Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jalan Panjang Tincnori dari Karya Wastra Lokal Menuju Pasar Global
Seorang konsumen menjajal produk pakaian jadi buatan Tincnori yang berkolaborasi dengan desainer asal Perancis, Clementine Lefevre di rumah produksi di Dusun Jlamprang Wetan RT 03/RW06, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, belum lama ini. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
  • Tinctori di Desa Gemawang berkembang dari penjualan pasta indigo sejak 2008 menjadi produsen wastra dan pakaian jadi, melibatkan sekitar 60 pekerja dari perkebunan hingga garmen.
  • Penjualan melalui Shopee meningkatkan transaksi sekitar dua kali lipat; kanal ini menyumbang 40–60 persen penjualan Original Line dan 20 persen omzet, sekaligus menggerakkan produksi hingga 2.000 kemeja bulanan.
  • Tinctori pernah menjual ke Malaysia lewat Program Ekspor Shopee dan memperluas kolaborasi kreatif, namun ekspor ditunda demi kesiapan produksi; digitalisasi menuntut kualitas, kapasitas, legalitas, serta pemanfaatan data.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2008

Muhammad Muhdi merintis usaha dengan menanam indigo dan menjual pasta pewarna alam dari pintu ke pintu.

2010

Saiful Nurudin pulang dari Jakarta dan mulai terlibat dalam bisnis pasta pewarna alam. Ia mempelajari penggunaan pewarna alami untuk berbagai teknik wastra.

2011

Tinctori memperluas usaha ke jasa pencelupan kain, produksi wastra, dan produk batik di bawah CV. Tincnori Karya Sejahtera. Usaha ini mulai memberdayakan warga sekitar.

2021

Tinctori resmi memulai divisi garmen dengan slogan “Dari Kebun Sampai ke Karya” untuk menghasilkan produk jadi bernilai tawar lebih tinggi.

akhir tahun 2022

Tinctori berkembang memproduksi pakaian siap pakai setelah sebelumnya menjual tali sepatu batik dan tali masker.

2025

Diskumperindag Kabupaten Semarang mencatat 89.084 usaha mikro di daerah tersebut.

2026

Tinctori mengerjakan outfit untuk Kunto Aji dan anggota orkestra dalam Konser Urup 2026. Tinctori juga berkolaborasi dengan Orasis Art Space untuk Surabaya Art Prize 2026.

Juni 2026

Jumlah usaha mikro di Kabupaten Semarang bertambah sekitar 9.090 unit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Tinctori, UMKM fesyen dan kriya berbasis pewarna alam indigo, memperluas penjualan produk wastra dan pakaian siap pakai melalui Shopee, dengan peningkatan transaksi yang turut menambah aktivitas produksi.
  • Who?
    Saiful Nurudin sebagai pendiri dan pemilik Tinctori, Sri Purwati serta sekitar 60 pekerja produksi, konsumen Shopee, Diskumperindag Kabupaten Semarang, dan Shopee Indonesia terlibat dalam perkembangan usaha ini.
  • Where?
    Produksi Tinctori berlangsung di Dusun Jlamprang Wetan RT 03/RW 06, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Produk dijual ke berbagai wilayah Indonesia dan pernah dikirim ke Malaysia.
  • When?
    Usaha dimulai dari penjualan pasta indigo pada 2008, berkembang menjadi produsen wastra pada 2011, membuka divisi garmen pada 2021, dan memproduksi pakaian siap pakai sejak akhir 2022. Perkembangan terkini disampaikan Agustus 2026.
  • Why?
    Tinctori membuat produk jadi karena pasta pewarna dan kain mentah kerap kurang laku atau ditawar murah. Penjualan digital digunakan untuk memperluas pasar dan meningkatkan nilai tawar produk berbasis pewarna alam.
  • How?
    Tinctori menjual lebih dari 100 produk manual melalui toko resmi Shopee, mengikuti program gratis ongkir, kampanye, dan iklan berbayar. Pesanan digital diteruskan ke proses pewarnaan, pemotongan, penjahitan, pemeriksaan, pengemasan, dan pengiriman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Tinctori di Desa Gemawang membuat kain dan baju biru dari pewarna alam. Saiful meneruskan usaha ayahnya. Wati dan banyak pekerja menjahit pesanan. Setelah jualan di Shopee, pesanan jadi lebih banyak. Baju mereka pernah dibeli sampai Malaysia. Sekarang Tinctori belum kirim ke luar negeri lagi karena sedang menyiapkan stok.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perjalanan Tinctori menunjukkan bagaimana keterampilan berbasis pewarna alam dapat tetap berakar di Desa Gemawang sambil menemukan pembeli melalui kanal digital. Bertambahnya pesanan bukan hanya memperluas jangkauan produk manual, tetapi juga menghadirkan pekerjaan bagi Wati dan puluhan pekerja di kebun, pewarnaan, pembatikan, serta garmen, dengan pertumbuhan yang tetap diperhitungkan sesuai kesiapan produksi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times - Pada sebuah desa di Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, warna biru tidak sekadar menjadi warna. Ia menjadi pekerjaan, identitas, sumber penghasilan, dan karya yang berkelanjutan.

