Semarang, IDN Times – Mengenakan toga lengkap dan didampingi keluarga, sebanyak 22 perempuan lanjut usia (lansia) di Kota Semarang mengikuti prosesi wisuda layaknya mahasiswa pada umumnya. Mereka bukan lulusan perguruan tinggi, melainkan wisudawati angkatan pertama Sekolah Lansia Salimah (SALSA) yang telah menuntaskan pendidikan nonformal selama satu tahun.
Tak Ada Kata Terlambat Belajar, 22 Warga Semarang Lulus Sekolah Lansia

1. Wujudkan pendidikan sepanjang hayat
Wisuda yang digelar di Aula Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Selasa (21/7/2026), itu menjadi simbol bahwa belajar tidak dibatasi usia. Para lansia tersebut berasal dari Sekolah Lansia Salimah Kecamatan Tembalang dan Banyumanik yang sejak 2025 mengikuti berbagai materi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas hidup di usia senja.
Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Moh. Agus Junaidi mengatakan, kehadiran sekolah lansia menjadi bagian dari upaya mewujudkan pendidikan sepanjang hayat sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lanjut usia.
“Program seperti Sekolah Lansia Salimah sangat sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat lanjut usia agar tetap sehat, aktif, mandiri, dan produktif,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, pendidikan bagi lansia tidak hanya berorientasi pada penambahan pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang sosial yang penting untuk menjaga kesehatan mental para peserta. Melalui aktivitas belajar bersama, para lansia tetap dapat berinteraksi, saling mendukung, dan terhindar dari rasa kesepian yang kerap menjadi tantangan pada usia lanjut.
2. Peserta mendapat materi sesuai kebutuhan lansia
Selama satu tahun pembelajaran, peserta mendapatkan berbagai materi yang dirancang sesuai kebutuhan lansia. Mulai dari pendidikan keagamaan, kesehatan, psikologi, keterampilan sosial, pengelolaan keuangan keluarga, pemanfaatan teknologi digital, hingga senam ramah lansia.
Agus menegaskan, Pemerintah Kota Semarang membuka peluang kolaborasi dengan berbagai organisasi masyarakat untuk memperluas program pemberdayaan sosial, termasuk bagi lansia dan penyandang disabilitas.
“Melalui kolaborasi pemerintah dan organisasi masyarakat, diharapkan semakin banyak lansia mendapatkan kesempatan belajar dan meningkatkan kualitas hidup,” katanya.
Ketua Pengurus Daerah Salimah Kota Semarang, Farida menyampaikan, bahwa wisuda perdana ini menjadi tonggak penting sejak Sekolah Lansia Salimah Kota Semarang resmi dibuka pada 2025. Lebih dari sekadar seremoni, wisuda merupakan bentuk apresiasi terhadap semangat para lansia yang tetap antusias menuntut ilmu.
3. Sekolah Lansia Salimah diikuti 10 ribu peserta
“Belajar tidak mengenal batas usia. Kami berharap para lulusan SALSA tetap menjadi pribadi yang aktif, sehat, mandiri, dan terus memberikan manfaat bagi keluarga maupun masyarakat,” ujarnya.
Prosesi wisuda berlangsung khidmat dengan rangkaian acara yang tak berbeda dari wisuda perguruan tinggi. Para wisudawati memasuki ruangan mengenakan toga, menerima penyematan samir, melakukan pemindahan tali toga, menerima piagam kelulusan, hingga mengabadikan momen bersama keluarga.
Suasana haru tampak saat para anggota keluarga memberikan apresiasi kepada para wisudawati. Tak sedikit yang mengabadikan momen tersebut sebagai pencapaian baru di usia yang tidak lagi muda.
Sementara secara nasional, program Sekolah Lansia Salimah telah diikuti lebih dari 10.000 peserta yang tersebar di 37 provinsi serta 406 kabupaten dan kota di Indonesia. Untuk Kota Semarang, keberhasilan wisuda angkatan pertama diharapkan menjadi momentum untuk memperluas akses pendidikan bagi lansia.