Sejumlah Sapi Bergejala PMK Diobral Rp5 Juta di Pasar Hewan Jateng

Semarang, IDN Times - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Jawa Tengah menemukan fenomena panic buying yang dialami para peternak sapi di tengah merebaknya wabah penyakit kuku dan mulut (PMK). Beberapa hari terakhir terdapat sejumlah peternak sapi yang berduyun-duyun menjual sapi piarannya dengan harga sangat murah untuk menghindari dampak penularan PMK.
"Rata-rata di Jawa Tengah yang terkena penularan PMK yakni dari sapi pedaging atau sapi potong. Karena hewan tersebut sering dilalulintaskan antar pasar hewan. Contohnya kalau saat pasaran Pon tidak laku di Wonogiri, peternak kemudian membawa ternak sapinya ke Boyolali atau Sragen saat pasaran Wage," kata Pelaksana Tugas Kepala Disnak Keswan Jateng, Ignasius Haryanta Nugraha saat ditemui IDN Times di ruang kerjanya, lantai dua Kantor Disnak Keswan Jateng Kompleks Perkantoran Tarubudaya Ungaran, Rabu (8/1/2025).
1. Jumlah sapi terpapar PMK terus bertambah

Melalui data Isiknas yang rutin diinput petugas Disnak Keswan tiap kabupaten/kota, katanya, jumlah sapi yang terpapar PMK terus bertambah.
Par tanggal 7 Januari 2025 jumlah sapi terpapar PMK sebanyak 2.327 ekor atau bertambah dibanding hari sebelumnya. Sedangkan jumlah sapi yang terpaksa dipotong oleh peternak ada 20 ekor serta sapi mati akibat terpapar PMK sebanyak 56 ekor.
"Kebanyakan yang terindikasi tertular PMK jenisnya sapi hasil persilangan simental limosin," tuturnya.
2. Harga sapi anjlok sampai di bawah Rp5 juta

Maraknya penularan PMK, menurutnya juga mempengaruhi harga sapi di seluruh pasar hewan Jawa Tengah. Ia mengakui bila kini muncul kepanikan luar biasa dari para peternak sehingga terpaksa menjual sapi piarannya dengan harga sangat murah.
Dari pantauan pihaknya di pasar hewan Kabupaten Sragen, Sukoharjo dan Kabupaten Wonogiri, banyak peternak menjual sapi dibawah Rp5 juta. Padahal bila melihat harga normal untuk ukuran sapi simental usia muda sekitar Rp15 juta-Rp20 juta per ekor.
Hasil investigasi juga mendapati fakta bahwa kepanikan para peternak sapi karena ditakut-takuti oleh sejumlah blantik yang ada di tiap pasar hewan.
"Jadi kalau kita lihat harganya sapi sekarang bisa sampai di bawah Rp5 juta. Misal peternak bisa dijual Rp15 juta sampai Rp20 juta tapi karena panik maka buru-buru dijual dengan harga sangat murah. Karena kelihatan kena PMK langsung dijual ke pasar. Makanya ini menimbulkan kerugian cukup tinggi. Ini karena ketidaktahuan peternak itu. Lalu mungkin juga gara-gara ditakut-takuti sama blantik," terangnya.
3. Kerugian peternak hampir semiliar

Tak cuma itu saja, pihaknya memperkirakan akibat kepanikan yang dialami peternak membuat angka kerugian hampir menyentuh Rp1 miliar. Sebab dari total populasi sapi, kerbau, kambing, domba dan babi se-Jateng yang setara dengan nilai Rp20 triliun, sekitar 5 persen sudah tertular PMK.
"Untuk kerugian akibat PMK sudah ratusan juta. Ya hampir Rp1 miliar. Karena 5 persen dari total populasi hewan ternak di wilayah kami sudah kena PMK," terangnya.
4. Sapi terpapar PMK masih bisa disembuhkan

Untuk itu, sebagai pencegahan kerugian yang lebih besar, pihaknya sedang getol menyosialisasikan penanggulangan penularan PMK. Pihaknya menegaskan jika sapi yang tertular PMK masih bisa disembuhkan dengan ketelatenan para peternak.
Apabila ditemukan sapi dengan kondisi lidah menjulur dan mulut berliur, peternak disarankan supaya cepat mengobati dengan meminta vaksin ke dinas peternakan terdekat. Lalu dengan kondisi sapi sudah ndeprok dengan kuku mengelupas, pihaknya menyarankan sebaiknya disembuhkan dengan diberi makanan lunak.
"Padahal PMK masih bisa disembuhkan. Kecuali kalau kukunya lepas, sudah ndeprok dan mulutnya berliur itu juga bisa disembuhkan kalau peternaknya telaten. Caranya bisa dengan dilolohkan dengan makanan lunak. Jadi PMK ini bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan," tutur Haryanta.


















