Semarang, IDN Times - Peta minat calon mahasiswa pada penerimaan mahasiswa baru Universitas Diponegoro (Undip) Tahun Akademik 2026/2027 menunjukkan belum banyak perubahan pada program-program studi favorit. Baik pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) maupun Seleksi Mandiri, program studi bidang kesehatan, teknik, dan ekonomi masih menjadi incaran utama para peserta.
Prodi Kedokteran Jadi Favorit Undip, Sains Dasar Kian Sepi Peminat

1. Tingkat persaingan Fakultas Kedokteran tinggi
Wakil Rektor I Bidang Akademik Undip, Prof. Heru Susanto mengatakan, tingkat persaingan tertinggi di kelompok saintek masih ditempati Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi.
“Kalau untuk saintek, yang paling tinggi tingkat keketatannya masih Kedokteran dan Kedokteran Gigi. Farmasi juga masih sangat tinggi, begitu juga beberapa program studi teknik,” ujarnya.
Selain program-program yang selama ini menjadi favorit, Undip juga mencatat peningkatan signifikan pada Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Menurut Heru, meski tergolong program studi baru, K3 berhasil menarik minat calon mahasiswa dalam jumlah besar. Sedangkan, pada rumpun sosial humaniora, persaingan justru dipimpin Program Studi Bisnis Digital.
2. Minat mahasiswa pada prodi yang punya prospek kerja
“Prodi yang relatif baru tetapi peminatnya sangat banyak adalah K3,” katanya.
Heru menjelaskan ukuran favorit tidak hanya dilihat dari jumlah pendaftar, tetapi juga rasio antara jumlah pendaftar dan daya tampung.
“Kalau dilihat dari rasio pendaftar dibanding daya tampung, sampai saat ini yang paling tinggi adalah Bisnis Digital,” jelasnya.
Lalu, di bawah Bisnis Digital, sejumlah program studi yang sejak lama menjadi favorit juga tetap mempertahankan daya tariknya, seperti Psikologi, Hukum, Manajemen, dan Akuntansi. Fenomena ini menunjukkan minat calon mahasiswa masih kuat pada program studi yang dipersepsikan memiliki prospek kerja luas di sektor bisnis, industri kreatif, maupun layanan profesional.
3. Sains dasar kehilangan daya tarik
Pada sisi lain, Undip mencermati semakin menurunnya minat terhadap sejumlah program studi yang justru menjadi fondasi pengembangan ilmu pengetahuan.
Heru menyebut, program studi Fisika dan Kimia menjadi contoh bidang sains dasar yang terus mengalami penurunan animo.
“Prodi-prodi sains dasar seperti Fisika dan Kimia itu sebenarnya sangat penting bagi bangsa ini. Tetapi memang realitasnya peminatnya semakin menurun dari waktu ke waktu,” katanya.
Ia menegaskan, kondisi tersebut bukan hanya dialami Undip, melainkan menjadi fenomena nasional yang juga dirasakan berbagai perguruan tinggi. Adapun, salah satu penyebabnya adalah persepsi calon mahasiswa terhadap tingkat kesulitan perkuliahan dan prospek kerja lulusan.
“Ilmu-ilmu dasar memang membutuhkan effort yang tinggi. Selain itu, keterkaitannya dengan dunia industri tidak terlihat secara langsung sehingga banyak calon mahasiswa lebih memilih program studi yang dianggap lebih praktis,” ujarnya.
4. Perikanan ikut alami penurunan
Selain sains dasar, Undip juga mencatat penurunan minat pada sejumlah program studi yang berkaitan dengan sumber daya alam.
Heru mencontohkan bidang Perikanan, yang menurutnya sebenarnya memiliki posisi strategis bagi Indonesia sebagai negara maritim.
“Program studi yang berkaitan dengan perikanan juga mengalami penurunan atau masih berkutat pada jumlah peminat yang tidak banyak berubah,” katanya.
Meski demikian, ia memastikan seluruh daya tampung program studi di Undip tahun ini masih relatif dapat terpenuhi.
“Alhamdulillah sampai sekarang daya tampung di Undip masih relatif terpenuhi semua,” tandas Heru.
Bagi Undip, peta peminatan tahun ini tidak hanya menjadi indikator persaingan masuk perguruan tinggi, tetapi juga menjadi bahan evaluasi untuk melihat bagaimana persepsi generasi muda terhadap berbagai disiplin ilmu. Di satu sisi, program studi yang dekat dengan dunia kesehatan, bisnis, dan teknologi digital semakin diminati. Di sisi lain, ilmu-ilmu dasar yang menjadi fondasi riset dan inovasi justru menghadapi tantangan regenerasi mahasiswa.