Pengelolaan Air Limbah di 13 Kelurahan di Semarang Dibuat Komunal

Semarang, IDN Times - Pemerintah Kota Semarang bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan mengembangkan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) skala perkotaan. Proyek yang akan dibiayai Asian Development Bank (ADB) ini akan dilaksanakan di 13 kelurahan di Kota Semarang.
1. Pembangunan SPALD-T jangkau 688 ribu jiwa

Proyek penyediaan sanitasi air limbah IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah) ini bernama Citywide Inclusive Sanitation Project yang merupakan program dari ADB. Adapun untuk pengerjaan proyek tersebut, ADB mengucurkan bantuan pinjaman sebesar 201 juta Dolar AS untuk pembangunan SPALD-T di Kota Semarang.
Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, ini merupakan salah satu program dari Asian Development Bank terkait dengan kegiatan sanitasi project. Bantuan loan atau pinjaman dari ADB sebesar 400 juta Dolar AS nantinya didistribusikan ke tiga kota, yakni Semarang, Pontianak, Mataram. Namun paling besar untuk Kota Semarang sebesar 201 juta Dolar AS.
"Alhamdulillah sudah dilakukan penyusunan dokumen-dokumen mulai April kemarin. Kemudian, bulan Juni sudah dilakukan proses lelangnya. Diharapkan di tahun 2025 sudah dilakukan pembangunan fisik atau groundbreaking," katanya, Rabu (29/5/2024).
Pembangunan SPALD-T ini meliputi pemipaan sepanjang 111,6 kilometer (km). Kemudian, pelayanan akan menjangkau 688 ribu jiwa. Untuk tahap awal pilot project akan mencakup 4.352 unit.
2. Akan selesai bertahap sampai 2030

Pembangunan SPALD-T ini adalah salah satu upaya peningkatan capaian sanitasi aman yang tertuang dalam RPJMN. Sistem yang dilakukan SPALD-T adalah dengan mengalirkan air limbah domestik dari sumber secara kolektif ke sub-sistem pengolahan terpusat.
‘’Memang ada beberapa tahapan yang akan kami selesaikan seperti penyusunan peraturan daerah (perda) tentang limbah domestik. Selain itu, dampak sosial terhadap pembangunan ini juga sudah dipikirkan, misalnya pembebasan lahan,’’ kata perempuan yang akrab disapa Ita.
Proyek (SPALD-T) ini akan selesai secara bertahap dari 2024 sampai 2030. Wali kota meminta dinas terkait untuk menyiapkan anggaran termasuk perbaikan infrastruktur pasca proyek ini selesai.
"Jangan sampai proyek selesai tapi tidak ada anggaran untuk perbaikan. Ada Bappeda, DPU, DLH, Kominfo, Perkim, termasuk PDAM. PDAM akan jadi operator. Harus ada sinkronisasi," ujarnya.
3. Jangkau 4 kecamatan

Sementara itu, Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Kuswara mengatakan, ada 13 kelurahan di empat kecamatan yang akan menjadi lokasi SPALD-T.
Empat kecamatan tersebut, yaitu Semarang Tengah, Semarang Timur, Semarang Selatan, dan Genuk. Sedangkan, lokasi IPAL berada di Banjardowo.
"Ini project untuk sanitasi air limbah IPAL (instalasi pengolah air limbah) yang nantinya ada satu lokasi di Banjardowo. Kemudian, ada saluran sepanjang 111,6 km itu dari rumah penduduk sampai ke IPAL di Banjardowo tersebut," jelasnya.
Lokasi tersebut dipilih karena menjadi prioritas setelah melalui kajian dari ADB dan Pemkot Semarang.
4. IPAL komunal kurangi potensi pencemaran

"Daerah-daerah yang memang perlu segera dalam penangan limbah. Ini jadi prioritas daerah yang perlu penanganan segera untuk limbah," tutur Kuswara.
Menurut dia, saluran IPAL komunal lebih jelas dikontrol dibanding IPAL individu. IPAL komunal tidak disimpan di rumah namun langsung dialirkan ke saluran IPAL. Ini mengurangi potensi pencemaran.
"Kalau IPAL komunal itu kan dari rumah tidak disimpan di rumah, namun langsung disalurkan sampai ke IPAL itu sendiri. Sehingga, menghilangkan potensi-potensi pencemaran," jelasnya.
Sementara, pengolahan IPAL di Banjardowo akan menggunakan teknis dan teknologi khusus, sehingga air buangannya layak dibuang ke badan sungai dan tidak mencemari lagi sungai-sungai di Kota Semarang.
"Jadi nanti diolah, hasil olahannya akan dialirkan ke badan sungai dan sudah layak sesuai peraturan dari Kementerian Lingkungan Hidup," tandasnya.


















