Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pentingnya Kontrol Gula, Garam, Lemak di Usia Muda
ilustrasi garam (vecteezy.com/bigcxlotus)
  • Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab 1 dari 3 kematian di dunia, dengan 1 dari 3 orang Indonesia menderita hipertensi.
  • Pemerintah menerbitkan aturan pencantuman gula, garam, dan lemak pada pangan olahan untuk edukasi masyarakat dan pencegahan penyakit tidak menular.
  • Masyarakat perlu membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak dengan memahami label pangan serta dukungan program edukasi Batasi Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surakarta, IDN Times - Berdasarkan data World Health Organization di tahun 2021, satu dari tiga kematian di dunia terjadi akibat penyakit kardiovaskular. Selain itu Survey Kesehatan Indonesia tahun 2023 juga menyatakan, satu dari tiga orang Indonesia berusia lebih dari 18 tahun menderita hipertensi.

Sedangkan, satu di antara sepuluh orang Indonesia juga mengidap diabetes berdasarkan International Diabetes Federation tahun 2021. Faktanya, 80 persen ragam penyakit tidak menular disebabkan oleh kebiasaan hidup yang tidak sehat baik dari segi pola makan maupun kurangnya aktivitas fisik.

Salah satu faktor meniningkatnya penyakit tersebut dipicu karena konsumsi gula, garam, dan lemak yang berlebih.

1. Edukasi kepada masyarakat tentang membaca label kandungan gula, garam, dan lemak

ilustrasi gula halus (pixabay.com/Bru-nO)

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengatakan jika pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Kesehatan yang mengatur pencantuman kandungan Gula, Garam, Lemak pada Pangan Olahan dan Pangan Olahan Siap Saji.

Edukasi kepada masyarakat tentang membaca label kandungan gula, garam, dan lemak merupakan salah satu upaya pemerintah mendukung pelaksanaan aturan tersebut. Edukasi itu dilaksanakan untuk menciptakan masyarakat yang peduli akan kesehatannya dan dalam rangka penyediaan pangan sehat yang rendah gula, garam, dan lemak di masyarakat.

"Upaya ini perlu didukung oleh berbagai pihak, termasuk pelaku sektor swasta dan masyarakat guna pencegahan penyakit tidak menular yang lebih efektif," ujarnya kepada IDN Times, Selasa (27/8/2024).

2. Standar konsumsi GGL

Illustrasi dampak kesehatan (https://pin.it/59bqxyuBB)

Lebih lanjut, dr. Siti Nadia mengatakan sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI, idealnya dalam sehari masyarakat dapat mengonsumsi gula tidak lebih dari 50 gram (setara 4 sendok makan), garam tidak lebih dari 5 gram (setara 1 sendok teh), dan lemak tidak lebih dari 67 gram (setara 5 sendok makan).

Dimana, salah satu cara untuk dapat membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak ini adalah dengan memahami label pangan.

"Jika masyarakat memiliki kesadaran dan kecermatan dalam membaca label kemasan dan menjadikannya sebagai kebiasaan, maka mereka akan lebih cerdas memilih zat gizi apa yang harus dipenuhi dan yang harus dibatasi agar terhindar dari berbagai penyakit," jelasnya.

Sebagai upaya untuk mengetahui asupan gula, garam, dan lemak dari pangan olahan kemasan, masyarakat diajak untuk lebih cermat dalam membaca label gizi kemasan pangan olahan yang dikonsumsi, dengan memperhatikan empat informasi nilai gizi dalam label kemasan. Yaitu jumlah sajian per kemasan, kalori total per sajian, zat gizi (lemak, lemak jenuh, protein, karbohidrat (termasuk gula), dan garam), hingga persentase AKG (Angka Kecukupan Gizi) per sajian.

3. Kampanye batasi gula, garam, dan lemak

Kampanye batasi GGL di Nutrihub Solo. (Dok/Istimewa)

Sementara itu, Arninta Puspitasari selaku Nutrifood Public Relations Manager mengatakan, Nutrifood secara konsisten sejak 2013 mengampanyekan Batasi Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak atau #BatasiGGL dengan dukungan dari Kementerian Kesehatan RI dan Badan POM RI.

Program edukasi itu menjadi salah satu upaya kami agar dapat mengajak masyarakat mencegah berbagai penyakit tidak menular, yang trennya saat ini mulai mengancam kelompok usia yang lebih muda. Melalui kampanye ini, kami berharap kelompok masyarakat usia aktif ini bisa lebih bijak memilih apa yang dikonsumsinya berbekal edukasi yang kami berikan di acara ini termasuk bagaimana cara membaca label kemasan untuk mengetahui kandungan gula, garam dan lemak pada makanan atau minuman yang dikonsumsi.

“Kami percaya perubahan dapat dimulai dari diri sendiri. Khususnya bagi anak muda, perubahan positif yang dilakukan bisa memberikan pengaruh untuk sekitarnya, sehingga dampak pun menjadi lebih luas, termasuk terkait inspirasi gaya hidup sehat, seperti memilih makanan minuman yang lebih baik dan tetap nikmat. Untuk mendukung hal tersebut, Nutrifood menyediakan pilihan makanan lebih sehat yang bebas gula, rendah garam, dan rendah lemak hingga berbagai produk yang telah mendapatkan pelabelan Pilihan Lebih Sehat dari BPOM,” tutup Arninta.

Curated For You

Editorial Team

Related Article