Ngirit Ongkos Imlek, Keluarga Thionghoa Pesan Rumah Arwah Minimalis

- Rumah arwah minimalis pesanan keluarga Thionghoa di Semarang
- Harga lebih murah, desain minimalis menyesuaikan kemampuan kantong ahli waris
- Bisnis rumah arwah milik Ong Bing Hok diminati dari berbagai daerah, harga interior tambahan juga terjangkau
Semarang, IDN Times - Letaknya agak nyempil di Pasar Gang Baru Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah. Namun tak dinyana, dari sempitnya lokasi justru membuat bisnis rumah arwah yang milik Ong Bing Hok tetap hoki.
Saat ditemui IDN Times akhir pekan kemarin, Ong sibuk dengan rutinitasnya. Di usianya yang menginjak 78 tahun, tangannya masih cekatan membuat kerangka rumah arwah dari lembaran bambu.
Ong beberapa kali memperlihatkan pesanan rumah arwah yang sudah rampung. Rumah arwah itu pesanan dari keluarga peranakan Thionghoa yang tinggal di Kecamatan Ambarawa. Untuk satu rumah arwah pesanan dari Ambarawa, Ong mematok harga Rp5 juta.
"Ini ada tiga bagian. Yang satu bagian depan rumah dibuat komplit sama fotonya yang meninggal, ada pintu, orang-orangan, jendela sama isiannya ada perabotan meja kursi. Terus bagian belakang rumah arwah juga udah rampung," kata Ong sembari menunjukan setiap detail bentuk rumah arwah buatannya.
Selain membuat satu set bangunan rumah, perlengkapan lain dari rumah arwah yang dibuat Ong terdiri dari joli atau tandu mayat, gudang, wayang, tiga dewa-dewi bernama Dewa Kin Thong, Dewa Giok Lie dan Dewa Gok Kwa.
Harga rumah arwah minimalis lebih murah
Ong belakangan memang lebih sibuk karena setiap menjelang sembayangan Imlek, jumlah orderan rumah arwah selalu tambah banyak.
Saat masuk dua minggu jelang Imlek seperti sekarang, ada lima orderan rumah arwah. "Yang pesan ada dari Ambarawa, Magelang, Pekalongan, Muntilan," ujar Ong.
Apabila ditilik dari desainnya, ada perubahan mencolok ketimbang orderan tahun-tahun sebelumnya. Ong bilang kini keluarga peranakan Thionghoa cenderung memilih rumah arwah yang agak minimalis tapi tetap menunjukan gaya kemewahan.
Seperti rumah arwah orderan dari Ambarawa dibuat seluas 1,5 meter setinggi 15 sentimeter.
Pesanan rumah arwah dengan bentuk minimalis diakuinya untuk menyesuaikan kemampuan kantong masing-masing keluarga ahli waris.
Tak bisa dipungkiri bahwa harga rumah arwah yang minimalis jauh lebih murah ketimbang rumah arwah berarsitektur klenteng.
Ia membandingkan kalau orang zaman baheula gemar memesan rumah arwah berarsitektur klenteng. Namun tiga tahunan terakhir ada pergeseran minat pesanan rumah arwah yang lebih minimalis.
Salah satu pertimbangannya semata mengurangi ongkos ritual sembayangan rumah arwah di klenteng.
"Kalau yang bentuknya simpel-simpel minimalis harganya agak murah. Kalau orang zaman dulu kan sukanya milih yang bentuknya rumah kuno yang mirip klenteng. Nah, yang kayak gitu biasanya lebih mahal kisaran Rp12 jutaan. Soalnya bikinnya agak susah, rumit, sangat detail," ujar Ong.
Bisnis rumah arwah milik Ong Bing Hok hanya segelintir yang masih eksis di Semarang. Rumah arwah buatan Ong kerap diminati orang-orang peranakan Thionghoa dari sejumlah kabupaten kota Jawa Tengah, Jawa Timuran sampai seberang lautan seperti Pontianak dan Banjarmasin.
Selain sanggup membuatkan rumah arwah yang cepat, Ong juga dikenal bisa menuruti keinginan pelanggan yang kepengin menambah hiasan unik di dalam rumah arwah. Harga interior tambahan murah meriah. Yakni kisaran Rp200 ribu sampai Rp800 ribu.
"Ada yang pesan tambahan interior kafe, mobil-mobilan, motor, kolam renang," akunya.
Ong Bing Hok siap wariskan kemampuan ke anak tercintanya
Keahlian Ong membuat rumah arwah tak lepas dari peran kakek buyutnya bernama Ong See yang punya tradisi membuat rumah arwah dari daerah asalnya di dataran China Hokkian.
Kemampuan tersebut lalu diwariskan kepada anak Ong See bernama Ong Kwan Giant lalu diteruskan kepada putranya yakni Ong Byon Bjoen yang tak lain ayahanda Ong Bing Hok.
"Nanti ada anak saya yang tertarik meneruskan. Membuat rumah arwah ini sebenarnya ndak butuh kepintaran. Cukup tekun, kreatif dan banyak ide. Jadi ndak harus sekolah yang tinggi-tinggi," urainya.












.jpg)




