Tanah Merayap Perlahan-lahan, Mengenal Fenomena Creeping di Tegal

- Tanah lempung merayap karena sensitif terhadap air, berbeda dengan likuifaksi
- 2.453 jiwa terpaksa meninggalkan rumah akibat fenomena creeping di Tegal
- 2.453 pengungsi tersebar di delapan lokasi aman, termasuk sekolah dan pondok pesantren
- Pemerintah Jawa Tengah sedang menyiapkan relokasi tetapi memastikan keamanannya terlebih dahulu
Semarang, IDN Times – Desa Padasari di Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, kini sedang berjuang menghadapi fenomena alam yang mengancam pemukiman warga. Hasil investigasi tim geologi memastikan bahwa bencana tanah bergerak di wilayah tersebut dipicu oleh fenomena creeping atau rayapan tanah.
Hingga awal pekan ini, situasi dilaporkan masih aktif. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (8/2/2026), jumlah warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka terus membengkak hingga mencapai 2.453 jiwa.
1. Saat tanah lempung "Merayap"

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Agus Sugiharto, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena karakteristik tanah lempung (clay) yang sangat sensitif terhadap air.
"Hasil kajian menunjukkan ini adalah creeping. Lapisan tanahnya berjenis lempung, sehingga saat terkena air, tanah tersebut merayap perlahan-lahan," jelas Agus Senin (9/2/2026).
Agus mengatakan fenomena creeping berbeda dengan likuifaksi. Ia menggarisbawahi perbedaan signifikan antara kedua fenomena ini. Creeping terjadi di lahan yang memiliki kemiringan. Gerakannya lambat namun konsisten merusak struktur bangunan.
Sedangkan likuifaksi terjadi karena guncangan pada struktur tanah jenuh air dan bisa terjadi di lahan yang datar sekalipun. Fenomena serupa yakni creeping diketahui juga pernah melanda wilayah Watukumpul (Pemalang) dan Simo (Boyolali).
2. Kondisi pengungsi ribuan jiwa di delapan titik

Angka pengungsian yang menembus 2.000 jiwa ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, merinci bahwa dari total 2.453 pengungsi, terdapat banyak kelompok rentan yang membutuhkan perhatian ekstra yakni lansia sebanyak 220 jiwa, anak-anak dan Balita sebanyak 219 jiwa, batita 65 jiwa, ibu hamil dan menyusui sebanyak 6 jiwa
Para warga kini tersebar di delapan lokasi aman, termasuk SD Negeri 2 Padasari, Pondok Pesantren Dawuhan, hingga beberapa gedung serbaguna desa setempat.
3. Rencana Relokasi: Masih dalam Kajian Ketat

Menyadari pemukiman lama sudah tidak layak huni, pemerintah mulai melirik lahan milik Perhutani di Tegal sebagai opsi relokasi. Namun, Agus Sugiharto menegaskan proses ini tidak boleh dilakukan terburu-buru.
"Kami sedang menyiapkan dua lokasi cadangan untuk hunian tetap. Namun, kajian detail dan menyeluruh tetap harus dilakukan. Tujuannya satu: memastikan lokasi baru benar-benar aman agar bencana serupa tidak terulang di masa depan," tegasnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen untuk terus memantau pergerakan tanah dan memastikan kebutuhan dasar para pengungsi di Jatinegara tetap terpenuhi selama masa transisi ini.















