi anak,’’ tandas Hasyim.

















