Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pendaftar Membludak, Rombel Sekolah Rakyat Jateng Harus Ditambah
Tampak dari depan papan nama Sekolah Rakyat di Kota Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • DPRD Jateng menyarankan penambahan rombel di Sekolah Rakyat karena pendaftar dari warga miskin desil 1 dan 2 membludak untuk tahun ajaran 2026/2027.
  • Beberapa kabupaten seperti Klaten dan Magelang masih menunggu penyediaan lahan, sementara Solo akan digabung dengan Sukoharjo akibat keterbatasan lahan.
  • Pembangunan Sekolah Rakyat permanen telah mencapai sekitar 90 persen, dan Dinsos Jateng tengah menjangkau calon siswa dari keluarga kurang mampu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - DPRD Jawa Tengah menyarankan setiap lokasi Sekolah Rakyat menambah ruang kelas atau rombel lantaran jumlah pendaftarnya yang telah membludak. 

Wakil Ketua Komisi E DPRD Jateng dari F-Gerindra, Yudi Indras Weindarto mengatakan, sebagian besar lokasi Sekolah Rakyat telah terisi calon peserta didik tahun ajaran 2026/2027. 

Banyaknya jumlah calon siswa dari warga miskin desil 1 dan desil 2 membuat pihaknya menyarankan agar masing-masing pemda menambah rombel. 

"Penuh semua dan sebagian besar hari ini malah kurang, harus nambah alokasi. Harus nambah rombel. Jadi, evaluasinya nambah rombel," tuturnya, Jumat (3/8/2026). 

1. Masih ada kabupaten menunggu ketersediaan lahan

Wakil Ketua Komisi E DPRD Jateng dari F-Gerindra, Yudi Indras Weindarto. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Pihaknya menekankan hampir seluruh Sekolah Rakyat telah dibangun permanen di Jawa Tengah. Sebagai contoh, Sekolah Rakyat Semarang kini dibangun permanen di Kelurahan Rowosari, Sekolah Rakyat Wonosobo dibangun permanen di Kecamatan Kertek, Sekolah Rakyat Brebes juga hampir selesai tahap pembangunan. 

Meski begitu, diakuinya masih ada beberapa kabupaten yang menunggu penyediaan lahan untuk pendirian Sekolah Rakyat permanen. 

"Ada yang masih dalam proses. Kan yang proses itu karena biasanya kita nunggu penyediaan lahan dari kabupaten kota. Tapi kalau yang sudah (jadi) memang sudah ada kan tinggal dijalankan aja," kata Yudi. 

2. Sekolah Rakyat mengadopsi Taruna Nusantara

Seorang pria memotret lokasi proyek Sekolah Rakyat Wonosobo. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Lebih lanjut lagi, untuk penyediaan lahan yang masih berproses tersebut berada di Kabupaten Klaten dan Kota Magelang. Sedangkan Sekolah Rakyat Solo akan dimerger dengan Kabupaten Sukoharjo karena ketersediaan lahannya di Solo yang kurang mencukupi. 

"Sebenarnya Solo itu Pemkotnya butuh menyediakan lahan dan itu belum belum bisa. Akhirnya masuknya Sukoharjo. Ada bisa juga masuk Sragen, Karanganyar kan juga ada tuh," jelasnya. 

Penyediaan lahan Sekolah Rakyat yang besar dengan luasan 5 hektare memang mengadopsi sistem pembelajaran boarding seperti SMA Taruna Nusantara Magelang. Namun ia optimistis target yang dicanangkan Presiden Prabowo bahwa Sekolah Rakyat akan menerima siswa baru akan terealisasi bulan ini. 

"Jadi, standarnya memang gede banget," ujar Yudi.

3. Pembangunan Sekolah Rakyat permanen hampir selesai

Sekolah Rakyat 10 Bogor (SRMP 10 Bogor). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Kepala Dinsos Jateng Imam Masykur kepada IDN Times, menyampaikan proyek pembangunan Sekolah Rakyat permanen di sejumlah kabupaten/kota memang sudah masuk 90 persen. 

Pihaknya saat ini sedang mengerjakan penjangkauan calon siswa dengan sasaran warga miskin desil 1 dan desil 2. "Penjangkauan masih terus dilakukan. Kami sekarang sedang bersiap menerima calon siswa untuk tahun ajaran baru," kata Imam. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article