Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kemarau di Semarang, 48 Ribu Liter Air Sudah Didistribusikan ke Warga

Kota Semarang
Kemarau di Semarang, 48 Ribu Liter Air Sudah Didistribusikan ke Warga
Petugas saat melakukan droping air bersih. IDN Times/ istimewa
Share Article

Semarang, IDN Times - Pemerintah Kota Semarang mulai memperkuat antisipasi kekeringan seiring potensi hari tanpa hujan (HTH) pada musim kemarau. Sejauh ini, Pemkot mencatat 48 ribu liter air bersih atau delapan truk tangki telah didistribusikan ke sejumlah lokasi.

1. 900 ribu liter air bersih disiagakan untuk warga

Ilustrasi droping air di wilayah rawan kekeringan. (dok. BPBD Kota Semarang)
Ilustrasi droping air di wilayah rawan kekeringan. (dok. BPBD Kota Semarang)

Sesuai rencana, sebanyak 900 ribu liter air bersih disiagakan untuk memenuhi kebutuhan warga, terutama di kawasan yang rawan mengalami krisis air.

Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, sedikitnya empat kecamatan menjadi wilayah utama yang rawan kekeringan. Kecamatan Genuk juga masuk dalam pantauan khusus.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, sebagian besar wilayah rawan berada di kawasan perbukitan yang minim sumber mata air dan belum seluruhnya terjangkau jaringan PDAM.

“Pemkot Semarang melalui BPBD telah menyiagakan cadangan logistik air bersih sebanyak 900 ribu liter yang diproyeksikan aman hingga akhir tahun,” kata Agustina, Minggu (26/7/2026).

2. Empat kecamatan masuk wilayah rawan kekeringan

Ilustrasi kemarau kekeringan (pixabay.com/ThorstenF)
Ilustrasi kemarau kekeringan (pixabay.com/ThorstenF)

Empat kecamatan yang dipetakan rawan kekeringan meliputi Tembalang, Banyumanik, Gunungpati, dan Ngaliyan.

Secara lebih spesifik, wilayah tersebut mencakup Kelurahan Rowosari dan Mangunharjo di Kecamatan Tembalang, Kelurahan Jabungan di Banyumanik, Kelurahan Cepoko di Gunungpati, serta Kelurahan Wonosari di Ngaliyan.

Selain empat kecamatan tersebut, Pemkot Semarang juga memberikan perhatian khusus terhadap Kecamatan Genuk. Untuk mengantisipasi kebutuhan warga, BPBD menyiagakan truk tangki berkapasitas 5 ribu liter yang dapat digunakan untuk mendistribusikan air bersih secara berkala.

Wilayah yang sudah mendapat distribusi antara lain Kelurahan Kalipancur, Perumahan Permata Tembalang, Griya Permata Permai, Perumahan Lestari Indah, Kelurahan Bulusan, serta Kantor BPBD.

3. Warga kesulitan air diminta lapor lewat RT/RW

Ilustrasi kemarau (ANTARA FOTO/Arnas Padda)
Ilustrasi kemarau (ANTARA FOTO/Arnas Padda)

Pemkot Semarang menyiapkan mekanisme distribusi air bersih bagi wilayah yang mulai mengalami keterbatasan pasokan.

Agustina meminta warga melapor melalui pengurus RT atau RW apabila mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Laporan tersebut akan menjadi dasar penjadwalan pengiriman menggunakan armada tangki.

“Kami memastikan sinergi lintas sektor antara BPBD, PDAM, hingga jajaran kewilayahan berjalan responsif. Jika ada wilayah yang mulai mengalami keterbatasan air, warga dapat melapor melalui pengurus RT/RW agar pengiriman bantuan armada tangki bisa segera kami jadwalkan,” tegasnya.

Langkah tersebut dilakukan agar distribusi air dapat diarahkan ke wilayah yang membutuhkan dan dilakukan lebih cepat selama musim kemarau.

Ancaman kekeringan juga diantisipasi di sektor pertanian. Agustina memastikan pasokan air irigasi di Kota Semarang hingga kini masih dalam kondisi aman.

4. Pengamanan bendung dan saluran irigasi selama kemarau

Redakan suhu panas anak-anak di Magetan manfaatkan saluran irigasi. IDN Times/ Riyanto.
Redakan suhu panas anak-anak di Magetan manfaatkan saluran irigasi. IDN Times/ Riyanto.

Sementara, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang melakukan pengamanan bendung dan saluran irigasi untuk menjaga aliran air selama musim kemarau. Pasokan irigasi di Kota Semarang terutama bersumber dari bendung sungai dan sendang.

“Menghadapi musim kemarau ini pasokan air irigasi masih aman. Saat ini yang dilakukan DPU Kota Semarang untuk menjamin amannya pasokan adalah menjaga bendung dan saluran irigasi dari kebocoran, sampah, serta endapan tanah sehingga aliran berjalan lancar,” jelas Agustina.

Menurutnya, sistem irigasi di Kota Semarang lebih banyak mengandalkan bendung dibandingkan embung. Puluhan sendang di kawasan perbukitan juga disebut masih mengalir normal sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat di sekitarnya.

Namun, potensi hari tanpa hujan membuat penggunaan air tetap perlu dikendalikan. Agustina meminta masyarakat tidak boros menggunakan air selama musim kemarau.

“Karena ada potensi Hari Tanpa Hujan (HTH) dari perkiraan BMKG, saya harap seluruh masyarakat Kota Semarang untuk tetap menggunakan air secara bijak dan efisien,” pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More