Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rahasia Bikin Anak Kecanduan Baca Buku, Mulai dari Dalam Kandungan!
ilustrasi anak membaca (unsplash.com/Stephen Andrews)
  • Menumbuhkan rasa cinta baca pada anak bukan dengan paksaan, melainkan dengan membangun kesan menyenangkan melalui metode read aloud (membacakan nyaring) yang bahkan bisa dimulai sejak bayi dalam kandungan.

  • Suara orang tua adalah alat yang paling ajaib; tidak perlu skill mendongeng khusus, cukup sertakan interaksi aktif dengan gambar dalam buku untuk memancing rasa penasaran si kecil.

  • Kehadiran sosok Ayah dalam membacakan buku sangat krusial, karena gaya interaksi dan ekspresi roleplay Ayah biasanya lebih membekas dan efektif dalam memperkaya kosakata anak.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah merasa geregetan karena si kecil lebih betah menatap layar gadget berjam-jam ketimbang membuka buku cerita barunya? Banyak orang tua akhirnya hilang kesabaran lalu memaksa anaknya membaca. Hasilnya? Buku malah dibuang atau si anak menangis karena merasa tertekan.

Menciptakan "kutu buku" cilik memang tidak bisa dengan sistem kejar tayang, apalagi sekadar menyuruh "Ayo baca buku, kamu besok kan ujian!" Anak-anak butuh rasa senang, dan rasa senang itu harus dibangun perlahan lewat interaksi yang hangat. Menjawab keresahan harian ini, Alifia Raharja dari Komunitas Read Aloud Semarang membagikan rahasia psikologis ampuh agar anak otomatis kecanduan membaca tanpa perlu dipaksa. Yuk, bedah triknya!

1. Curi Start Lewat Kandungan dan Suara Orang Tua

Alifia Raharja dari Komunitas Read Aloud Semarang saat mengedukasi orangtua membantu anak cinta membaca buku di Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Siapa sangka menanamkan hobi membaca bisa dimulai jauh sebelum bayi bisa memegang buku? Ya, sejak dari dalam kandungan, kamu sudah bisa mempraktikkan metode read aloud (membacakan nyaring). Janin di dalam perut sangat menyukai dan mengenali suara ibunya.

Dari kebiasaan mendengar suara orang tua saat dibacakan cerita, anak akan merekam kesan yang menyenangkan. Mereka akan mengasosiasikan momen membaca buku sebagai waktu yang membahagiakan karena dihabiskan bersama orang tua. Jangan khawatir jika suaramu terdengar datar atau tidak semerdu pendongeng profesional. Bagi anak, suara orang tuanya adalah instrumen yang paling menenangkan dan selalu mereka sukai.

2. Jangan Cuma Baca Teks, Lakukan Interaksi Visual

Ilustrasi Anak Membaca Buku Dongeng (Unsplash/Ben Mullins)

Kesalahan terbesar saat membacakan buku pada balita adalah hanya membaca teks layaknya membaca berita. Anak-anak butuh stimulasi! Berhentilah sejenak, tunjuk gambar di halaman tersebut, dan ajak mereka berinteraksi.

Misalnya, saat ada gambar truk raksasa, pancing imajinasinya dengan bertanya: "Truk itu apa ya, Dek? Truk itu seperti apa ya?" Biarkan mereka merespons dengan antusias. Untuk bayi, cukup dengan permainan sederhana seperti cilukba di balik halaman atau mengenalkan warna terang seperti "Ini warna hijau, yuk Dek, hijau!" Cara ini efektif membangun kecintaan mereka pada buku lapis demi lapis.

3. Pilih Jenis Buku Sesuai Level Usia

Sejumlah buku yang dipamerkan di Big Bad Wolf 2026 di Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Mengenalkan buku juga ada seninya. Jika bayi langsung diberikan buku dengan fitur pop-up (timbul) atau kertas tipis biasa, dijamin usianya tak akan bertahan lama karena pasti ditarik dan sobek.