Perjalanan panjang dari selembar kain

Seorang pekerja Tinctori sedang menjemur kain yang sebelumnya melalui proses celup dengan bahan pewarna alam indigo di rumah produksi Dusun Jlamprang Wetan, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, belum lama ini. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Suara mesin jahit terdengar dari ruang produksi Tinctori, sebuah jenama usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) fesyen dan kriya berbasis pewarna alam di Dusun Jlamprang Wetan RT 03/RW06, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Dari balik meja kerja itu, Sri Purwati mengarahkan kain dengan kedua tangannya melewati jarum yang menancap di mesin dan tersambung benang. Jahitan demi jahitan diselesaikan untuk mengubah lembaran kain berwarna biru indigo menjadi pakaian siap pakai.

Bagi perempuan yang akrab disapa Wati itu, bertambahnya suara mesin bukan sekadar rutinitas produksi. Itu pertanda ada pesanan yang harus diselesaikan. Semakin banyak order masuk, semakin banyak pula pekerjaan yang dikerjakan.

“Tambah order, tambah senang,” ungkapnya singkat saat ditemui, Kamis (20/8/2026).

Ungkapan perempuan berusia 43 tahun itu menggambarkan sisi yang kerap luput dari cerita ekonomi digital. Dari layar gawai konsumen, sebuah transaksi mungkin hanya terlihat sebagai satu produk yang masuk keranjang, lalu dibayar dengan beberapa sentuhan jari.

Padahal, di balik satu transaksi itu ada perjalanan panjang dari selembar kain yang awalnya berwarna putih, kemudian diwarnai dengan bahan pewarna alam, dipotong, dijahit, diperiksa, dikemas, dikirim hingga sampai ke tangan konsumen. Dan dari proses itu, tentu saja ada jasa Wati, seorang ibu pekerja yang menghidupi dua anak dan merasakan dampaknya memperoleh penghasilan dari usaha tersebut.

Bermula dari jualan pasta pewarna alam

Daun indigo bahan baku pewarna alami yang memberikan warna biru pada produk wastra, fesyen dan kriya Tinctori di Dusun Jlamprang Wetan, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Menilik ke belakang, usaha Tinctori yang diambil dari nama tanaman indigo tertua, yaitu Indigofera tinctoria itu tidak lahir sebagai bisnis pakaian jadi yang langsung mengandalkan lokapasar atau marketplace. Pendiri sekaligus pemilik Tinctori, Saiful Nurudin mengembangkan usaha sang ayah, Muhammad Muhdi yang semula berjualan pasta pewarna alam indigo dari pintu ke pintu pada tahun 2008, berlanjut menjadi produsen wastra dan pakaian jadi siap pakai pada tahun 2011.

‘’Bisnis ini awalnya dirintis oleh bapak saya pada tahun 2008. Pada masa itu, bapak hanya fokus menanam tanaman indigo di desa ini lalu mengolah dan menjualnya dalam bentuk bahan baku berupa pasta pewarna ke wilayah Jogja, Klaten, Pekalongan, dan Solo,’’ ungkapnya saat ditemui IDN Times.

Saiful yang sebelumnya bekerja sebagai sopir di Jakarta, pulang ke kampung halaman dan mulai terlibat bisnis pasta pewarna alam itu pada tahun 2010. Sembari berjualan pasta pewarna alam, Saiful belajar cara menggunakan pewarna alami itu untuk membuat batik, shibori, sashiko, jumputan dan teknik pencelupan lainnya. Pada tahun 2011, Tinctori mulai memperluas usahanya ke jasa pencelupan kain, memproduksi wastra dan produk batik di bawah naungan CV. Tincnori Karya Sejahtera. Untuk membantu usahanya, Saiful memberdayakan warga Dusun Jlamprang dan masyarakat desa di sekitarnya.

