Begitu masuk mobil, ritual pertama yang otomatis kita lakukan pasti membuka aplikasi peta, mengetik lokasi tujuan, lalu tanpa pikir panjang langsung menekan rute berwarna biru bertuliskan "Fastest route" (rute tercepat). Beres, tinggal injak gas. Tapi di tengah jalan, kamu mendadak sadar: "Kok indikator bensinku turunnya cepat banget, ya?"
Usut punya usut, rute "tercepat" yang dipilihkan peta tadi ternyata mengharuskan kamu melewati tanjakan curam 45 derajat atau terjebak di 12 lampu merah berturut-turut. Secara waktu mungkin kamu menghemat 4 menit, tapi secara mekanis mesinmu dipaksa minum bensin jauh lebih banyak!
Nah, di tengah harga BBM yang makin bikin ketar-ketir, prinsip navigasi kita harus diubah: dari yang cuma paling cepat sampai, menjadi paling hemat membakar bahan bakar. Biar jatah uang bensinmu aman, yuk hijrah ke empat aplikasi navigasi spesialis efisiensi berikut ini!
