Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tradisi Syawalan Berburu Kupat Jembut di Semarang, Jadi Rebutan Warga

Tradisi Syawalan Berburu Kupat Jembut di Semarang, Jadi Rebutan Warga
Warga Kampung Jaten Cilik dan di Pedurungan Tengah II, RW 1, Kelurahan Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah merayakan tradisi Syawalan berbagi kupat jembut. (IDN Times/bt)
Intinya Sih
  • Tradisi Syawalan berburu kupat jembut di Kampung Jaten Cilik, Semarang, disambut antusias warga setiap tahun sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur.
  • Ketupat jembut dibuat dengan membelah ketupat lalu diisi sayur gudangan, melambangkan berakhirnya masa saling bermaafan setelah Idulfitri.
  • Tradisi ini lahir pasca Perang Dunia Kedua dari masa sulit warga dan terus berkembang hingga kini sebagai simbol kesederhanaan dan kebersamaan masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Semarang, IDN Times - Keunikan tradisi di masyarakat selalu menarik untuk dinanti. Seperti tradisi berburu kupat jembut di Kota Semarang yang selalu hadir pada bulan Syawal atau sepekan setelah Lebaran.

1. Tradisi Syawalan disambut antusias warga

Kupat jembut, tradisi syawalan
Warga Kampung Jaten Cilik dan di Pedurungan Tengah II, RW 1, Kelurahan Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah merayakan tradisi Syawalan berbagi kupat jembut. (IDN Times/bt)

Warga Kampung Jaten Cilik dan di Pedurungan Tengah II, RW 1, Kelurahan Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah, selalu menyambut tradisi Syawalan ini dengan antusias. 

Tidak hanya warga yang ingin mendapatkan kupat jembut, tetapi juga mereka yang melestarikan dan setia memasak hidangan tersebut di setiap bulan Syawal.

Seperti Djuleika, perempuan berusia 71 tahun itu selalu menyiapkan kupat jembut di setiap bulan Syawal. Sebanyak ratusan kupat jembut yang ia masak, kemudian ia bagikan kepada warga yang hadir untuk berebut mendapatkan makanan khas itu.

“Ini adalah warisan nenek moyang yang harus dijaga. Harapannya setiap tahun sampai seterusnya tradisi ini tetap ada,” tuturnya. 

2. Ketupat diisi sayur gudangan

Kupat jembut, tradisi syawalan
Warga Kampung Jaten Cilik dan di Pedurungan Tengah II, RW 1, Kelurahan Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah merayakan tradisi Syawalan berbagi kupat jembut. (IDN Times/bt)

Adapun, ketupat jembut adalah hidangan ketupat yang disajikan dengan dibelah, lalu diisi sayur gudangan atau urap seperti tauge dan bumbu kelapa. 

‘’Masaknya seperti bumbu gudangan, dicampur tauge, lalu dimasukkan ke ketupat yang sudah dibelah. Bentuk sayur yang menyembul keluar dari permukaan ketupat dan terlihat tidak beraturan, warga kemudian menyebutnya sebagai kupat m jembut,’’ ujarnya Djuleika.

Penyebutan nama makanan tersebut sudah ada sejak lama dan berkembang turun-temurun. 

Tokoh agama di Kampung Jaten Cilik, Munawir menuturkan, ketupat yang dibelah dua memiliki filosofi mendalam, yakni sebagai simbol dilepaskannya jabat tangan setelah saling bermaaf-maafan saat Idulfitri. 

3. Tanda jabatan tangan sudah dilepas

Kupat jembut, tradisi syawalan
Warga Kampung Jaten Cilik dan di Pedurungan Tengah II, RW 1, Kelurahan Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah merayakan tradisi Syawalan berbagi kupat jembut. (IDN Times/bt)

‘’Ketupat dibelah sebagai tanda jabatan tangan sudah dilepas. Artinya Lebaran sudah selesai dan warga kembali beraktivitas seperti biasa,’’ katanya.

Menurut dia, tradisi tersebut sudah ada sejak setelah Perang Dunia Kedua. Saat itu warga Kampung Jaten pulang dari pengungsian di Purwodadi, Gubug, dan Mranggen dalam kondisi serba sulit. Warga lalu membuat ketupat seadanya, dibelah, lalu diisi sayur yang ada. 

Dari kesederhanaan itulah, tradisi Kupat Jembut lahir dan bertahan hingga saat ini. Tradisi itu ikut berkembang. Pada tahun 1960–1970-an, warga tidak hanya membagikan ketupat, tetapi juga mercon. 

Memasuki tahun 1980–1990-an, ketupat mulai diisi uang. Kini, sebagian besar yang dibagikan adalah uang, sementara kupat menjadi simbol tradisi.

4. Lahir dari masa sulit dan serba kekurangan

Kupat jembut, tradisi syawalan
Warga Kampung Jaten Cilik dan di Pedurungan Tengah II, RW 1, Kelurahan Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah merayakan tradisi Syawalan berbagi kupat jembut. (IDN Times/bt)

Tradisi Kupat Jembut yang lahir dari masa sulit dan serba kekurangan itu bentuk dari kesederhanaan yang bertahan puluhan tahun. Tradisi yang menjadi penanda bahwa Lebaran telah usai, maaf telah diberikan, dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa

Setiap tahun, anak-anak selalu menunggu dan mengikuti tradisi tersebut. Dari usai Subuh di Kampung Jaten Cilik, selalu ramai setiap Syawalan warga berebut kupat jembut.

Anak-anak membawa kantong plastik, orang dewasa menenteng bungkusan, sebagian lainnya membawa gepokan uang kertas pecahan kecil. Begitulah tradisi turun-temurun bernama kupat jembut yang masih lestari hingga saat ini.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More