Lama Terbengkalai, Sawah di Semarang Jadi Lahan Modern Bertenaga Surya

- Undip mengaktifkan kembali sekitar dua hektare sawah KHDTK Penggaron yang terbengkalai lima hingga enam tahun sebagai laboratorium pertanian berkelanjutan.
- Sistem irigasi memakai enam panel surya untuk pompa 60 meter kubik per jam, didukung pompa hidrolik 24 jam; air dan tanah dinilai layak budidaya padi.
- Undip menanam Inpari dan Inpago serta menyiapkan varietas lain, sambil mengarahkan kawasan menjadi pusat riset, pendidikan, edu-ekowisata, dan penggerak ekonomi warga.
Semarang, IDN Times – Lahan persawahan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Diponegoro (Undip) Penggaron, Kota Semarang kembali produktif setelah sempat terbengkalai selama lima hingga enam tahun. Undip mengembangkan lahan tersebut menjadi model sawah modern yang mengandalkan teknologi tepat guna dan energi ramah lingkungan.
1. Uji teknologi pertanian berkelanjutan

Undip mengembangkan lahan persawahan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Penggaron, Kota Semarang menjadi model sawah modern yang mengandalkan teknologi tepat guna dan energi ramah lingkungan. (dok. Undip) Sekitar dua hektare lahan telah diolah dan mulai ditanami padi. Namun, proyek ini tidak sekadar mengejar hasil panen. Undip menjadikan kawasan tersebut sebagai laboratorium lapangan untuk menguji teknologi pertanian berkelanjutan sekaligus mengembangkan model pengelolaan lahan yang lebih efisien.
Kepala Kantor KHDTK Undip, Prof. Dr. Ir. Sri Puryono mengatakan, konsep sawah modern tersebut dirancang untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah sistem pengairan berbasis tenaga surya. Enam panel surya dipasang untuk mengoperasikan sistem pompa dengan kapasitas sekitar 60 meter kubik air per jam. Sistem tersebut bekerja mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.
“Untuk mendukung ketersediaan air, kami juga membuat pompa hidrolik yang dapat bekerja selama 24 jam,” ungkapnya, Rabu (26/8/2026).
2. Ditanami Inpari dan Inpago

ilustrasi tanaman padi (pexels.com/Victoria Bowers) Pengembangan sawah modern tidak dilakukan dengan mengabaikan kondisi lingkungan. Undip terlebih dahulu menguji sumber air yang digunakan untuk mengairi lahan.
Air persawahan bersumber dari sungai di kawasan tersebut. Hasil pengujian menunjukkan air tidak terkontaminasi logam berat. Sementara kondisi tanah memiliki tingkat keasaman pada kisaran pH 7 hingga 8 yang dinilai sesuai untuk budidaya padi.
Pada tahap awal, Undip menanam varietas Inpari atau Inbrida Padi Irigasi serta Inpago, varietas unggul padi gogo yang dapat dikembangkan di lahan kering. Eksperimen tidak berhenti pada dua varietas tersebut. Undip juga menyiapkan pengembangan varietas hasil persilangan Rojolele dengan varietas padi asal Jepang.
Bahkan, kampus juga akan menguji padi merah yang kaya nutrisi dan serat serta ditujukan untuk dikembangkan sebagai alternatif pangan yang sesuai bagi penderita diabetes.
“Harapannya, uji coba ini dapat berhasil dan berproduksi optimal hingga menjadi model pengembangan pertanian yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan,” ujar Sri Puryono.
3. Penggaron disiapkan jadi laboratorium

Undip mengembangkan lahan persawahan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Penggaron, Kota Semarang menjadi model sawah modern yang mengandalkan teknologi tepat guna dan energi ramah lingkungan. (dok. Undip) Wakil Rektor II UNDIP bidang Perencanaan, Keuangan, Aset, Bisnis dan Kerumahtanggaan, Dr. Warsito Kawedar mengatakan, lahan persawahan tersebut tidak dirancang semata-mata sebagai tempat produksi pangan.
KHDTK Penggaron diarahkan menjadi ruang pembelajaran dan penelitian yang memungkinkan teknologi pertanian diuji langsung di lapangan. Artinya, sawah menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar. Lahan pertanian produktif tersebut nantinya dapat terhubung dengan fungsi pendidikan, riset, hingga pengembangan wisata alam.
“Diharapkan kawasan KHDTK Undip di Penggaron dapat berkembang menjadi edu-ekowisata hutan,” ujarnya.
Undip bahkan menyiapkan kolaborasi dengan komunitas jeep di sekitar kawasan untuk mendukung konsep tersebut. Dengan demikian, pengunjung nantinya tidak hanya menikmati kawasan hutan, tetapi juga dapat melihat langsung aktivitas pertanian dan penerapan teknologi ramah lingkungan.
4. Undip ingin warga ikut mendapatkan manfaat

ilustrasi panen padi (pexels.com/Safari Consoler) Pengembangan KHDTK Penggaron juga diarahkan agar tidak menjadi proyek kampus yang berdiri sendiri. Undip menempatkan masyarakat sekitar sebagai bagian dari pengembangan kawasan. Integrasi pertanian, riset, pendidikan, dan wisata diharapkan menciptakan aktivitas ekonomi baru sekaligus memberikan manfaat bagi warga sekitar.
“Kehadiran Undip adalah berdampingan dengan masyarakat. Masyarakat adalah keluarga,” kata Warsito.
Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, KHDTK Penggaron tidak hanya memiliki fungsi konservasi dan akademik. Kawasan tersebut berpotensi menjadi ruang demonstrasi bagaimana lahan yang lama tidak produktif dapat dihidupkan kembali dengan teknologi energi terbarukan, sekaligus menjadi tempat riset pertanian dan destinasi edu-ekowisata.
Proyek sawah modern ini pada akhirnya menjadi eksperimen UNDIP untuk menggabungkan tiga kebutuhan sekaligus: produktivitas pangan, keberlanjutan lingkungan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.




















