Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Santri Ponpes Sarang Rembang Rayakan Kelulusan Sambil Tanam Ketapang
Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen bersama para santri Ponpes Sarang Rembang menanam mangrove. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Rembang, IDN Times - Sebanyak 400 bibit mangrove serta 200 pohon ketapang mulai ditanam di Pantai Temperak Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang.

Sejumlah santri Ponpes Al Anwar 4 Sarang Rembang juga dilibatkan dalam penanaman mangrove dan ketapang tersebut untuk mengurangi dampak abrasi.

Salah satunya Konita Tunada. Santri yang mengikuti kegiatan itu mengaku senang bisa terlibat langsung dalam aksi pelestarian lingkungan bersama teman-temannya menjelang kelulusan.

"Seru sekali karena ini pengalaman baru. Bisa bareng-bareng sama teman satu angkatan. Ini juga bagian dari merayakan wisuda terakhir bersama teman-teman," ujarnya, Minggu (7/7/2026).

Selain mangrove, pihak ponpes juga mengajak santri menanam 50 pohon cemara di Pantai Temperak.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen turut menanam pepohonan penahan abrasi di Pantai Desa Temperak, Kecamatan Sarang.

Kegiatan dalam rangka untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia itu bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran ekologis para santri, sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap kelestarian pesisir.

"Kita mengajak semua pihak untuk lebih peduli terhadap lingkungan," katanya.

Gus Yasin, begitu ia akrab disapa mengatakan, kawasan pantai di Jawa Tengah menghadapi ancaman abrasi yang membutuhkan perhatian bersama. Karena itu, edukasi dan aksi nyata pelestarian lingkungan harus terus digalakkan, termasuk melalui pesantren.

"Pesisir Jawa Tengah banyak yang terkena abrasi. Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi kita menyelamatkan bibir-bibir pantai yang ada di Jawa Tengah," katanya.

Ia menjelaskan, gerakan penanaman tersebut juga menjadi bagian dari program Mageri Segoro yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Program itu tidak hanya berorientasi pada rehabilitasi kawasan pesisir, tetapi juga membangun budaya menjaga lingkungan di tengah masyarakat.

Karena itu, Pemprov Jateng mendorong lebih banyak pondok pesantren terlibat dalam gerakan serupa. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu lingkungan, sekaligus menjadi penggerak pelestarian alam di daerah masing-masing.

"Kita ajak bersama-sama mencintai lingkungan. Nanti pondok-pondok pesantren bisa berkolaborasi sehingga muncul kecintaan terhadap ekologi," ujarnya.

Semangat itu terlihat dari antusiasme para santri yang rela berpanas-panasan dan berjalan di area berlumpur untuk menanam bibit mangrove. Bagi sebagian peserta, kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertama yang memberi kesan mendalam.

Editorial Team

Related Article