‘’Karena bahan baku pasta pewarna dan kain mentah sering kali kurang laku atau ditawar dengan harga yang sangat murah, kami memutuskan untuk membuat produk jadi sendiri agar memiliki nilai tawar lebih tinggi. Dan pada tahun 2021, kami resmi memulai divisi garmen dengan slogan ‘Dari Kebun Sampai ke Karya’,’’ kata lelaki berusia 37 tahun itu.

Produk jadi pertama yang dibuat dan dijual Tinctori adalah tali sepatu batik dan tali masker, yang laris manis di masa pandemik COVID-19. Kemudian, akhirnya berkembang memproduksi pakaian siap pakai pada akhir tahun 2022.

Perjalanan bisnis Tinctori yang memiliki filosofis dan harapan dapat berumur panjang dan memberikan manfaat bagi sesama seperti tanaman perdu indigo yang hingga kini tumbuh subur di Desa Gemawang itu berjalan beriringan dengan perubahan cara menjangkau konsumen terhadap produk wastra lokal dan pakaian siap pakai itu.

Tinctori manfaatkan lokapasar Shopee

UMKM wastra, fesyen dan kriya Tinctori memanfaatkan lokapasar Shopee untuk mengenalkan dan memasarkan produknya secara daring. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Tinctori mulai memanfaatkan lokapasar, seperti Shopee, sebagai salah satu kanal penjualan. Bagi UMKM yang ingin memperluas pasar, kehadiran lokapasar memberi keuntungan yang sulit diperoleh dari toko fisik saja.

Produk tidak lagi hanya menunggu konsumen datang ke rumah produksi atau mengenal Tinctori melalui jaringan lokal. Namun, bisa ditemukan melalui layar ponsel oleh konsumen dari berbagai daerah.

Pada toko resminya di Shopee, Tinctori menjual lebih dari 100 produk kain yang dibuat dengan teknik manual. Adapun, produk yang dijual antara lain pakaian indigo, shibori, batik tulis, tas natural dye, sashiko, hingga indigo kit. Toko tersebut memiliki lebih dari 4.000 pengikut dengan rating 4,9 dan berhasil menjangkau konsumen dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Bandung, Surabaya, Jakarta, hingga Riau.

Syaiful mengungkapkan, transaksi Tinctori meningkat sekitar dua kali lipat setelah mengembangkan penjualan melalui kanal digital. Jumlah pengiriman yang sebelumnya berada pada kisaran tertentu, kemudian dapat mencapai lima hingga enam resi per hari, bahkan sekitar 10 resi pada hari biasa. Bahkan, pada momen Lebaran permintaan di toko online bisa meningkat berkali lipat atau sekitar 20-30 pesanan per hari.

Ia menyebut, sekitar 40-60 persen penjualan lini produk original (Original Line) Tinctori berasal dari Shopee. Penjualan melalui toko orange itu juga menyumbang sekitar 20 persen dari total omzet keseluruhan bisnis Tinctori.

‘’Untuk mendongkrak penjualan di Shopee, kami aktif mengikuti berbagai program seperti gratis ongkir, gratis ongkir ekstra, kampanye angka kembar, serta menggunakan fitur iklan berbayar (ads),’’ kata Saiful.

Dampak transaksi digital

Pendiri dan pemilik usaha Tinctori, Saiful Nurudin sedang menyiapkan paket pesanan konsumen di Dusun Jlamprang Wetan, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Peningkatan penjualan itu terasa sampai di ruang produksi. Setiap resi yang dicetak, tandanya ada produk yang harus dibuat dan disiapkan. Dampak itu juga sangat berarti bagi Wati dan 60 pekerja lainnya di divisi perkebunan, pewarnaan, pembatikan, hingga garmen yang menggantungkan hidup pada Tinctori.

Penjahit seperti Wati bukan orang yang mengelola toko online Tinctori. Ia tidak mengatur algoritma lokapasar maupun membuat strategi pemasaran digital. Akan tetapi, ia merasakan dampak transaksi digital secara langsung. Ketika pesanan meningkat, pekerjaan menjahit ikut bertambah.

