Perempuan di Aceh mengenakan kebaya. (IDN Times/Mhd Saifullah)
Sementara, Maya, Founder Komunitas Diajeng Semarang berkata di era digital banyak anak muda yang lebih tertarik pada fashion modern dan internasional. Sehingga kebaya mulai tersisih. Padahal, kebaya bukan sekadar busana. Tetapi juga representasi nilai-nilai budaya dan sejarah bangsa.
Oleh karena itu, upaya untuk menghidupkan kembali kebaya sangatlah penting. "Kami berkolaborasi dengan Binus University Semarang untuk menunjukkan kebaya sebagai identitas budaya yang perlu kita lestarikan, khususnya bagi Gen Z dan kami ingin mengedukasi Gen Z untuk mencintai budaya, khususnya batik dan kebaya," akunya.
“Kami berharap melalui acara ini, generasi muda dapat mengenal dan mencintai kebaya sebagai warisan budaya Indonesia yang kaya, sambil mengintegrasikan semangat kolaborasi dan teknologi industri 4.0. Dengan sinergi antara kreator muda, pelaku industri, dan inovasi teknologi, semoga kebaya tetap relevan dan menjadi simbol kebersamaan serta kebanggaan budaya di era modern ini," tambah Dr Fredy Purnomo, Binus University Semarang Campus Director.
Dengan memadukan nilai-nilai tradisional dan kreativitas kontemporer, acara tersebut juga diharapkan menunjukkan bahwa kebaya masih bisa menjadi bagian penting dari identitas di era modern. Menghidupkan kembali kebaya bukanlah tugas yang mudah, tetapi melalui upaya kolektif seperti acara ini bisa menjaga warisan budaya kita tetap hidup.
"Mari kita dukung dan apresiasi setiap langkah kecil yang diambil untuk menjaga kebaya tetap relevan dan menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia," paparnya.