Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bukan Cuma Cari Nafkah! Ini Peran Ayah Cegah Kekerasan Seksual Anak

Bukan Cuma Cari Nafkah! Ini Peran Ayah Cegah Kekerasan Seksual Anak
Ilustrasi ayah anak (pexels.com/Matheus Bertelli)
Intinya Sih
  • Nur Hasyim menegaskan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak adalah kewajiban penting untuk mencegah kekerasan seksual, bukan sekadar peran pencari nafkah seperti yang masih diyakini masyarakat.

  • Ayah perlu hadir aktif dalam edukasi anak tentang risiko kekerasan seksual, termasuk isu kesehatan reproduksi dan keamanan di lingkungan sosial maupun dunia maya.

  • Konsep community parenting ditawarkan agar figur ayah dapat digantikan oleh laki-laki dewasa lain di sekitar anak, guna mengatasi fenomena fatherless di masyarakat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Semarang, IDN Times – Kasus kekerasan dan pencabulan seksual terhadap anak yang marak terjadi belakangan ini kerap menempatkan laki-laki sebagai pelaku. Pada situasi yang memprihatinkan ini, momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 dengan tema "Ayah Wajib Hadir" dinilai memiliki relevansi yang sangat tinggi. 

1. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak sebuah kewajiban

Pakar sekaligus aktivis gender dari UIN Walisongo, Nur Hasyim. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
Pakar sekaligus aktivis gender dari UIN Walisongo, Nur Hasyim. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Pakar sekaligus aktivis gender, Nur Hasyim menegaskan, bahwa keterlibatan aktif seorang ayah dalam pengasuhan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban krusial untuk melindungi anak dari ancaman kekerasan seksual.

Menurutnya, fenomena fatherless atau minimnya kehadiran sosok ayah di Indonesia masih sangat kuat. Hal ini dipicu oleh norma sosial tradisional yang menganggap urusan pengasuhan anak sepenuhnya adalah tanggung jawab ibu, sementara ayah cukup berperan sebagai pencari nafkah materiil saja.

"Keterlibatan ayah di dalam pengasuhan sangat rendah. Ini dipengaruhi oleh norma sosial yang hidup di dalam masyarakat kita yang masih meyakini bahwa soal pengasuhan itu masih menjadi tanggung jawab ibu," ujarnya di sela acara kegiatan Forum Group Discussion (FGD) Penguatan Pengasuhan Anak Usia Dini yang digelar Tanoto Foundation bersama Pemerintah Kota Semarang, komunitas, praktisi pendidikan, dan media, Jumat (26/6/2026).

2. Peran ayah harus masuk ke ranah edukasi aktif

ilustrasi keakraban ayah anak (pexels.com/Nathan Cowley)
ilustrasi keakraban ayah anak (pexels.com/Nathan Cowley)

Dosen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN Walisongo Semarang ini menjelaskan, bahwa dalam menghadapi ancaman kekerasan seksual—baik kasus inses di dalam keluarga maupun kekerasan oleh laki-laki lain di luar rumah—peran ayah sangat penting. Bentuk kehadiran ayah tidak boleh hanya sebatas pengawasan pasif atau perlindungan fisik, melainkan harus masuk ke ranah edukasi aktif.

"Penting ayah itu juga terlibat mengedukasi anak di dalam mekanisme pengasuhan tentang risiko yang mungkin mereka hadapi," ungkapnya.

Pendiri Aliansi Laki-Laki Baru ini memaparkan, beberapa poin penting mengapa edukasi dari ayah sangat krusial. Pertama, ayah harus mengedukasi anak, terutama anak perempuan, mengenai risiko kekerasan seksual yang bisa datang dari dunia maya, maupun dari lingkungan sosial mereka seperti teman, pacar, hingga guru di lingkungan pendidikan.

Kedua, saat anak perempuan mengalami menstruasi pertama kali, momen ini harus dijadikan pintu masuk bagi ayah untuk berbicara terbuka mengenai kesehatan reproduksi dan risiko-risiko yang menyertainya. Ketiga, alih-alih merespons dengan kemarahan atau sekadar membatasi pergaulan anak secara ketat, ayah harus membekali anak perempuan mereka dengan pemahaman tentang apa yang bisa dilakukan untuk mencegah risiko kekerasan tersebut terjadi.

3. Peran figur ayah tidak terbatas pada orang tua kandung saja

ilustrasi ayah anak bermain (pexels.com/Tatiana Syrikova)
ilustrasi ayah anak bermain (pexels.com/Tatiana Syrikova)

Selanjutnya, menjawab tantangan tingginya angka anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah atau kini akrab disebut fatherless—baik karena perceraian atau single mother maupun karena ayah meninggal dunia—Nur Hasyim menawarkan konsep caregiver atau pengasuh melalui community parenting.

Menurutnya, peran figur ayah tidak terbatas pada orang tua kandung saja, melainkan bisa digantikan oleh laki-laki dewasa lain di sekitar anak, seperti paman atau pakde.

"Bagaimana para laki-laki di komunitas itu, ketika mereka bersepakat untuk membangun community parenting, mereka bisa menjalankan peran-peran ayah bagi anak-anak di komunitas mereka. Ini bagi saya penting sekali," tandas Hasyim.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana

Latest News Jawa Tengah

See More