Adapun, Tinctori sendiri memiliki kapasitas produksi sekitar 1.000 hingga 2.000 potong kemeja per bulan. Bagi UMKM yang sedang berkembang, pertumbuhan bisnis bukan angka abstrak di laporan penjualan. Ia muncul dalam bentuk kain yang harus dijahit dan pakaian yang harus diselesaikan. Satu klik pembelian di layar konsumen akhirnya berubah menjadi pekerjaan bagi para pekerja yang setia.

Perjalanan Tinctori kemudian berkembang lebih jauh. Keberadaan Shopee tidak berhenti pada penjualan domestik. Wastra lokal dan produk pakaian jadi dengan dominasi warna biru itu juga pernah mengikuti Program Ekspor Shopee dan mendapatkan pembeli dari Malaysia.

Pengalaman tersebut memperlihatkan potensi lain dari UMKM dan lokapasar. Produk lokal yang berasal dari pelosok desa dan sebelumnya hanya dipasarkan di Kabupaten Semarang dapat ditemukan oleh konsumen di luar Indonesia.

‘’Kami juga sempat memanfaatkan program Ekspor Shopee untuk mengirimkan produk pakaian seperti kemeja ke luar negeri, dengan Malaysia sebagai tujuan terjauhnya,’’ ungkap Saiful.

Namun baginya, ekspor bukan sekadar persoalan menemukan pembeli. Ada persoalan kesiapan stok dan kemampuan memenuhi permintaan yang harus diperhitungkan. Maka itu, Tinctori belum kembali mengaktifkan program ekspor, karena ingin menyesuaikan kesiapan produksi terlebih dahulu.

Lokapasar membuka pintu ekonomi kreatif

Pendiri dan pemilik usaha Tinctori, Saiful Nurudin yang membangun bisnis wastra, fesyen, dan kriya dengan pewarna alami sejak tahun 2011 di Dusun Jlamprang Wetan, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Kendati demikian, pertumbuhan Tinctori kemudian tidak hanya terlihat dari penjualan. Jaringan kolaborasinya juga semakin luas. Tinctori bekerja sama dengan Clementine Lefevre, desainer asal Perancis dari École Supérieure de Design Marseille (éSDM). Clementine menjalani program magang sekaligus menciptakan koleksi kolaborasi bersama Tinctori.

Kolaborasi tersebut mempertemukan karakter produk lokal dengan perspektif desain dari lingkungan pendidikan kreatif internasional. Lalu, kerja sama Tinctori dengan ekosistem kreatif tidak berhenti di sana. Tinctori juga mengerjakan outfit untuk penyanyi Kunto Aji dan anggota orkestra dalam Konser Urup 2026. Karya tersebut kemudian dijual melalui lokapasar dan sejumlah toko mitra.

Tinctori juga berkolaborasi dengan Orasis Art Space dalam rangkaian Surabaya Art Prize 2026. Untuk kegiatan tersebut, mereka membuat tiga koleksi khusus. Kemudian di sektor lain, Tinctori membuat apron dan rompi untuk sejumlah kedai kopi, di antaranya Sekutu Kopi dari Surakarta dan Unsur Coffee.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kanal digital membuka jalan lebar bagi pertumbuhan UMKM. Lokapasar menjadi salah satu kanal penjualan, sementara kolaborasi membuka akses ke komunitas musik, seni, kuliner, desain dan industri kreatif.

Dengan demikian, digitalisasi bagi Tinctori akhirnya bukan lagi sekadar memindahkan toko dari dunia nyata ke internet. Digitalisasi juga menjadi pintu menuju ekosistem ekonomi kreatif yang lebih luas.

Digitalisasi bukan sekadar memindahkan toko luring ke daring

Para pekerja Tinctori sedang menjahit produk pakaian jadi dari wastra pewarna alami di rumah produksi di Dusun Jlamprang Wetan RT 03/RW06, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Kiprah jenama Tinctori sebagai UMKM yang tumbuh dan berkembang lewat digitalisasi seperti memanfaatkan lokapasar untuk mengenalkan dan memperluas pemasaran produknya itu ditanggapi oleh Pakar Bisnis Digital Universitas Diponegoro (Undip), Ardiaz Ajie Aryandika, S.Kom., M.B.A. Ia mengatakan, lokapasar kini sudah menjadi bagian dari kebutuhan dasar UMKM.

