Semarang, IDN Times -Sejumlah warga Kabupaten Pati dihadirkan dalam sidang lanjutan kasus pemerasan Pilkades dengan terdakwa Bupati Pati non aktif, Sudewo.
Terdapat empat saksi yang dihadirkan oleh majelis hakim. Antara lain Sumindar, perangkat Desa Sidoluhur Kecamatan Jaken sekaligus Plt Sekdes, Sudardi, perangkat Desa Sidoluhur, Joko Lastari perangkat Desa Sidoluhur, Suryanto perangkat Desa Sidoluhur dan seorang ibu rumah tangga dari Desa Sidoluhur bernama Ria Erlita Sari.
Dalam sidang lanjutan keterangan saksi yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Tipikor Semarang, Edwin Pudyono Marwiyanto ini, keempat saksi dimintai keterangan bergiliran.
Jaksa mula-mula memperkenalkan Joko Lastari sebagai perangkat Desa Sidoluhur. Berulang kali JPU mencecar berbagai pertanyaan kepada Joko seputar pelaksanaan Pilkades Pati.
Di muka sidang, Joko bilang bahwa dirinya diminta menyerahkan uang sebanyak Rp165 juta untuk keperluan seleksi jabatan perangkat Desa Sidoluhur. "Setelah diminta menyerahkan uang sekitar Rp165 juta dan KTP, ya saya langsung mencari (sumber) uang," ujar Joko, Senin (10/8/2026).
Ia memilih mengikuti seleksi jabatan perangkat desa karena diberitahu Kades Sidoluhur Sudardi yang tak lain sepupunya.
Ia meminjam uang kepada Sudardi untuk keperluan seleksi jabatan tersebut. "Saya dikasih uang. Tapi harus menjaminkan tanah 7x7 meter. Cuma belum ada sertifikatnya," paparnya.
"Jadi bapak sampai gadaikan tanah ya?," tanya jaksa.
"Iya Pak," akunya.
"Singkat ceritanya pada akhirnya langsung dapat uang Rp165 juta," tanya jaksa lagi menegaskan.
"Iya pak. Saya ke rumahnya Pak Sudardi. Pagi tanggal 17 dapat uang. Buat dapat (jabatan) kasi perencanaan. Ketika itu Pak Sudardi tidak menyampaikan apa-apa," ungkapnya.
Selain Joko, tiga saksi lainnya juga bergantian memberikan pengakuan adanya permintaan uang untuk seleksi jabatan perangkat desa.
Para saksi mengakui harus menjual tanah hingga menggadaikan emas agar keinginannya jadi perangkat desa terwujud.
Hanya saja, menurut mereka pihak panitia seleksi tak pernah memberitahukan berapa gaji yang akan mereka terima. "Kepada Pak Joko, Pak Suriyah, Bu Ria kenapa begitu rela gadaikan emas tanah dan menjual rumah demi mendapatkan jabatan perangkat desa di Sidoluhur," tanya jaksa.
"Saya tidak tahu (gajinya). Mengembalikan (uang) juga gak tahu caranya," sahut Joko.
Ria Erlita juga berkata dirinya tak tahu berapa gajinya kalau lolos seleksi jabatan perangkat desa. Soal perhiasan emas yang kadung ia gadaikan, Ria mengatakan tidak enak hati dengan suaminya.
"Orang tua sampai sekarang belum meminta ganti emasnya. Tapi saya gak enak sama suami. Ya kalau ada rejeki akan dikembalikan sedikit-sedikit. Saya gak tahu akan dikembalikan gimana. Saya kepenginnya kerja di desa gitu," terangnya.
