Lahan Kosong Bisa Picu Kebakaran di Semarang, Ini Penjelasan BPBD

- BPBD Kota Semarang mengingatkan lahan kosong bersemak dan vegetasi kering menjadi titik rawan kebakaran saat cuaca panas dan musim kemarau.
- Kebakaran lahan terakhir tercatat di Kali Alang sisi Green Wood serta Semarang Timur, dengan semak-semak dan daun kering sebagai material yang terbakar.
- BPBD melarang pembakaran sembarangan dan pembuangan puntung rokok, serta meminta warga segera melaporkan titik api agar kebakaran tidak meluas.
1. Cuaca panas buat api cepat merambat

Ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Matt Howard) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul sejumlah kejadian kebakaran lahan dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto mengatakan, kondisi cuaca yang panas dan vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah muncul sekaligus cepat merambat.
“Justru itu perhatian kita di saat musim kekeringan ini. Bukan hanya masalah persoalan air bersih, tetapi kewaspadaan terkait dengan karhutla dan kebakaran lahan,” ungkapnya, Selasa (25/8/2026).
Endro menyebut sejumlah kebakaran terakhir terjadi di area terbuka yang ditumbuhi semak-semak serta dipenuhi daun kering. Salah satunya berada di kawasan Kali Alang di sisi Green Wood. Kebakaran lahan juga tercatat terjadi di wilayah Semarang Timur.
“Catatan kami yang terakhir, kejadian justru terjadi di lahan-lahan yang terbakar. Mulai dari kawasan Kali Alang di sisi sebelah Green Wood, dan yang terakhir kemarin ada di sekitar wilayah Semarang Timur. Itu kebetulan lahan kosong dan yang terbakar mayoritas semak-semak serta daun-daun kering,” terangnya.
2. Lahan kosong jadi area yang perlu perhatian

ilustrasi kemarau basah (pexels.com/Pixabay) Kondisi tersebut membuat lahan kosong menjadi salah satu area yang perlu mendapat perhatian selama puncak musim kemarau. Vegetasi yang kehilangan banyak kandungan air dapat menjadi bahan bakar ketika terkena sumber api. Dalam kondisi angin dan suhu udara yang panas, api pun berpotensi merambat ke area lain.
BPBD menilai faktor manusia menjadi salah satu hal yang harus diwaspadai. Aktivitas membakar sampah atau benda lain di area terbuka berisiko memicu kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan sedang sangat kering.
Endro mengingatkan, masyarakat tidak melakukan pembakaran sembarangan.
“Karena cuaca relatif sangat panas, api sangat mudah terjadi dan merembet. Makanya imbauan kita yang pasti, dilarang membakar sampah atau membakar barang yang bisa menimbulkan kebakaran di sembarang tempat,” tegasnya.
Tak hanya pembakaran sampah, kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan juga menjadi perhatian BPBD.
3. Puntung rokok bisa jadi sumber api

ilustrasi puntung rokok(pexels.com/Basil MK) Puntung rokok yang tampak kecil dapat menjadi sumber api ketika dibuang ke area yang dipenuhi rumput, semak, atau daun kering.
“Termasuk membuang puntung rokok, hal terkecil seperti ini yang menjadi atensi kita bersama,” kata Endro.
BPBD juga meminta warga segera melaporkan apabila menemukan titik api, baik di sekitar permukiman maupun lahan kosong.
Sebab, kata Endro, respons sejak api masih kecil menjadi penting untuk mencegah kebakaran meluas.
“Kami minta warga saling mengingatkan dan segera melapor jika melihat titik api sekecil apa pun di sekitar pemukiman maupun lahan kosong,” pungkasnya.
Dengan demikian, memasuki fase kemarau, kewaspadaan warga Semarang tidak cukup hanya pada ketersediaan air. Lahan kosong yang berubah menjadi hamparan semak dan daun kering juga dapat menjadi sumber bencana jika berhadapan dengan satu percikan api.


