Menurut pria yang akrab disapa Ajie itu, UMKM tidak bisa lagi hanya mengandalkan penjualan offline atau luring. Namun, digitalisasi juga tidak boleh dipahami sekadar memindahkan toko dari luring ke daring.

“Tidak hanya channel-nya saja yang berubah tetapi proses bisnisnya juga berubah,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (29/8/2026).

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip itu menjelaskan, ketika berjualan konvensional, pelaku usaha mungkin mengandalkan brosur, koran atau interaksi langsung dengan pelanggan. Namun di dunia digital, mereka harus mempelajari cara baru untuk mendapatkan konsumen.

Mulai dari digital marketing, SEO, iklan marketplace, iklan media sosial, copywriting, visualisasi produk hingga pelayanan konsumen secara daring. Maka itu, memiliki toko online belum berarti UMKM sudah memaksimalkan digitalisasi.

‘’Masih ada pekerjaan berikutnya untuk UMKM di pasar digital. Salah satu indikator UMKM benar-benar naik kelas adalah ketika produk mereka laku dan dibeli secara konsisten oleh konsumen,’’ terang Ajie.

Menurutnya, digitalisasi memiliki keunggulan karena aktivitas konsumen dapat diukur. Mulai berapa orang yang melihat produk? Berapa yang tertarik? Berapa yang memasukkan barang ke keranjang? Berapa yang akhirnya membeli? Semua bisa dianalisis.

“Di digital itu enaknya semua metrik itu terukur. Maka itu, UMKM bisa mengevaluasi titik mana yang perlu diperbaiki. Dan data dari aktivitas digital itu dapat menjadi dasar untuk mengambil keputusan bisnis,” kata Ajie.

Selanjutnya, ia menjelaskan, bahwa UMKM Indonesia pada dasarnya sudah semakin melek digital. Marketplace dan media sosial sudah banyak digunakan. Namun, persoalannya adalah pemanfaatannya yang belum maksimal.

‘’Setelah memiliki toko online, pelaku usaha masih harus memikirkan bagaimana mendatangkan konsumen dan membuat produk terjual secara konsisten,’’ terangnya.

Kemudian, tantangan UMKM pada tahapan berikutnya adalah memanfaatkan AI (kecerdasan buatan) dalam usahanya.

‘’Jika marketplace, website dan media sosial kini sudah menjadi kebutuhan dasar, tantangan berikutnya adalah kemampuan UMKM mengadopsi teknologi AI dalam bisnis. Artinya, transformasi digital tidak berhenti pada punya akun, punya toko, berjualan online. Akan tetapi bergerak menuju membaca data, mengevaluasi, mengoptimalkan, dan mengambil keputusan bisnis,’’ tandas Ajie.

Digitalisasi UMKM di Kabupaten Semarang terus berkembang

Seorang pekerja Tinctori sedang menjahit produk pakaian jadi dari wastra pewarna alami di rumah produksi di Dusun Jlamprang Wetan RT 03/RW06, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Sementara, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Kabupaten Semarang mencatat jumlah usaha mikro per tahun 2025 di daerah tersebut mencapai 89.084. Sementara, penambahan hingga Juni 2026 sekitar 9.090 usaha mikro.

Menurut Kepala Diskumperindag Kabupaten Semarang, Heru Subroto, dari jumlah tersebut pihaknya belum dapat memastikan berapa banyak UMKM yang sudah masuk marketplace.

‘’Sebab, bentuk digitalisasi sangat beragam. Ada pelaku usaha yang menggunakan marketplace, media sosial dan WhatsApp Business. Ada pula yang baru mulai masuk digital. Jadi yang penting bukan sekadar jumlah akun marketplace, tetapi bagaimana digitalisasi itu benar-benar menghasilkan transaksi dan memperluas pasar,’’ katanya kepada IDN Times, Sabtu (29/8/2026).

Heru menjelaskan, ada sejumlah tantangan bagi UMKM untuk menerapkan digitalisasi. Pertama terkait literasi digital, yakni masih ada pelaku UMKM yang belum terbiasa membuat konten, mengelola toko online, melakukan live selling, atau membaca data penjualan.

