Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Solidaritas Untuk Siswa Korban Penembakan di Semarang: Kecam Narasi Polisi
Doa bersama untuk almarhum GRO siswa SMKN 4 Semarang yang meninggal ditembak polisi. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Siswa dan alumni SMKN 4 Semarang gelar aksi solidaritas terkait penembakan siswa kelas XII berinisial GRO
  • Alumni dan teman seangkatan korban tidak percaya narasi Polrestabes bahwa korban merupakan anggota gangster, melainkan berprestasi dan berperilaku baik
  • Korban aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler Paskibraka, latihan pencak silat, tidak pernah membolos, dan dikenal sebagai sosok yang ceria
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Sejumlah siswa-siswi dan alumni SMKN 4 Semarang menggelar aksi solidaritas untuk meningkatkan kepedulian terhadap kasus penembakan yang menewaskan siswa kelas XII berinisial GRO. 

Aksi solidaritas dilakukan dengan memanjatkan doa bersama serta menyalakan lilin tepat di gerbang SMKN 4 Semarang, Jumat (29/11/2024). 

1. Teman korban gak percaya kabar gengster

Ekshumasi makam GRO siswa SMKN 4 Semarang yang meninggal ditembak polisi. (IDN Times/Bandot Arywono)

Belva, seorang teman seangkatan korban tak percaya begitu saja dengan narasi yang dibangun Polrestabes Semarang bahwa korban merupakan anggota gangster. 

Justru yang ia tahu selama ini korban berperilaku baik. Bahkan cenderung berprestasi. 

Ia mencontohkan bahwa korban kerap mendulang prestasi selama aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler Paskibraka. 

"Menurut saya Gamma orangnya baik. Cuma kalo di sekolah fokus ikut ekstrakulikuler. Paskibraka dan berprestasi. Jadi kabar gengster itu gak percaya," kata Belva. 

2. Korban aktif di Paskibraka

Polda Jateng bongkar makam siswa SMK 4 Semarang yang ditembak Polisi. (IDN Times/Larasati Rey)

Di samping itu, Belva juga melihat aktivitas korban yang cukup padat. Selain ikut Paskibraka, korban juga aktif mengikuti latihan pencak silat. 

Di lingkungan sekolahan, korban juga dikenal tidak pernah membolos. "Paling dispen ikut lomba-lomba. Ikut pencak silat juga," akunya. 

Belva menganggap korban sosok yang ceria. Saat di sekolah pun korban supel. Sering mengajak main teman sepermainannya. 

"Juga sering ngajak main gitu. kadang sering beliin makan. Gak pernah neko-neko orangnya," tambahnya. 

Ia pun meminta Polrestabes Semarang memperlihatkan semua bukti yang selama ini disembunyikan. Sebaiknya polisi segera mengusut kasus penembakan yang menewaskan korban dengan tuntas. 

3. Sesalkan narasi polisi

Direskrimum Polda Jateng Kombes Pol Dwi Subagio, Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Irwan Anwar dan jajarannya saat gelar di markasnya. (IDN Times/Dok Polda Jateng)

Sedangkan para alumni SMKN 4 Semarang kaget saat tahu ada siswa yang ditembak polisi. Seperti yang disampaikan Ryan Tama, seorang alumni SMKN 4 Semarang bila dirinya juga menyesalkan kejadian tersebut. 

"Kami sangat menyayangkan narasi yang dilempar pihak kepolisian. Apa yg terjadi hari ini itu bak bola salju. Ibarat kata, selalu ada bumbu-bumbu yang di dalamnya dibesar-besarkan. Almarhum ini pribadi cukup baik, berprestasi, tidak pernah neko-neko, istilah kenakalan remaja itu sangat jauh dari kepribadian beliau," ungkapnya. 

"Kami masih berharap pihak kepolisian mengusut kasus ini secara tuntas. Karena saya membayangkan bagaimana kondisi keluarga, bagaimana teman-teman sekelas yang tahu dia seperti apa," tambahnya. 

4. Aksi solidaritas sebagai bentuk keprihatinan

Direktur LBH Petir, Zainal Abidin Petir bersama para siswa SMKN 4 Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Dirinya bersama para alumni SMKN 4 Semarang memang datang untuk doa bersama sebagai bentuk keprihatinan. Tidak ada tendensi. Apalagi kepentingan lain. 

"Selain mengungkapkan rasa belasungkawa, semoga kasus ini bisa diusut tuntas," terangnya. 

Editorial Team

Related Article