Semarang, IDN TImes - Suasana riuh terasa di Gedung UPTD PLUT UMKM di Jalan Slamet Riyadi, Kecamatan Gayamsari Semarang, Jumat (24/4/2026). Sejumlah pelaku usaha UMKM pun tak segan melontarkan pertanyaan kepada penyuluh dari Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang.
Pagi itu mereka memang dikumpulkan di aula gedung UPTD UMKM demi menggali potensi insting bisnis supaya bisa diselaraskan dengan program pemberdayaan dari Pemkot Semarang.
Selain diberi pembekalan, mereka juga dilatih untuk mengembangkan strategi usahanya.
Supriyanto, seorang warga Banyumanik yang menyimak paparan dari dinas mengaku tertarik mengikuti pemberdayaan usaha mikro yang diinisiasi Dinkop UMKM.
Selama ini ia sedang giat jualan ayam ungkep. "Sudah beberapa bulan ini saya jualan ayam ungkep di rumah. Ya itung-itung buat mencari penghasilan untuk menghidupi keluarga," kata Supri.
Supri pun mengajak rekan sejawatnya yang bernama Andi Wibowo untuk mengikuti pelatihan bersama puluhan UMKM lainnya di Gedung UPTD UMKM Gayamsari.
Ketertarikannya menekuni usaha mikro tak lepas dari niatnya untuk lepas dari bayang-bayang paham radikalisme.
Baik Supri maupun Andi yang notabene pernah tersangkut kasus tindak pidana terorisme tersebut ingin mencurahkan pikirannya untuk memperluas pemasaran produknya. "Dengan pelatihan ini kita mulai berlatih untuk melakukan aspek legalitas usaha. Terutama mengembangkan bisnis yang bituh pengembangan pemasaran lebih luas lagi," paparnya.
"Makanya saya kepengin tahu bagaimana pemerintah kota memberikan kami peluang untuk menjalankan usaha makanan ini. Siapa tahu usaha kami bisa berkembang lebih luas lagi," akunya.
Sri Puji, Ketua Yayasan Persadani Semarang berkata mantan napiter ketika kembali bermasyarakat sebenarnya sering terkendala dengan stigma yang melekat pasca keluar dari bui.
Sebab tak jarang relasi atau kenalan mereka menjauhi karena takut terpapar. "Maka kami selalu menekankan pentingnya mereka mulai usaha lagi dari nol. Jangan pernah berkecil hati karena hal-hal positif pasti berguna bagi masyarakat," terangnya.