Kedua, kualitas produk dan kemasan harus siap ketika pasar menjadi lebih luas. Ketiga, konsistensi produksi dan pelayanan, karena ketika permintaan meningkat, UMKM harus mampu memenuhi pesanan. Keempat, legalitas dan standardisasi, seperti NIB, sertifikasi halal, merek, serta persyaratan lain jika ingin masuk pasar yang lebih besar atau ekspor.

Kendati demikian, menurut Heru, potensi produk UMKM lokal dari Kabupaten Semarang sangat besar. Mulai dari sektor fesyen, kriya, kopi, produk olahan pangan hingga produk berbasis pertanian dan peternakan.

Untuk fesyen dan kriya, Kabupaten Semarang memiliki produk berbasis eceng gondok, kulit, perca, kayu, rajutan, batik, pewarna alam dan berbagai produk kreatif lainnya.

‘’Produk-produk tersebut juga sudah mendapatkan ruang promosi di berbagai kegiatan, termasuk pameran produk unggulan Kabupaten Semarang, provinsi sampai tingkat nasional. Bahkan, produk lokal Kabupaten Semarang itu juga memiliki potensi dikembangkan menuju pasar ekspor,’’ jelasnya. .

Pemerintah Kabupaten Semarang sendiri telah memasukkan program peningkatan kualitas produk UMKM berpotensi ekspor dan pendampingan ekspor sebagai bagian dari arah pembangunan berkelanjutan. Pelatihan tata cara ekspor dilakukan melalui kerja sama dengan ECS Surabaya dan telah diikuti sejumlah UMKM di Kabupaten Semarang.

Shopee bantu pelaku usaha kembangkan bisnis secara berkelanjutan

Produk wastra dengan bahan pewarna alami indigo produksi Tinctori di Dusun Jlamprang Wetan RT 03/RW06, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Sementara, Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia, Satrya Pinandita mengatakan, UMKM dan produk lokal memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Menurutnya, Shopee terus menghadirkan inovasi, program dan fitur untuk membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis secara berkelanjutan, baik di pasar lokal maupun global.

“Kami percaya bahwa UMKM dan produk lokal memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia,” katanya dalam keterangan resmi.

Ia mengatakan, dukungan tersebut dilakukan melalui berbagai inisiatif, termasuk Kampus UMKM Shopee dan Program Ekspor Shopee. Program tersebut ditujukan untuk membuka akses, peluang dan dukungan bagi UMKM agar mampu meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus menjangkau pasar lebih luas.

Shopee juga menyatakan akan terus memperkuat komitmen tersebut melalui kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendukung pertumbuhan UMKM Indonesia.

Pengalaman Tinctori memperlihatkan bagaimana dukungan ekosistem tersebut dapat bersinggungan langsung dengan perjalanan sebuah UMKM. Lokapasar menjadi kanal penjualan.

Program ekspor membuka pengalaman menjangkau konsumen luar negeri. Pelatihan dari Diskumperindag Kabupaten Semarang untuk meningkatkan kualitas produk UMKM berpotensi ekspor. Sementara, transaksi yang datang dari kanal digital ikut menggerakkan aktivitas produksi.

Namun pintu itu hanya awal. Sebab, setelah pasar terbuka, UMKM harus memiliki produk yang siap, kapasitas yang cukup, kualitas yang konsisten, legalitas yang lengkap, kemampuan membaca data dan strategi untuk mempertahankan pertumbuhan.

Sebab pada akhirnya, wajah baru ekonomi digital bukan tentang seberapa jauh sebuah lokapasar bisa menjangkau konsumen. Melainkan tentang seberapa tangguh UMKM berani masuk ke dunia digital yang terbuka.

Dan bagi Tincnori, perjalanan itu masih berlangsung. Tentang seberapa jauh sebuah karya dari desa dapat bergerak, tanpa memutus rantai ekonomi yang membuatnya lahir. Dari kebun, menjadi warna. Dari tangan perajin, menjadi karya. Dari layar ponsel, menjadi pesanan. Dan dari sebuah transaksi digital, menjadi penghasilan bagi mereka yang mengerjakannya.

Inilah wajah baru UMKM paten di era digital, bukan sekadar usaha kecil yang memiliki toko online, melainkan bisnis lokal yang mulai terhubung dengan rantai ekonomi yang jauh lebih luas.

Curated For You

Editorial Team

Related Article