Semarang, IDN Times - Wakil Menteri Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Negara (ATR/BPN) Ossy Dermawan menyebut masih banyak aktivitas alih fungsi lahan yang terjadi sampai saat ini.
Menurutnya alih fungsi lahan terjadi karena banyak pihak melakukan penyalahgunaan data Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) yang berdampak terhadap kelangsungan pembangunan masing-masing kabupaten/kota.
Ia mencontohkan tindakan yang dilakukan oknum-oknum di lapangan ialah tidak memasukan data lahan sawah yang dilindungi (LSD) ke dalam database KP2B.
"Alih fungsi lahan masih dilakukan dengan masif. Ada yang masuk lahan sawah tapi tidak masuk KP2B. Ini yang ingin kita perbaiki. Ada bidang tercatat sebagai sawah tapi di lokasi tidak berupa sawah. Maka dari itu, kita ingin ada data lahan sawah yang konsisten di seluruh provinsi. Untuk Jawa Tengah sendiri, kami melihat data KP2B yang masuk sudah mencapai 80 persen. Kurang sedikit lagi sesuai yang ditargetkan pemerintah pusat yaitu 87 persen," ujar Ossy saat memaparkan capaian data KP2B di hadapan walikota/bupati dalam forum rembug penanganan alih fungsi lahan di Gumaya Tower Semarang, Kamis (4/7/2026).
