“Kusta dari Segala Aspek” bukan hanya urusan obat, tetapi soal akses, stigma, dan hak untuk sembuh tanpa disembunyikan.
Sore itu, Senin (9/2/2026), pintu rumah kayu sederhana di Desa Pulau Sembilan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, terbuka. Iptu Agus Rianto, Kapolsek Pulau Sembilan, masuk dengan hati-hati. Di dalam, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun terbaring di sudut ruangan. Tangannya menunjukkan tanda-tanda kecacatan akibat kusta yang tidak tertangani dengan tuntas. Matanya menatap paket sembako yang dibawa petugas—bukan dengan rasa senang, melainkan dengan sorot kelelahan yang jauh lebih dalam dari usianya.
"Fauzan," panggil sang nenek dengan suara bergetar. Perempuan tua itu hanya bisa merasakan kehadiran cucunya lewat sentuhan. Di sampingnya, kakak Fauzan yang tidak jauh lebih tua berdiri diam, menanggung beban yang seharusnya belum menjadi miliknya. Ayah Fauzan pergi untuk menikah lagi, sementara sang ibu pun telah lama meninggalkan mereka. Tiga jiwa itu kini hidup dalam keterpurukan; tanpa pekerjaan tetap, tanpa jaminan pangan, dan yang paling mengancam: pengobatan kusta Fauzan terputus.
Kedatangan Kapolsek Agus Rianto bersama petugas puskesmas setempat—seperti dalam dokumentasi yang diakses IDN Times—memang untuk menyerahkan bantuan sembako. Namun, nenek Fauzan menginginkan lebih dari sekadar itu. "Cucuku butuh obat sampai sembuh," katanya dengan nada memohon. Pernyataan sederhana itu merangkum tragedi yang lebih besar: seorang anak yang terjebak di antara himpitan kemiskinan, keluarga yang rapuh, dan sistem kesehatan yang belum sepenuhnya mampu merengkuh mereka.
Nasib Fauzan bukan cerita tunggal. Kenyataannya, Indonesia masih memikul beban berat sebagai negara dengan kasus kusta baru terbanyak ketiga di dunia. Pada tahun 2023 saja, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 14.376 kasus di Tanah Air, dan memprihatinkannya, 8,2 persen di antaranya adalah anak-anak. Fakta itu menjadi alarm pengingat bahwa jalan menuju target besar dunia kesehatan—yakni nol penularan, nol disabilitas/kecacatan fisik tingkat 2 (untuk indikator epidemiologi) fisik, dan nol stigma (Zero New Cases, Zero Disabilities, Zero Stigma)—masih amat panjang.
