Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tahun Ajaran Baru SDN Tumenggungan Solo Hanya Ada 1 Murid Baru
PPDB SD TA 2022/2023, SDN Bongsren hanya dapat 8 siswa baru. (IDN Times/Daruwaskita)

Surakarta, IDN Times - SDN Tumenggungan Surakarta memulai tahun ajaran dengan hanya satu siswa baru pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2023/2024.

Salah satu penyebab sekolah ini hanya mendapatkan satu orang murid pada penerimaan siswa baru tahun ini zonasi sekolah.

1. Zonasi SDN Tumenggungan jauh dari perkampungan

Sejumlah murid sekolah dasar (SD) mengantre sebelum mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 oleh prajurit Korps Wanita TNI AL (Kowal) saat serbuan vaksin di Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah di Rorotan, Jakarta, Senin (3/1/2022) (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Menurut Kepala Sekolah SDN Tumenggungan Solo, Leily Maria satu-satunya siswa yang mendaftar yakni lewat offline. "Akhirnya siswa kami satu, ini yang lewat offline," kata Kepala Sekolah Leily Maria di Solo, Senin, (17/7/2023).

Leily mengatakan secara zonasi SDN tumenggungan memang jauh dari perkampungan sehingga memungkinkan sekolah yang berada di Kecamatan Banjarsari ini kesulitan memperoleh siswa baru dari jalur zonasi.

"Sekolah kami jauh dari perkampungan, bisa dilihat lingkungan sekitar kondisinya seperti apa," katanya.

2. Tahun lalu juga hanya dapat 5 murid yang mendaftar

Murid SD di Balikpapan mengikuti simulasi pembelajaran tatap muka (IDN Times/Fatmawati)

Dikatakan Leily sedikitnya jumlah siswa baru yang diterima oleh sekolah tersebut bukan pertama kali terjadi. Ia mengatakan tahun lalu jumlah siswa baru ada sebanyak lima anak. "Saat ini total siswa kami ada 54 siswa," katanya.

3. Kegiatan belajar mengajar bakal kolaborasi siswa kelas 1 dan 2

Ilustrasi siswa SD.ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah

Sementara itu, untuk memastikan siswa tidak merasa sendiri saat mengikuti kegiatan belajar mengajar, nantinya akan ada kolaborasi antara guru siswa kelas 1 dan kelas 2.

"Di kurikulum merdeka kan ada fase A dan fase B. Guru kelas satu kolaborasi dengan guru kelas dua supaya anak tidak merasa sendirian. Jadi pandai-pandainya guru melakukan kegiatan dengan siswa," katanya. Sebelumnya, awalnya sekolah tersebut memperoleh dua peserta didik namun satu siswa di antaranya mengundurkan diri sehingga hanya ada satu siswa dari jalur offline.

Editorial Team

Related Article