Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Merangkul Eks Napiter Demi Memajukan Kopdes Merah Putih Semarang
Supriyanto terlihat menyimak buku pelatihan UMKM. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Pemkot Semarang menggelar pelatihan UMKM di Gedung UPTD PLUT UMKM untuk meningkatkan kemampuan bisnis warga, termasuk mantan narapidana terorisme yang ingin mandiri secara ekonomi.
  • Program ini mendorong para pelaku usaha bergabung dalam koperasi desa dan kelurahan Merah Putih, dengan target pembentukan 177 Kopdes di seluruh Kota Semarang.
  • Pendekatan ekonomi dianggap efektif oleh aparat dan yayasan pendamping untuk membantu eks napiter beradaptasi kembali ke masyarakat serta mencegah munculnya paham radikal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN TImes - Suasana riuh terasa di Gedung UPTD PLUT UMKM di Jalan Slamet Riyadi, Kecamatan Gayamsari Semarang, Jumat (24/4/2026). Sejumlah pelaku usaha UMKM pun tak segan melontarkan pertanyaan kepada penyuluh dari Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang. 

Pagi itu mereka memang dikumpulkan di aula gedung UPTD UMKM demi menggali potensi insting bisnis supaya bisa diselaraskan dengan program pemberdayaan dari Pemkot Semarang. 

Selain diberi pembekalan, mereka juga dilatih untuk mengembangkan strategi usahanya. 

Supriyanto, seorang warga Banyumanik yang menyimak paparan dari dinas mengaku tertarik mengikuti pemberdayaan usaha mikro yang diinisiasi Dinkop UMKM. 

Selama ini ia sedang giat jualan ayam ungkep. "Sudah beberapa bulan ini saya jualan ayam ungkep di rumah. Ya itung-itung buat mencari penghasilan untuk menghidupi keluarga," kata Supri. 

Supri pun mengajak rekan sejawatnya yang bernama Andi Wibowo untuk mengikuti pelatihan bersama puluhan UMKM lainnya di Gedung UPTD UMKM Gayamsari. 

Ketertarikannya menekuni usaha mikro tak lepas dari niatnya untuk lepas dari bayang-bayang paham radikalisme. 

Baik Supri maupun Andi yang notabene pernah tersangkut kasus tindak pidana terorisme tersebut ingin mencurahkan pikirannya untuk memperluas pemasaran produknya. "Dengan pelatihan ini kita mulai berlatih untuk melakukan aspek legalitas usaha. Terutama mengembangkan bisnis yang bituh pengembangan pemasaran lebih luas lagi," paparnya.

"Makanya saya kepengin tahu bagaimana pemerintah kota memberikan kami peluang untuk menjalankan usaha makanan ini. Siapa tahu usaha kami bisa berkembang lebih luas lagi," akunya. 

Sri Puji, Ketua Yayasan Persadani Semarang berkata mantan napiter ketika kembali bermasyarakat sebenarnya sering terkendala dengan stigma yang melekat pasca keluar dari bui.

Sebab tak jarang relasi atau kenalan mereka menjauhi karena takut terpapar. "Maka kami selalu menekankan pentingnya mereka mulai usaha lagi dari nol. Jangan pernah berkecil hati karena hal-hal positif pasti berguna bagi masyarakat," terangnya.

Puluhan ribu usaha UMKM sudah kantongi izin

Kepala Dinkop UMKM Kota Semarang, Margaritha Mita Dewi Sopa menuturkan sudah ada 30.800 usaha mikro yang kini sudah berizin. Namun, diakuinya bahwa sebagian pelaku usaha termasuk eks napiter masih belum tersentuh legalitas. 

Tak lupa ia menyampaikan saat paparan di depan para pelaku usaha UMKM supaya turut berpartisipasi aktif dalam koperasi desa dan kelurahan (kopdeskel) merah putih. 

Ia menargetkan ada 177 Kopdes se-Kota Semarang.

Bripka Purnomo Budi Setiyawan dari Satbinmas Polrestabes Semarang mengatakan dirinya berusaha menjembatani kebutuhan 20 mantan napiter dari Yayasan Persadani untuk mengikuti pelatihan izin usaha sebagai langkah awal menuju hidup mandiri. 

"Pendekatan ekonomi menjadi strategi penting dalam mencegah kembalinya paham radikal," tegasnya. 

Purnomo lega dengan adanya inisiatif Pemkot Semarang yang menggandeng mantan napiter untuk pengembangan kemampuan di dunia usaha. 

"Dengan kemandirian finansial, maka paling tidak bisa menjadi benteng awal agar teman-teman mantan napiter tidak kembali ke jaringan lama," tandasnya. 

Editorial Team