Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sekolah Rakyat Merubah Perilaku Inayah: Menjadi Candu Membaca Buku
Inayah tersenyum saat menunjukan ruang kamarnya di blok asrama putri Sekolah Rakyat Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Sekolah Rakyat Semarang menampung siswa dari keluarga kurang mampu dengan sistem asrama dan kurikulum terpadu, bertujuan membentuk kemandirian serta meningkatkan taraf hidup mereka.
  • Inayah Wati, siswi kelas XI, memilih tetap di asrama saat liburan karena merasa nyaman belajar mandiri dan menemukan kebiasaan baru membaca buku untuk mengisi waktu luang.
  • Pihak sekolah menerapkan pendekatan disiplin, keterampilan hidup, serta dukungan emosional bagi siswa agar betah di asrama dan terus semangat belajar meski jauh dari keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Di penghujung bulan Juni 2026, suasana Sekolah Rakyat di Jalan Brigjen Sudiarto Kecamatan Pedurungan Semarang, tampak lengang. 

Kelas-kelas kosong melompong. Kamar-kamar asrama pun sepi ditinggal penghuninya. 

Setelah sembilan bulan lamanya mengenyam pendidikan setingkat SD dan SMA, mayoritas siswa-siswi Sekolah Rakyat di lokasi tersebut memang sedang menikmati masa liburan sekolah dengan kembali ke rumah masing-masing. 

Namun dari sekian banyak siswa-siswi yang menikmati liburan ke rumah, masih ada tiga siswa yang memilih bertahan di asrama Sekolah Rakyat. 

Berdasarkan pengakuan pengelola Sekolah Rakyat Semarang, tiga siswa itu memutuskan tinggal di asrama saat libur panjang lantaran terkendala tempat tinggal. 

"Jadi rata-rata siswa di sini sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi ada juga siswa memilih menetap di asrama karena mengalami keterbatasan tempat tinggal," kata Aris Nur, seorang guru di Sekolah Rakyat Semarang saat ditemui IDN Times, Selasa (30/7/2026). 

Melahap banyak buku demi mengusir penat

Inayah berpose di depan papan informasi tata tertib Asrama Sekolah Rakyat Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Salah satu siswa yang betah tinggal di asrama Sekolah Rakyat Semarang ialah Inayah Wati. Siswi kelas XI SMA Sekolah Rakyat Semarang ini memilih tidak liburan ke rumah karena suasana asrama yang ia rasakan selama ini sangat berbeda. 

Kehidupan di dalam asrama yang nyaman membuatnya leluasa beraktivitas. Terutama bisa belajar mandiri. 

"Suasana di sini berbeda gak kayak di rumah. Terus apa-apa bisa mandiri," kata dara berusia 17 tahun tersebut ketika berbincang dengan IDN Times.

Selama belajar di Sekolah Rakyat Semarang, Inayah dan teman-teman seangkatannya rutin masuk kelas jam 07.00 WIB pagi sampai selesai jam 16.00 WIB sore. 

Layaknya siswa pada umumnya, Inayah juga memperoleh materi pelajaran sesuai kurikulum Dapodik yang disusun Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Praktis, tiap hari ia menyerap pelajaran matematika, sosiologi, biologi, informatika, IPA dan IPS. 

Di sela belajar di ruang kelas, Inayah cenderung menyukai ekstrakurikuler seni musik. "Saya dari dulu sukanya nyanyi," ujar Inayah. 

Tak cuma itu saja, semenjak mengikuti program pembelajaran terpadu di Sekolah Rakyat Semarang mulai September 2025 hingga sekarang, Inayah memetik banyak pelajaran. 

Sikap kedisiplinan menjadi perubahan mendasar yang ia rasakan di dalam asrama. Selain itu, Inayah juga punya banyak waktu senggang untuk merasakan nikmatnya membaca buku. 

Dengan melahap banyak buku, Inayah mampu menghilangkan penat dari rutinitas sekolahnya. Baginya, membaca buku lebih enak ketimbang memandang layar gadget. 

Rutinitas membaca buku juga jadi kebiasaan barunya selama mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat. Tentu rutinitas ini tak pernah Inayah rasakan kala tinggal di rumahnya, kawasan Semarang Timur yang berdempetan dan penuh sesak. 

"Biar gak bosen, sekarang sering baca buku, jogging dan olahraga," akunya. 

Belajar mengasah keterampilan dan disiplin

Seorang guru memeriksa kondisi ruang kamar di Asrama Sekolah Rakyat Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Selain itu, Sekolah Rakyat juga mengajarkannya tentang pentingnya mengasah keterampilan. Dan sebagai perempuan, ia juga berkesempatan belajar bersolek. 

"Di sini banyak belajar disiplin, keterampilan, mandiri dan bisa belajar merawat diri," sambungnya. 

Sekolah Rakyat Semarang menjadi salah satu Sekolah Rakyat rintisan yang dibangun Kementerian Sosial (Kemensos) bersama lintas kementerian lainnya. Lokasi Sekolah Rakyat Semarang yang berada di kompleks gedung Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Jalan Majapahit, mampu menampung 100 siswa untuk angkatan pertama. 

Seratus siswa tersebut terbagi dalam dua rombel SD dan dua rombel SMA. Prosentasenya ada 60 siswa dan 40 siswi. Siswa-siswi menghuni asrama yang menyediakan 20 kamar tidur. Masing-masing kamar tersedia delapan kasur. 

"Kami punya 19 guru. Rinciannya tiga guru SD, sisanya guru SMA," kata Kepala Sekolah Rakyat Semarang, Ridho Irwanto kepada IDN Times secara terpisah. 

Melepas rindu dengan memanjatkan doa bagi sang ibu

Seorang guru membetulkan papan informasi yang tertera di blok asrama putri Sekolah Rakyat Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Diakuinya saat awal-awal beroperasi, ada sejumlah siswa-siswi yang tidak betah karena kangen suasana rumah alias homesick. 

Maka pihaknya kerap menempuh tindakan preventif untuk menghindari kejadian tersebut. Sebagai contoh, bagi siswa yang kedapatan kabur, ia memilih jemput bola dengan menyambangi rumah si anak. Kemudian membujuk siswa agar kembali ke asrama. 

Selanjutnya pihaknya juga berinovasi dengan menyediakan telepon agar dapat digunakan siswa menghubungi orang tua pada hari-hari tertentu. "Terus kita juga buka jam kunjungan. Biar siswa bisa melepas rindu dengan bertemu orang tuanya," kata Ridho. 

Seperti yang dilakukan Inayah, untuk melepas rasa kangen, ia senantiasa terus-menerus memanjatkan doa. 

Doa-doa yang ia langitkan supaya Allah SWT selalu memberikan keselamatan bagi orang tuanya. "Saya berdoa semoga Allah selalu menjaga ibu," akunya. 

Sedangkan untuk membangkitkan minat belajar para siswa, para guru Sekolah Rakyat kerap berkreasi serta memodifikasi model pembelajaran. Tujuanya agar siswa tidak gampang jenuh. 

Terkadang pihaknya menghadirkan para narasumber untuk menambah semangat para siswa. 

Ia berharap keberadaan Sekolah Rakyat Semarang mampu merubah perekonomian keluarga miskin. Sekaligus merubah karakter anak miskin dan menaikan derajat orang tuanya. 

Editorial Team

Related Article