Untuk fase bayi, pastikan menggunakan Board Book yang tebal dan tahan banting. Ketika mereka beranjak menjadi toddler (balita), barulah kenalkan buku dengan fitur interaktif. Di fase ini pula, kamu harus mulai mengajarkan tata krama merawat buku. Ajari mereka cara membalik halaman dari kanan ke kiri dengan lembut, dan beritahu bahwa buku tidak boleh diinjak atau disobek.

4. Peran Magis Ayah dalam Membacakan Buku

ilustrasi ayah dan anak membaca buku (pexels.com/Timur Weber)

Sering kali tugas read aloud dibebankan pada para ibu yang mungkin sudah kelelahan mengurus rumah. Padahal, keterlibatan sosok Ayah membawa dampak magis yang sangat besar!

Ayah biasanya memiliki gaya ekspresi yang lebih teatrikal. Mereka tak ragu melakukan roleplay gila-gilaan—memakai selimut untuk jadi kelelawar, atau menirukan suara truk tronton yang menggelegar. Interaksi seru dengan Ayah ini bukan cuma bikin anak ketagihan dibacakan cerita, tapi secara klinis terbukti memperkaya perbendaharaan bahasa si kecil dan memperkuat ikatan emosional ( bonding ).

5. Tsundoku: Seni Menumpuk Buku Itu Baik!

Ilustrasi anak membaca buku bersama ibu (freepik.com/freepik)

Bagaimana jika kita terus-terusan membeli buku baru tapi belum sempat dibaca? Jangan merasa bersalah! Dalam budaya Jepang, ada istilah Tsundoku, yakni kebiasaan menumpuk buku.

Meskipun belum dibaca, memajang buku di berbagai sudut rumah—sehingga mudah terlihat dan dijangkau oleh anak—memberikan efek psikologis yang luar biasa. Tumpukan itu menanamkan "harapan" dan sugesti bahwa membaca adalah bagian dari kebiasaan keluarga. Jika sejak kecil anak dibesarkan di lingkungan yang dipenuhi buku, kelak di usia sekolah, mereka akan otomatis meraih buku tanpa perlu kita suruh-suruh lagi.

Sejumlah buku yang dipamerkan di Big Bad Wolf 2026 di Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Edukasi literasi ini relevan mengingat Kota Semarang akan segera menjadi tuan rumah pameran buku raksasa BBW 2026 yang akan digelar di The Suri Ballroom, Queen City Mall Semarang pada 9 hingga 19 Juli 2026 mendatang. Jutaan buku anak-anak, seperti board book (buku berbahan karton tebal) yang disarankan Alifia untuk usia bayi karena tidak mudah robek, akan tersedia secara masif di pameran.

Kehadiran akses buku berkualitas yang terjangkau diharapkan mampu mendukung langkah awal para orang tua menyediakan bahan bacaan visual yang interaktif bagi anak-anak mereka di rumah. Diharapkan kehadiran BBW Semarang 2026 bisa menjadi momentum berharga bagi keluarga untuk mulai membudayakan kebiasaan membaca nyaring di lingkungan keluarga.

"Buku itu kalau bisa dipajang di rumah. Walaupun menumpuk buku meskipun enggak dibaca, itu psikologi yang bagus karena pasti ada harapan di hati untuk mau membaca," pungkasnya.

ilustrasi ibu dan anak membaca buku (pexels.com/RDNE Stock project)

Menjadikan anak suka membaca bukanlah tentang mencetak anak jenius dalam semalam, melainkan tentang membangun fondasi kasih sayang lewat suara dan lembaran cerita. Saat anak sudah jatuh cinta pada suasananya, jangan kaget kalau suatu hari nanti mereka akan merengek menagih dibacakan 10 buku sebelum tidur.

Nah, dari sekian banyak judul buku anak di rak, cerita fabel atau dongeng apa nih yang paling sering di-request berulang kali sama si kecil di rumah? Yuk, bagikan judul buku andalan kamu di kolom komentar di bawah!

Editorial Team

Related Article