Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kisah Pilu Istri Buruh Tambang, Suami Ditahan, Anak Dibully

idntimes.com
Seorang istri buruh tambang emas tak kuasa menahan air mata saat menceritakan dampak penahanan suaminya, mulai dari kesulitan ekonomi hingga anak yang menjadi korban perundungan di sekolah, Jumat (30/1/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
Intinya sih...
  • Anak tidak berani sekolah karena dibully
  • Anak sakit karena pikiran tertekan
  • Harapan istri, keadilan berkemanusiaan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyumas, IDN Times - Air mata Maikristian tak terbendung saat menceritakan nasib keluarganya. Perempuan sederhana itu kini harus menanggung beban berat setelah suaminya, Slamet Masrur, buruh tambang emas, ditetapkan sebagai tersangka dan mendekam di penjara. Sebagai istri, Mei kristian hanya menyimpan satu harapan suaminya bisa segera bebas.

“Saya mohon kepada Ibu Hakim, karena sama sama perempuan, pasti tahu jeritan hati saya, harapan saya cuma satu, suami saya cepat keluar,"ujarnya dengan suara bergetar kepada IDN Times Jumat (30/1/2026).

Sejak suaminya ditahan, kehidupan keluarga mereka berubah drastis. Secara ekonomi, Mei Kristiani mengaku sangat kesulitan. Tanpa penghasilan tetap, kebutuhan sehari hari pun kerap tak terpenuhi. "Suami nggak ada, otomatis ekonomi kami susah. Kalau ada suami saja masih kurang, apalagi sekarang,"katanya.

Untuk bertahan hidup, ia mengandalkan bantuan dari adik adiknya. Namun, itu pun tak selalu cukup. Tagihan listrik menumpuk, kebutuhan harian kerap tertunda, bahkan biaya sekolah anak belum terbayar.

1. Anak tak berani sekolah karena dibully

idntimes.com
Sejumlah anak terlihat murung, menggambarkan tekanan psikologis yang kerap dialami anak-anak ketika orang tua mereka terseret persoalan hukum, termasuk stigma dan perundungan di lingkungan sekitar, Jumat (30/1/2026).(IDN Times/Foto: Ilustrasi/freepik.com)

Dampak terberat justru dirasakan anaknya yang masih duduk di kelas 1 SMP di Ajibarang. Anak perempuan yang dikenal pendiam itu sempat tidak masuk sekolah selama hampir 10 hari.

Awalnya Mei Kristian tak mengetahui penyebabnya. Hingga suatu hari, ia melihat isi ponsel sang anak. "Ternyata ada pembulian, remannya bilang, ‘Ayah kamu di penjara, berarti kamu juga jelek’,” tuturnya sambil menangis.

Ucapan itu membuat sang anak terpukul. Ia bahkan sempat bertanya polos kepada ibunya, 'Emang ayah jahat apa, Bu?"Ujar Mei seperti dikatakan putrinya.

Mei Kristiani mengaku sulit menjelaskan situasi tersebut kepada anaknya. Ia pun akhirnya mendatangi guru BK dan wali kelas, berharap pihak sekolah bisa memberi pemahaman bahwa tidak semua orang yang dipenjara adalah orang jahat.

2. Anak sakit karena pikiran tertekan

idntimes.com
Dua anak duduk terdiam dengan wajah murung, merepresentasikan tekanan mental dan rasa takut yang kerap dialami anak-anak saat keluarga mereka dilanda persoalan hukum dan stigma sosial, Jumat (30/1/2026).(IDN Times/Foto : Ilustrasi/freepik.com)

Tekanan psikologis yang dialami sang anak berdampak pada kondisi kesehatannya. Beberapa hari lalu, anaknya mengeluh sakit perut dan harus berobat. "Mungkin karena kepikiran. Asam lambungnya naik,"ujarnya.

Baru dua hari terakhir, anak tersebut kembali masuk sekolah setelah mendapat dorongan dan bantuan dari keluarga.

Maikristian memiliki tiga anak, anak pertama sudah menikah dan memiliki satu anak, anak kedua masih kuliah. Anak ketiga, yang paling dekat dengan ayahnya, justru yang paling terpukul dengan kondisi ini.

"Dia itu pendiam dan dekat sekali dengan bapaknya. Kalau ke bapaknya nggak cerita, tapi ke saya dia memeluk dan menangis,"katanya lirih.

3. Harapan istri, keadilan berkemanusiaan

idntimes.com
Sejumlah perempuan, termasuk istri tersangka buruh tambang emas, tampak tertunduk saat menyampaikan harapan dan keluh kesah terkait dampak penahanan suami mereka, terutama terhadap kondisi ekonomi dan masa depan anak-anak, Jumat (30/1/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Ditengah keterbatasan dan tekanan hidup, Maikristian menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini hanyalah satu suaminya bisa segera kembali ke rumah.

'Saya hanya ingin suami saya bisa bekerja lagi, membantu keluarga, dan anak anak kami bisa hidup normal seperti dulu,"ucapnya.

Dengan mata sembab, Mei Kristiani berharap keadilan tak hanya melihat perkara hukum, tetapi juga dampak kemanusiaan yang harus ditanggung istri dan anak anak dari seorang buruh kecil.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

Kisah Pilu Istri Buruh Tambang, Suami Ditahan, Anak Dibully

30 Jan 2026, 11:49 WIBNews